
Mereka lebih terkejut mendengar sejarah di balik wine itu dibandingkan dengan tahun pembuatannya. Wine ini sekarang menjadi tak ternilai di mata mereka.
..................................
Jika sebotol wine ini dilelang, siapa yang tahu akan setinggi apa harga yang ditawar.
Dwi telah mencoba wine tua yang memiliki sejarah lebih dari 100 tahun sebelumnya, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan wine yang dia minum sekarang.
"Baik. Lagi pula itu hanyalah cerita." Luis tersenyum setelah melihat ekspresi muram di wajah mereka. "Karena kita sudah mencicipi wine-nya, bagaimana kalau kita makan sekarang? Saya yang memasak ini."
"Baiklah kalau begitu."
Baik Dwi dan Melia mengangguk dan tidak membahas tentang wine lagi karena mereka merasa wine ini terlalu berharga untuk diberikan secara cuma-cuma. Mereka bahkan tidak akan berani menerimanya sekalipun Luis memberikannya pada mereka.
Makna dan sejarah di balik wine ini terlalu berat, dan harganya tidak terhitung. Mereka akan berutang besar pada Luis jika mereka mengambil wine ini untuk diri mereka sendiri.
Setelah itu, mereka berempat mulai menyuap makanan mereka. Namun, Luis masih menuangkan wine ke dalam gelas setiap kali kosong, membuat mereka tidak dapat menahan diri untuk meminumnya.
Mereka menghabiskan lebih dari satu jam untuk menyelesaikan makan, dan wine itu perlahan-lahan habis.
"Ya ampun, kamu memang koki yang hebat, Luis." Melia tersenyum dan melanjutkan, "Aku sudah memakan berbagai macam masakan, tetapi masakanmu benar-benar beda. Bahkan koki restoran bintang 5 bisa belajar darimu. Calon istrimu akan sangat beruntung menikahimu."
"Bahkan saya terkesan, dan saya ingin mempekerjakan Anda sebagai koki pribadi saya sekarang." Dwi juga tersenyum sebelum melanjutkan, "Jadi, Luis, apakah Anda sudah punya pacar?"
"Um ... belum, saya belum punya." Luis tercengang mendengar pertanyaan ini.
"Saya punya seorang putri, umurnya tidak jauh dari Anda. Bagaimana kalau saya memperkenalkannya pada Anda?" Setelah mengatakannya, Dwi terkikik.
Melia langsung mengerutkan kening mendengar yang dia katakan. Luis mengenal Lia lebih dulu, dia tidak ingin Dwi mendahuluinya. "Celia bisa marah jika mendengar itu, Dwi."
Semua orang bersenang-senang ketika makan bersama, baik Dwi maupun Melia merasa puas. Dwi bahkan berpikir untuk menjadikan Luis sebagai calon menantunya.
__ADS_1
Namun, Melia keberatan setelah mendengar niatnya, bahkan Lia juga menolak untuk Luis, yang membuat Dwi mengurungkan niatnya. Hal ini membuatnya memandang Lia dan Luis dengan tatapan menggoda.
"Kalau begitu, karena kita semua sudah kenyang, aku pamit pulang sekarang. Aku membutuhkan tidur cantikku."
Setelah mengantar Dwi pergi, Luis kemudian berpamitan pada Melia dan Lia.
Lia mengangkat alisnya. "Sekarang sudah larut, tinggal saja di sini. Ada banyak kamar, pilih salah satu dan menginaplah. Lagi pula, sangat berbahaya di malam hari."
"Bahaya macam apa yang bisa terjadi? Jalan-jalan di Malatam masih tetap ramai meski di tengah malam, jadi jangan khawatir." Luis melambaikan tangan dan menolak tawarannya.
Malatam telah berubah menjadi kota yang tak pernah tidur sejak satu dekade terakhir. Meskipun tak sebanding dengan kota yang benar-benar tak pernah tidur, seperti yang dikatakan Luis, masih ada sejumlah orang yang berkeliaran di jalanan bahkan saat tengah malam, sibuk dengan urusan mereka sendiri.
"Yah, setidaknya biarkan Lia mengantarmu pulang, lagi pula tidak jauh dari sini." Melia mengerutkan alisnya saat menyampaikan sarannya.
Melia tidak bisa berkata apa-apa saat Luis menolak untuk menginap, dan seperti yang dia katakan, ini belum terlalu larut.
"Tidak apa-apa. Lia mengalami kram hari ini, jadi sebaiknya biarkan dia istirahat." Luis menggelengkan kepalanya dan kembali menolak. Meskipun kram Lia sudah mereda, itu bukan berarti dia sudah pulih, dan Luis akan menjadi orang yang kerepotan jika kramnya kambuh lagi.
Dia mengenal putrinya dengan baik. Lia akan lebih banyak berbaring di tempat tidur karena kram saat menstruasi.
Melia bahkan membawa Lia untuk mengunjungi beberapa dokter terkenal untuk mengatasi hal ini tetapi tidak berhasil, itulah sebabnya dia tidak berpikir bahwa Lia tengah menstruasi.
"Ya. Untung ada Luis yang memijatku, sudah tidak terlalu sakit sekarang."
Lia tahu kram yang dialaminya bisa sangat menyakitkan dan bertahan lama. Bahkan para dokter tidak dapat menghilangkan kram itu, tetapi Luis dengan mudah mengurangi rasa sakit kramnya hanya dengan memijat. Karena itu orang dapat menyimpulkan bahwa dia memiliki keterampilan yang hebat.
"Kamu memiliki keterampilan medis, Luis?" Melia terkejut mendengarnya.
Meskipun tidak terlalu mengenal Luis, tapi setidaknya dia tahu sedikit tentangnya. Namun dia tidak pernah tahu bahwa Luis mahir dalam pengobatan.
Sesuatu seperti keterampilan medis sama dengan ilmu kuliner, yang hanya bisa diasah melalui latihan dan pengalaman bertahun-tahun.
__ADS_1
"Tidak, saya hanya sedikit tahu." Luis mengusap kepalanya malu-malu. Keterampilan medisnya hanya sebatas hal kecil seperti kram menstruasi. Dia tidak tahu apa-apa jika mengenai penyakit serius. "Oh, kamu terlalu rendah hati."
Melia mengangkat alisnya dan melanjutkan, "Baiklah, biarkan aku langsung ke intinya. Apakah kram Lia bisa disembuhkan?"
Melia telah melihat putrinya begitu kesakitan hingga berguling-guling di atas tempat tidur karena kram ini, dan sekarang, kesempatan untuk sembuh ada di depannya. Karena itu, Melia ingin putrinya mencoba apa pun yang bisa dia ketahui, bahkan jika kemungkinannya kecil.
Bahkan Melia sendiri berpikir bahwa kram ini tidak ada obatnya. Namun, sebagai seorang ibu, selama masih ada harapan dia tidak akan menyerah demi putrinya.
"Itu mungkin saja, jika Anda memijatnya secara konsisten," jawab Luis tidak yakin.
Marketplace memang menyatakan kalau pijat dapat membantu mengatasi kram menstruasi, tetapi dia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkannya.
"Itu bagus sekali! Kalau begitu aku akan mengandalkan bantuanmu, Luis." Mata Melia penuh dengan kegembiraan.
Melihat itu, Luis mengangguk dan menjawab, "Jangan khawatir. Lia adalah teman saya, jadi saya akan melakukan yang terbaik untuk membantunya."
"Ya, kamu benar!" Lia tersenyum lalu menatap Luis. "Aku akan menghukummu jika sampai tidak melakukannya!"
"Dasar kamu ...." Melia hanya bisa menghela napas dan menggenggam tangan Lia.
Lia adalah seorang wanita cantik, banyak yang mencoba mengejarnya dahulu. Beberapa dari mereka bahkan memiliki latar belakang keluarga yang baik, tetapi Lia menolak mereka semua.
Dia memiliki temperamen yang buruk, sehingga Melia khawatir Lia tidak dapat menemukan kekasih di masa depan karena jarang ada yang bisa bertahan menghadapi amarahnya.
Setelah menolak tawaran Lia dan Melia untuk tinggal, Luis keluar dari Taman Tirtajeluk. Taksi jarang terlihat di sini karena hanya ada deretan rumah besar di sekitar area tersebut. Luis tidak dapat menemukan taksi saat dia berjalan, hanya mobil sewaan pribadi di sekitar area itu.
Dia menghela napas dan terus berjalan menuju gang yang tidak jauh darinya. Seingatnya, dia bisa mendapatkan taksi setelah melewati gang itu dan sampai ke Jalan Keris.
Mungkin karena hari semakin larut, tapi tidak ada seorang pun di sekitar gang. Hanya cahaya kuning dari lampu jalanan yang bersinar menerangi area tersebut.
"Berhenti di sana!" Tiba-tiba, seseorang muncul di hadapan Luis.
__ADS_1