
Pelabuhan Mondial terdaftar sebagai satu dari 10 pusat perbelanjaan teratas di malatang dan menerima banyak pengunjung setiap harinya.
............................
Lia meliriknya, "aku membawamu ke sana untuk membeli pakaian, Apa kamu akan datang ke Sesi Perjodohan itu dengan pakaianmu sekarang? kamu bisa mempermalukan keluargaku."
"Kurasa penampilanku sudah bagus." kata Luis sambil melirik pakaiannya.
Dia mengenakan kaos putih dengan sablonan bintang merah dan celana 3/4 berwarna hitam.
"Aku lupa kamu punya selera berpakaian yang buruk." Lia Berkata sambil memutar bola matanya.
Dia selalu menganggap selera berpakaian Luis aneh karena pria itu mengenakan pakaian yang cocok untuk anak berusia 15 atau 16 tahun. Lia tidak percaya dia tidak berubah bahkan setelah bertahun-tahun.
Selama masa sekolah mereka Winda harus membantunya memilih gaya berpakaiannya. Lalu setelah dia meninggalkan negara itu, gaya berpakaian Luis memburuk.
"Itu tidak sopan. Apa maksudmu selera berpakaian ku buruk? kurasa Seleraku bagus-bagus saja." Ujar driver dengan tidak senang.
Lia hanya mengangguk. "Benar, Gaya berpakaianmu hanya sedikit berbeda dari kebanyakan orang."
Setelah memarkir mobilnya Lia dan Luis mulai berbelanja.
Sudah lama sekali Luis tidak ada tang ke mall setelah selama ini mengurung diri di rumah, jadi semua tampak asing baginya.
Lia berjalan di depan dan dia mengikuti dari belakang. Dia tidak tahu apa yang harus dibeli karena Lia tidak menyukai gaya berpakaiannya dari 4 tahun yang lalu.
"Bagaimana kalau setelan jas." Luis memberikan saran sambil mengutak-atik ponselnya.
Lia berbalik dan memelototinya. "Apa otakmu bermasalah? Kamu tidak lihat cuaca belakangan ini? Apa kamu mencoba tampil rapi dan sopan dengan mengenakan setelan jas di tengah cuaca sepanas ini?"
Cuaca pertengahan tahun di Malatam memang sangat panas.
Mereka pun terus berjalan dan akhirnya memasuki sebuah toko. Kemudian, Luis menyadari bahwa mereka masuk ke toko Hermes.
"Lia, apa kamu ingin membelikan tas untukku?" Luis mengusap hidungnya.
"Aku akan belikan satu untukmu jika kamu menyukainya."
Lia mengambil sebuah tas biru metalik dan menyerahkannya ke wiraniaga di sana. "Tolong, bungkus ini untuknya."
"Lia, apa kamu serius?" Luis terkejut.
"Bagaimana menurutmu?" Lia meliriknya sepintas.
__ADS_1
"Yang jelas, aku tidak mau warna itu."
Bagi Lia, membeli tas Hermes sama seperti membeli bawang di supermarket.
Sembari mengatakan hal itu, Lia merogoh tasnya untuk mengambil kartu kredit dan memberikannya ke wiraniaga itu.
"Rasanya aneh ..." Bibir Luis menggerenyet sambil memegang tas Hermes berwarna biru metalik itu.
"Tapi aku tidak memilih ini ..." Luis menyanggahnya.
"Anggap saja aku yang memilihkannya untukmu. Apa kamu keberatan?" Lia bertanya padanya.
"Tidak ..." Wiraniaga itu pun berusaha menahan tawanya ketika melihat adegan kocak itu.
Ada sedikit rasa iri di matanya.
Jika dia mendapat satu tas Hermes, dia pasti akan sangat senang, meskipun jika tas itu untuk pria.
Lia menunjuk Luis dan memberi tahu wiraniaga itu, "Pilihkan beberapa pakaian untuknya. Aku ingin gaya yang kasual."
"Tentu." Tanpa basa-basi, wiraniaga itu menepuk tangannya, dan para staf lainnya berkumpul dan mengambil beberapa set pakaian.
Mereka bisa mengetahui ukuran yang cocok untuk Luis hanya dengan melihatnya. Mereka mengambil kaus, celana, blus, dan sepatu dari rak.
Tak lama kemudian, Luis sudah berpakaian rapi dengan pakaian baru. Dia tampak sangat berbeda dari aura aslinya yang terlihat ceroboh.
"Rasanya aneh ..." Bibir Luis menggerenyet sambil memegang tas Hermes berwarna biru metalik itu.
"Tapi aku tidak memilih ini ..." Luis menyanggahnya.
"Anggap saja aku yang memilihkannya untukmu. Apa kamu keberatan?" Lia bertanya padanya.
"Tidak ..." Wiraniaga itu pun berusaha menahan tawanya ketika melihat adegan kocak itu.
Ada sedikit rasa iri di matanya.
Jika dia mendapat satu tas Hermes, dia pasti akan sangat senang, meskipun jika tas itu untuk pria.
Lia menunjuk Luis dan memberi tahu wiraniaga itu, "Pilihkan beberapa pakaian untuknya. Aku ingin gaya yang kasual."
"Tentu." Tanpa basa-basi, wiraniaga itu menepuk tangannya, dan para staf lainnya berkumpul dan mengambil beberapa set pakaian.
Mereka bisa mengetahui ukuran yang cocok untuk Luis hanya dengan melihatnya. Mereka mengambil kaus, celana, blus, dan sepatu dari rak.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Luis sudah berpakaian rapi dengan pakaian baru. Dia tampak sangat berbeda dari aura aslinya yang terlihat ceroboh.
Luis pun setuju bahwa pakaian ini jauh lebih baik daripada yang dia beli dari pasar grosir, dan dia nyaman memakainya.
"Nona, bagaimana menurut Anda?" Wiraniaga itu bertanya kepada Lia, bukan pada Luis. Dia tahu Lia-lah yang akan membayar tagihannya.
"Lumayan." Lia mengangguk.
Dengan sikap pemilih Lia, menyukai pakaian dalam waktu singkat berarti sudah sangat bagus. "Luis, bagaimana menurutmu?"
Meskipun Lia yang membayar, dia masih meminta pendapat Luis.
"Ini bagus." Luis mengangguk. Dia sama sekali tidak memiliki selera berpakaian dan dia merasa bahwa apa pun yang bisa dipakai itu bagus.
"Tolong, tagihannya." Bibir Lia menggerenyet dengan kesal setelah melihat wajah Luis yang malu-malu.
Dia pun mengambil kartu kreditnya.
"Mohon tunggu sebentar. Totalnya 5.500 dolar." Dua tagihan dikeluarkan bersama dengan kartu kreditnya.
Lia hanya melihatnya sekilas dan menandatangani tagihan itu.
Dia tidak takut jika ada yang meripunya. Jika seseorang melakukan itu padanya, dia punya seratus cara untuk memastikan toko itu ditutup.
"Ayo, pergi." Lia melambaikan tangan dan memberi isyarat agar Luis mengikutinya.
"Lia, tas ini ..." Luis mengikutinya dari belakang dan menunjuk tas di tangannya sambil menatapnya dengan canggung.
"Simpan saja. Warnanya jelek." Lia menunjukkan ketidaksukaannya pada tas itu sambil cemberut.
Luis pernah ke Hotel Bulevar sebelumnya. Mobil Cadillac Lia yang cukup memukau cocok disandingkan dengan mobil-mobil mewah di area parkir hotel itu.
Luis tidak bisa menyebutkan merek-merek mobil mewah dan mobil sport di sana.
"Tinggalkan tasnya." Lia mengambil tas itu dari Luis dan melemparkannya ke dalam mobil.
Dia pun menutup pintu mobil. "Ayo."
Lia berjalan di samping Luis dan memegangi lengannya, tampak seperti wanita yang lembut.
Bibir Luis berkedut. "Ya, ampun, apa kamu perlu melakukan ini, Lia? Kita di sini untuk mengacaukan sesi perjodohan itu, bukan untuk berpura-pura sebagai pasangan."
"Tutup mulutmu." Lia mengangkat alisnya. "Jika hal buruk terjadi, bersiaplah memanggil ambulans untuk dirimu sendiri."
__ADS_1
"Lia, apa kamu harus sekejam ini?" Luis bertanya.