Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
110


__ADS_3

"Tuan Nardo, wawasan Anda sungguh luas." Pramusaji yang berdiri di sampingnya tertawa kecil. Banyak orang yang telah makan tuna kukus, tetapi hanya sedikit orang yang tahu bahwa itu adalah salah satu hidangan paling terkenal di Cania, dan hanya sedikit orang yang bisa menilai apakah hidangan itu autentik atau tidak.


****************


"Hidangan ini dimasak dengan baik, dan keterampilan memasaknya juga cukup bagus, tetapi kualitas tunanya tidak sebaik itu," jawab Luis dengan berani.


"Tuan Nardo, maksud Anda ..." Begitu mendengar komentarnya, ekspresi pramusaji berseragam itu langsung berubah. "Tuna kukus telah dipesan oleh banyak orang setiap harinya, tetapi tidak ada yang pernah menyebut hidangan itu tidak enak," pikirnya.


"Apakah Anda bersedia mencicipinya?" Sambil berkata demikian, Luis langsung mengambilkan sepasang sumpit bambu yang lain dari sampingnya dan menyerahkannya kepada pramusaji itu.


"Eh..."


Melihat keragu-raguan pramusaji itu, Luis tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, saya hanya ingin Anda mencicipinya dan melihat apakah Anda dapat menemukan sesuatu yang salah di hidangan ini."


"Baik, Tuan Nardo." Pramusaji itu mengangguk. Dia mengambil sumpit dari tangan Luis, dan mengambil sepotong ikan.


"Enak?" Luis bertanya sambil tersenyum.


"Sangat lezat."


Pramusaji itu menggelengkan kepalanya perlahan. Dulu, dia cukup beruntung karena pernah mencicipi hidangan ini, dan rasanya sama lezatnya dengan yang pernah dia makan.


"Lupakan saja kalau begitu," ucap Luis.


Terkadang, ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan secara gamblang. Jika tidak demikian, hanya akan menimbulkan kerugian.


"Harap tunggu sebentar, saya akan memanggilkan Nona Talia." Pramusaji itu membungkuk dengan hormat dan perlahan keluar dari ruangan.


Bukan masalah kecil jika pelanggan sampai berpikir ada yang salah dengan hidangannya. Apabila masalah tersebut sampai menyebar, akan berdampak besar pada Restoran Bambu.


Ditambah lagi, Luis memesan ruangan terbaik di Restoran Bambu. Dia pasti sosok yang penting.


Setengah menit kemudian, seorang wanita berusia tiga puluhan yang mengenakan setelan klasik dan rambut diikat, membuka pintu dan berjalan masuk. Pramusaji tadi mengikuti di belakangnya.


Wanita itu berjalan mendekati Luis, lalu sambil tersenyum ramah, dia menunjuk hidangan tuna kukus di atas meja dan bertanya, "Tuan, apakah menurut Anda ada yang salah dengan tuna kukus kami? Apakah Anda sudah pernah makan hidangan ini sebelumnya?"

__ADS_1


"Saya belum pernah memakan hidangan ini sebelumnya. Ini yang pertama kalinya."


Luis menggelengkan kepalanya. Dia hanya pernah mendengar bahwa ini hidangan paling terkenal di Cania.


"Lalu kenapa Anda berpikir bahwa ada yang salah dengan hidangan tuna kukus kami?" Talia bertanya sambil sedikit mengernyitkan dahi. Wanita itu bertanya-tanya dalam hati, "Apakah pemuda ini ingin membuat masalah? Namun, dilihat dari penampilannya, dia tidak seperti pembuat onar."


"Meskipun baru pertama kali memakannya, tapi saya bisa memasak hidangan ini," ujar Luis tanpa berbasa-basi. Sebagai seorang pria dengan ilmu kuliner level tinggi, Luis bisa memasak hidangan seperti itu.


"Lalu apa yang salah dengan hidangan kami? Tolong beri tahu saya, Tuan," ujar Talia yang mulai kesal.


Talia pikir, ini pertama kalinya seseorang membuat masalah seperti ini dalam beberapa tahun terakhir.


"Cobalah!"


Luis mengangkat bahu, kemudian mengambil sepasang sumpit yang tidak terpakai dari sampingnya, dan menyerahkannya kepada Talia.


Talia yang berpikir bahwa sepertinya Luis tidak berniat untuk membuat masalah di sini, berjalan mendekati Luis, menerima sepasang sumpit darinya untuk mengambil sepotong ikan, lalu membubuhkan sedikit saus jeruk ke atasnya.


Setelah mencicipinya, Talia mengerutkan kening dan menatap Luis dengan dingin. "Tuan, menurut saya tidak ada yang salah dengan tuna kukus ini."


"Apakah ada masalah lagi, Tuan?" Talia masih bertanya-tanya apakah pemuda ini berniat membuat masalah atau tidak.


"Jangan khawatir, saya di sini bukan untuk membuat masalah," ujar Luis sambil melambaikan tangannya. Dia hanya ingin makan dan tidak bermaksud memulai konflik dengan orang lain.


"Tuan, silakan Anda tunggu sebentar."


Talia memberi hormat dan kemudian berjalan keluar ruangan dengan pelan bersama pramusaji itu.


"Siapa orang yang ada di meja ini?" Begitu Talia keluar dari ruangan, dia langsung bertanya kepada pramusaji.


Meskipun banyak tamu yang datang ke restoran ini, kebanyakan dari mereka adalah kenalan karena Restoran Bambu adalah sebuah restoran privat. Tamu-tamu mereka adalah sosok yang bermartabat di Malatam, jadi orang yang memesan ruangan paling mahal ini pasti adalah sosok yang sangat penting.


Talia tidak berani mengatakan bahwa dia memiliki ingatan fotografis, tetapi setidaknya setelah melihat sekilas, dia selalu memiliki kesan tertentu terhadap para tamunya. Talia telah bertemu begitu banyak orang kaya di Malatam, tetapi dia belum pernah bertemu Luis sebelumnya.


Bagaimanapun juga, Talia harus memperhatikan Luis dan mengingat penampilannya. Bahkan di antara orang-orang kaya yang dia kenal, hanya ada sedikit orang yang bisa dibandingkan dengan Luis.

__ADS_1


"Luis diperkenalkan oleh Manajer Wijaya," kata pramusaji itu dengan hormat.


Talia mengerutkan kening dan berkata, "Lia Wijaya?"


Talia mengenal manajer keluarga Wijaya. Tidak banyak orang di Malatam yang berani menyinggung orang itu.


"Ya, benar."


"Saya belum pernah mendengar Lia memiliki teman pria." Talia agak ragu.


Meskipun Talia pernah mendengar tentang Lia, dia hampir tidak mengenal Lia sama sekali.


"Saya akan menelepon dulu." Talia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan sebuah nomor.


"Nona Talia, ada apa?" Suara seorang pemuda terdengar dari seberang telepon. Jika Luis ada di sini, dia pasti tahu bahwa itu suara Samuel, adik Lia.


Meskipun Talia tidak mengenal Lia, tapi dia mengenal Samuel.


"Tidak ada yang serius. Saya hanya ingin bertanya, apakah kakak Anda punya teman pria?" tanya Talia.


"Teman pria?"


Di seberang telepon, Samuel yang sedang minum bersama teman-temannya, mengusap-usap kepalanya. Kakaknya tidak mengenal banyak pria, apalagi memiliki teman pria. "Apakah nama belakangnya Nardo? Jika ya, jangan main-main dengannya."


"Mengapa?" tanya Talia.


Samuel mengambil sebotol wine dari atas meja dan berkata, "Jangan tanya kenapa. Pokoknya, kalau nama belakangnya Nardo, jangan main-main dengannya. Sudah dulu, ya. Saya masih minum-minum di sini."


"Maaf, Tuan Wijaya. Kapan-kapan saya akan mentraktir Anda minum," kata Talia sambil tertawa pendek.


"Terima kasih, Nona Talia."


"Apa nama belakang orang di meja itu Nardo?" Setelah menutup telepon, Talia menatap pramusaji di sebelahnya. Jika tamu itu adalah Tuan Nardo, dia pasti memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Lia.


"Ya, dia Tuan Nardo. Dia mengendarai mobil merek Hennerik, tapi saya tidak tahu modelnya." Pramusaji itu mengangguk dan mengatakan apa yang dia tahu.

__ADS_1


"Industri Hennerik?" Sudut bibir Talia berkedut. Di Malatam, banyak orang yang mengendarai Porsche dan Ferrari, tetapi tidak banyak orang yang mengendarai Hennerik.


__ADS_2