
Meskipun dia tidak tahu banyak tentang apa yang terjadi sebelumnya, Frey tahu bahwa Luis pernah sangat terluka akibat seorang wanita.
.............................................................
"Kurasa kamu harus mencari pacar agar kamu bisa berubah baik luar dan dalam. Kemudian, kamu harus membangun kembali kepribadianmu dan memperbaiki dirimu sendiri!"
"Selama kamu bisa cepat menemukan pacar baru, kamu tidak akan merasakan sakitnya patah hati!" pikir Frey dalam hati.
"Kalau begitu, kenalkan seseorang padaku." Luis kembali memutar bola matanya. "Apa aku bisa memperbaiki diri sendiri? Itu omong kosong," pikir Luis.
"Lia adalah pilihan yang tepat, tipe seorang Nona Kaya Raya. Jika kalian berdua bersama, kamu akan langsung menjadi kaya," ujar Frey dengan bersemangat.
"Dia sahabatku."
Sebenarnya, Luis pernah jatuh cinta pada Lia. Bagaimanapun juga, Lia adalah wanita yang nyaris sempurna dan setiap pria akan terpikat olehnya.
Namun, setelah mereka menghabiskan waktu bersama, dia sadar bahwa Lia hanya bisa menjadi sahabatnya. Jika Lia menjadi pacarnya, situasinya pasti akan berbeda. Insiden dengan Larra tidak akan pernah terjadi.
"S-sahabat?" Sudut-sudut bibir Frey berkedut. "Apa ini yang namanya persahabatan sejati antara pria dan wanita?" tanya Frey dalam hati.
Sebagai restoran Firian yang terkenal di Malatam, harga makanan di Bistro Jag biasanya mahal. Oleh karena itu, restoran tersebut bukanlah pilihan untuk keluarga biasa.
Namun bagi Luis, harga makanan itu tidak dianggap sebagai pengeluaran yang besar. Bagaimanapun juga, dia adalah pria yang memiliki sebuah gedung di Malatam.
Setelah selesai makan, Luis memberi isyarat kepada pramusaji yang berdiri di dekat mereka. "Pelayan, saya minta tagihannya."
Manajer restoran itu mendekati mereka dan berbicara kepada Luis dengan hormat. "Tuan Nardo, tagihan untuk meja Anda telah lunas."
Beberapa menit sebelumnya, salah satu pramusaji memberi tahu manajer itu bahwa manajer sebelumnya dipecat karena Luis.
Dan yang terpenting adalah bos mereka telah menghubunginya dan menyuruhnya melunaskan tagihan
Luis.
__ADS_1
"Ini gratis?"
Frey tercengang. "Apa sedang ada acara khusus?"
Manajer itu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ini perintah dari bos kami."
"Martin?" Luis bertanya padanya.
Awalnya, manajer itu terkejut. Dia tidak menduga Luis berani memanggil Martin dengan nama depannya. Namun, dia menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
"Baiklah." Luis mengangguk dan tidak mengatakan apa pun.
Di sebelahnya, Frey tercengang. Dia tidak pernah berpikir bahwa Luis mengenal pemilik restoran itu.
"Apa kamu kenal pemilik restoran ini?"
Luis mengangguk. "Aku pernah bertemu dengannya sekali." Namun, Luis tidak mengatakan bahwa dialah penyebab Martin hampir mengalami kecelakaan saat itu.
"Jangan khawatir, aku akan terus mengganggumu." Frey mengangguk. Bagaimanapun juga, Luis adalah sepupunya dan bukan sekadar teman biasa.
Catrine berjalan di depan dan mereka mengikutinya.
Kemudian, Frey mengamati Catrine dan bertanya kepada Luis, "Bagaimana dengan temanku itu? Cantik, 'kan?"
Luis mengangguk. "Tipe seorang Nona Kaya Raya."
Jika berbicara soal penampilan dan aura Catrine, dia adalah pilihan yang sangat tepat.
Dengan santai, Frey bertanya, "Jadi? Apa kamu ingin aku menjodohkanmu dengannya?"
Sambil memutar bola matanya, Luis menjawab, "Tidak perlu. Terima kasih, tapi kamu tidak perlu melakukannya."
"Meskipun Catrine sangat cantik, aku bukanlah orang yang mudah dibutakan oleh kecantikan. Lagi pula, bahkan jika aku berniat mengejarnya, Catrine mungkin tidak memiliki perasaan yang sama," pikir Luis.
__ADS_1
Setelah selesai mengantar mereka ke lobi, Luis pergi ke sebuah gedung besar di tengah kota. Itu adalah gedung tertinggi di Malatam, dan perusahaan Lia berada di dalam gedung tersebut.
Luis mengamati kantor Lia. Luas areanya lebih dari 100 meter persegi. Jika dia berdiri di sudut kantor itu, dia bisa melihat banyak jendela besar. Saat melihat ke luar jendela, pemandangan seluruh kota jelas terpampang. Dia kemudian berkata, "Kantormu lumayan juga."
Karena lantainya dilapisi karpet wol yang lembut, rasanya sangat nyaman saat berjalan di atasnya.
"Kenapa kamu ke sini hari ini?"
Lia duduk di sebuah kursi kantor yang besar, dia mengenakan setelan jas lengkap. Dia juga mengenakan sepasang sepatu hak tinggi kristal dan stoking berwarna kulit untuk menutupi kakinya yang panjang dan ramping. Lia terlihat sangat anggun, dan bisa dipastikan tidak ada pria yang bisa menolaknya.
"Aku ingin mengembalikan kunci mobilmu."
Kemudian, Luis memberikan kunci Porsche Cayenne padanya.
"Katakan padaku, kenapa kamu tidak membeli mobil? Lagi pula kamu mampu membelinya." Setelah mengambil kunci tersebut dari Luis, Lia membuka laci meja dan memasukkan kunci itu ke dalamnya. Di dalam laci itu, ada deretan kunci mobil yang serupa.
Meski harga mobil itu cukup tinggi, Lia tidak menganggapnya mahal.
"Untuk apa? Aku tidak akan memakainya." Sambil duduk di sofa, Luis kemudian melanjutkan, "Kamu mengenalku. Aku selalu di rumah. Jadi, kenapa aku butuh mobil?"
"Meski kamu tidak memakainya, kamu tetap harus punya. Itu akan memudahkanmu." Lia berdiri dan duduk di sebelahnya sambil memegang sebuah dokumen.
"Ini yang kamu minta untuk kuselidiki."
"Terima kasih, Lia."
Luis tersenyum menyeringai dan membuka amplopnya.
Setelah melihatnya dengan saksama, dia bertanya, "Apa menurutmu ini bisa berhasil?"
"Sulit."
Lia pun menggelengkan kepalanya dan melanjutkan, "Meskipun aku belum pernah bertemu Xavier, aku bisa melihat dari hasil penyelidikan itu bahwa dia memang sangat cakap. Tapi, masih mustahil baginya untuk mengelola sebuah perusahaan besar."
__ADS_1