Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
81


__ADS_3

Adapun Lisandra, dia duduk di sana dengan tenang, menikmati piring buahnya.


...........................


Setelah Logan kembali dari lantai dansa, Luis berbicara dengannya sebentar dan bersikeras untuk pergi bersama Lisandra.


Tiba-tiba, Keysia mengeluarkan ponselnya dan menyarankan, "Biarkan saya mengundang Anda ke grup WhatsApp agar lebih mudah bagi kita untuk berkomunikasi."


"Tentu." Setelah mengangguk setuju, Luis mengeluarkan ponselnya dan bertukar nomor dengan Daplme. Kemudian, dia meregangkan tubuhnya dan meninggalkan bar.


Lisandra, yang mengikuti di belakangnya dengan malu-malu, tiba-tiba bertanya karena penasaran, "Luis, apakah wanita itu pacarmu? Dia terlihat sangat cantik, tapi dia tampak sedikit lebih tua darimu."


Pada pandangan pertama, Keysia tampak seperti berusia pertengahan 20-an. Meskipun demikian, sebagai seorang wanita, Lisandra lebih sensitif tentang usia seorang wanita. Berdasarkan pengamatannya, Keysia seharusnya berusia lebih dari 30 tahun.


Mengingat bahwa sepupunya telah mengalami perubahan drastis, Lisandra curiga kalau Keysia adalah sugar mommy Luis.


"Aku setuju bahwa wanita tadi cantik dan kaya, tapi menurutku kamu sebaiknya ..."


"Omong kosong apa yang kamu pikirkan?" Luis menyela, meletakkan jarinya di dahi Lisandra. "Jika kamu punya waktu untuk berimajinasi tentang hidupku, kenapa tidak menggunakan waktu dan energimu untuk belajar?"


“Menurutku tidak ada gunanya belajar. Setelah lulus, aku masih harus bekerja seperti yang lain, bukan?" Lisandra melompat dengan gembira. "Suatu hari, jika aku bisa menjadi bos gangster dan menuliki banyak anggota geng ..."


"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi." Luis memutar matanya.


"Apa dia pikir hidup ini seperti yang ada di film? Apa dia tidak tahu polisi terus memburu anggota geng? Dia bisa berakhir di penjara jika seseorang melaporkannya," pikirnya.


Dengan kesal Lisandra membalas, "Luis, kamu tidak boleh memandang rendah anggota geng. Ketika pemiimpin geng yang terkenal bersin, Malatam langsung masuk angin!"


"Aku akan memercayai perkataanmu, kalau saja aku tidak tahu ada banyak dari mereka yang mendekam dalam penjara," kata Luis sambil melambaikan tangannya. "Kamu harus berhenti bergaul dengan orang-orang itu. Kalau aku melihatmu bersama mereka lagi, aku tidak akan berbaik hati."


"Mereka itu temanku." Gadis itu mengerutkan kening.


"Tidak bisakah kamu melihat bahwa mereka mempermainkanmu?" Luis menghentikan langkahnya, berbalik, dan menatap Lisandra.

__ADS_1


"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padamu jika kamu terus bergaul dengan mereka. Kamu beruntung aku ada di sana tadi. Apa kamu pikir kamu akan selalu beruntung seperti ini?" Luis memperingatkan dengan dingin.


"Luis ..." Lisandra mengangkat kepala dan menatapnya, emosinya bercampur aduk.


"Baiklah, aku akan berhenti. Kamu bukan anak kecil lagi, jadi kupikir kamu harus belajar memikirkan semuanya," kata Luis sambil menepuk kepalanya. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Luis memanggil taksi untuk mereka berdua.


Di dalam taksi, Lisandra tiba-tiba memecah kesunyian. "Larry berasal dari keluarga kaya. Aku dengar ayahnya adalah seorang jutawan dan memiliki latar belakang yang kuat."


Dia khawatir insiden tadi akan membawa masalah bagi Luis.


Sedangkan Larry dan yang lainnya, dia tahu mereka bisa menjadi pengganggu di sekolah karena keluarga mereka kaya dan berkuasa.


Jika tidak, keluarga mereka pasti sudah bangkrut karena harus terus membayar kompensasi, seperti tagihan medis.


Meskipun Luis berhasil mengintimidasi Larry, Lisandra tidak yakin bahwa sepupunya bisa berhadapan dengan ayah Larry karena dia bukan orang biasa.


"Ini bukan urusanmu," kata Luis sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku benar-benar tidak peduli jika dia seorang jutawan. Apa dia pikir bisa bertindak semaunya hanya karena kekayaan keluarganya yang tidak seberapa?" renungnya dalam hati.


Meski biasanya dia adalah orang yang pemalas, bukan berarti dia baik. Jika dia bisa memaksa orang seperti Kaleb untuk melompat dari lantai 3, dia tidak akan berbelas kasih kepada Larry jika dia tidak menjaga sikapnya.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah Luis. Saat membuka pintu, dia bertanya, "Apa aku perlu menelepon ayahmu?"


"Tidak. Dia mungkin mengira aku masih di sekolah."


Lisandra mengibaskan tangannya sebagai penolakan.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke sekolah besok pagi." Luis mengangguk dan tidak memaksa untuk menelepon pamannya.


"Dia hanya anak-anak, jadi wajar saja jika dia ingin bersenang-senang. Tidak perlu membuatnya kesulitan," pikirnya.


Rumah Luis memiliki banyak kamar tidur. Meski beberapa di antaranya sudah lama tidak ditempati, Lisandra bisa tidur di salah satu kamar setelah memasang seprai dan sarung bantal.

__ADS_1


Setelah membawakannya beberapa perlengkapan mandi, Luis meninggalkan kamarnya, siap untuk beristirahat setelah hari yang panjang.


Sebelumnya hari ini, dia merawat Linda dan menyiapkan makanan untuk keluarganya. Kemudian, dia harus berurusan dengan Logan. Setelah hari yang sibuk, tentu saja, dia lelah.


Keesokan paginya, Luis terbangun karena aroma yang menggoda. Dia mengikuti aroma itu dan melihat Lisandra sibuk membuat sarapan di dapur.


"Kamu tahu, kita bisa makan di luar," kata Luis sambil menatap bubur gandum di atas meja.


Meskipun demikian, Lisandra tidak menerima sarannya. Dia berbalik dan tersenyum pada Luis lalu berkata, "Aku pikir lebih baik makan di rumah. Luis, cuci tanganmu. Sarapan hampir siap!"


"Baiklah." Luis mengangguk setuju dan tidak berkomentar lebih jauh. Lisandra hanya bersikap baik.


Beberapa saat kemudian, mereka duduk bersama dan mulai makan sambil mengobrol.


"Aku akan mengantarmu kembali ke sekolah setelah sarapan. Kamu belajar di sekolah yang sama, 'kan?" Luis bertanya tanpa mengangkat kepalanya.


"A-aku tidak mau kembali," Lisandra tergagap setelah memakan bubur gandumnya.


"Kenapa tidak?"


"Aku hanya tidak ingin kembali." Lisandra menggelengkan kepalanya.


Kring!


Sebelum Luis sempat menjawab, ponselnya berdering. Hazel meneleponnya.


"Ada apa?" Dia mengangkat ponselnya dan bertanya dengan santai.


"Hadiah dari Tuan Smith ada di sini. Kebetulan hari ini ada pameran mobil. Karena itu, kami ingin mengundang Anda untuk menonton pertunjukan dan juga memberikan hadiah kepada Anda," kata Hazel dengan hormat.


"Aku akan datang," jawab Luis. Setelah mendapatkan alamat lokasi acara, dia menutup telepon.


"Karena kamu tidak ingin pergi ke sekolah, kenapa tidak menemaniku ke suatu tempat?" dia bertanya setelah menyuapkan sesendok penuh bubur.

__ADS_1


Pameran mobil itu berjarak agak jauh dari rumah Luis.


Mereka berdua naik taksi dan sampai di plaza pameran setelah menempuh perjalanan selama lebih dari setengah jam.


__ADS_2