
"Baiklah kalau begitu." Pemilik kios mengangguk, tetapi dia tidak menolak.
Kini, selama dia punya uang, dia bisa membeli apa pun yang dia inginkan.
***************
Di ujung Jalan Naga, ada sebuah bangunan tua. Jika dibandingkan dengan bangunan yang ditinggalkan orang tua Luis Nardo, bangunan itu tampak lebih usang. Sebagian dindingnya sudah terkelupas sampai-sampai bata merah di dalamnya terlihat. Kondisi bangunan tersebut terlihat sangat riskan untuk ambruk.
Paman Luis tinggal di sana. Dinding bangunan tua itu dipenuhi dengan segala macam iklan, mulai dari reparasi kunci sampai perawatan AC. Tumpukan sampah berserakan di koridornya.
Luis pernah berkunjung ke bangunan ini beberapa kali, jadi dia masih ingat lokasinya.
"Tok, tok, tok!"
Tidak ada bel di pintunya. Oleh karena itu, Luis mengetuk pintunya dengan keras. Untungnya, pintu besi yang sudah tua itu sangat tebal, sehingga tidak mudah roboh. Namun, terkadang dia mengetuknya terlalu keras hingga tangannya terluka.
" Cit"
Tak lama kemudian, pintu perlahan terbuka, lalu muncul seorang pria paruh baya berjanggut. Matanya agak merah, seakan-akan tidurnya terganggu.
Gavin Nardo, paman Luis, adalah seorang sopir taksi. Biasanya dia bekerja di malam hari. Dia tidak bekerja di siang hari karena penghasilan dari shift malam bisa lebih besar daripada shift siang.
Biaya pendidikan anak tidak murah, terutama di Malatam.
Pengeluaran tahunan bisa membuatnya sakit kepala.
"Luis, kenapa kamu datang ke sini?" Dengan raut wajah lelah, Gavin bergeser ke samping dan menyuruh Luis masuk ke dalam.
"Ini menyangkut Lisandra." Luis meletakkan bungkusan daging yang siap dimakan di atas meja kemudian duduk.
"Lisandra? Ada apa dengan dia? Sekolahnya lancar, 'kan?" Gavin tertegun sejenak. Setiap pulang kerja, dia langsung tidur dan tidak banyak bertanya tentang Lisandra.
Kepala sekolah Lisandra juga sempat menelepon Gavin beberapa kali, tetapi dia tidak pernah menerimanya karena sedang sluft malam.
"Lisandra ada di tempatku sekarang, sepertinya dia ..."
__ADS_1
Luis menggelengkan kepalanya dan menjelaskan keadaan Lisandra kepada pamannya.
Pria itu adalah ayah Lisandra Nardo. Dia berhak tahu tentang keadaan anaknya.
Gavin menghela napas tatkala mendengarkan cerita Luis. Setelah mengeluarkan sebatang rokok, Gavin bertanya, "Apakah kamu keberatan jika aku merokok?"
"Silakan." Luis mengangguk. Sebenarnya Luis tidak suka bau tembakau, tetapi dia bisa mengerti perasaan pamannya.
"Ctak!"
Dengan diiringi suara renyah, pemantik api menyemburkan api oranye dan menyalakan rokok di tangan Gavin.
Hatamen bukan merek rokok yang bagus. Rasanya pedas tetapi harganya murah, hanya 1 dolar per bungkus. Dibandingkan dengan rokok lain yang harganya 2 dolar, Hatamen jauh lebih murah.
"Sebenarnya, yang meminta Lisandra untuk melanjutkan kuliah adalah ibunya. Ibu Lisandra itu lulusan sekolah musik." Gavin perlahan mengembuskan kepulan asap, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
"Sepertinya kamu juga menginginkan hal yang sama." Luis meletakkan makanan siap saji di atas meja dan mengeluarkan sebotol wine.
"Karena ibunya sudah tiada, sekarang giliranku untuk memenuhi keinginannya." Gavin Nardo berkata di tengah kepulan asap.
Luis membuka tutup botol wine dan mengambil dua gelas dari lemari dapur.
"Memangnya kamu sanggup minum? Jangan sampai kamu pingsan karena mabuk." kata Gavin menyindir.
Dahulu, setiap ada pesta, Luis selalu minum Spirit dan Cola. Dia tidak pernah minum bir, apalagi minuman beralkohol yang lebih keras.
"Jangan khawatir. Aku tahu seberapa banyak kamu bisa minum." Luis tersenyum seraya berkata, "Aku rasa Paman yang akan pingsan terlebih dahulu."
"Ayolah, aku belum pernah melihatmu minum alkohol sebelumnya. Ketahanan seseorang terhadap minuman keras bisa dilatih." Gavin pun tergelak.
Semakin sering seseorang minum minuman keras, semakin tahan orang itu terhadap efek alkohol. Itulah yang membuat seseorang bisa tahan menenggak minuman keras dalam jumlah banyak.
Gavin Nardo, seorang pemabuk tua yang sudah minum alkohol sejak beberapa dekade lalu, tidak percaya bahwa Luis yang tidak pernah minum alkohol bisa menandinginya.
"Terkadang, kemampuan seperti itu bisa diwariskan." kata Luis tersenyum. Dia mengangkat gelas di tangannya, bersulang dengan Gavin, lalu menenggak minumannya.
__ADS_1
Tangan Gavin menegang dan raut wajahnya sulit dibaca. "Betul, anak tengah memang peminum terbaik di antara kami bertiga."
Seraya mengatakan itu, Gavin menghabiskan minumannya dalam satu tegukan, lalu rona merah muncul di wajahnya yang pucat. "Wine ini enak."
Sebenarnya, ketika seseorang sudah minum terlalu banyak, dia tidak bisa membedakan wine yang enak dan tidak enak, termasuk wine curah yang diminum Gavin. Harganya cuma sekitar 1 dolar per pon, tetapi menurut Gavin rasanya enak.
Namun, wine yang dibawa Luis jelas memiliki beberapa perbedaan. Bukan hanya rasanya yang lain daripada yang lain, tetapi yang lebih penting, aromanya pun tak terlukiskan.
Wine berkualitas rendah yang dibuat dengan alkohol biasa tidak setara dengan wine ini.
"Memang enak." Luis menimpali. Wine itu adalah Cabernet Sauvignon antik yang asli.
Sebagian besar wine Cabernet Sauvignon yang ada di pasaran tidak asli, tetapi diproduksi di Kota Cabernet Sauvignon. Perbedaan antara wine olahan Kota Cabernet Sauvignon dan wine Cabernet Sauvignon adalah ...
Singkatnya, lebih dari sekian ribu rumah di Kota Cabernet Sauvignon dapat mengolah wine. Kebanyakan dari mereka menggunakan nama Cabernet Sauvignon. Sebagian berkualitas bagus, tetapi kebanyakan hanya menjual nama.
Namun, wine yang dibawa Luis adalah Cabernet Sauvignon asli yang sudah didiamkan selama beberapa dekade, sehingga teksturnya sempurna.
Mereka berdua asyik makan dan minum wine. Setelah itu, keduanya mulai agak mabuk.
"Menurutmu, apakah selama ini aku terlalu pengecut?" tanya Gavin dengan bingung.
"Istriku kabur dengan pria lain. Hanya tinggal aku dan Lisandra, tetapi aku tidak becus membesarkannya. Hidupku bagaikan sebuah lelucon."
"Paman bukan pengecut." kata Luis menggelengkan kepalanya, "sejujurnya, aku tidak terlalu memedulikan Paman pada awalnya. Paman benar-benar seorang ... "
"Bajingan, 'kan?" Seolah-olah sudah mengharapkan komentar itu, Gavin berkata, "Kakekmu mengatakan hal yang sama kepadaku, tetapi sebenarnya ayahmu lebih bejat daripada aku."
"Aku sungguh tidak percaya." Luis menyesap wine di gelasnya.
"Ayahmu berubah semenjak kamu lahir." ujar Gavin dengan sungguh-sungguh.
"Dahulu, ayahmu gemar merokok, minum alkohol, dan berjudi, bahkan lebih parah dariku. Setiap hari kakekmu memukulinya, tetapi ayahmu tidak kunjung berubah. Dia tidak pernah mau mendengarkan. Kakekmu berpikir bahwa pernikahan akan membuatnya berubah, jadi dia meminta seseorang untuk mencarikan ayahmu seorang istri, tetapi tidak ada yang berubah. Setelah kamu lahir, ayahmu perlahan-lahan berubah. Lucunya, ayahmu sempat bermain kartu sambil menggendongmu. Kami semua tertawa melihatnya ..."
"Aku bisa membayangkannya. Sejujurnya, aku selalu merasa bahwa ayahku bukanlah orang yang serius. Waktu aku masih kecil, dia bahkan mengajariku bermain kartu. Dia menggunakan satu set kartu untuk bermain dan satu set kartu lainnya sebagai uang."
__ADS_1