Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
73


__ADS_3

Melia mengenakan sepasang sarung tangan saat menyajikan kepiting raja. "Nah. Semua hidangannya hampir lengkap. Luis sedang menyiapkan hidangan terakhir."


.................................


Selagi Melia berbicara, Luis mengeluarkan hidangan terakhir. Itu adalah lobster Auguria. Lobster itu tidak terlalu dibumbui, tetapi menguarkan aroma yang menggoda.


Hanya koki paling terampil yang tahu pentingnya mengeluarkan rasa alami makanan tanpa bergantung pada bumbu.


Tatapan Dwi jatuh pada Luis, menilai dirinya. "Lia, apakah dia teman yang tadi kamu bicarakan?" Dia memang mengharapkan seorang pria muda, tetapi tidak semuda pria itu.


"Dia kawan karibku, Luis Nardo," kata Lia, dengan gembira memperkenalkannya.


"Luar biasa." Wajah Melia berubah suram. Suaranya terdengar gusar ketika dia berseru, "Lia, lihat dirimu. Kamu sama sekali tidak bersikap feminin."


"Lobster ini sangat besar," komentar Dwi sambil tersenyum ramah. Tidak seperti Melia, dia tidak membahas topik itu lebih lanjut. Sejak awal, dia tidak begitu tertarik pada Luis. Jika bukan karena kemunculannya di rumah Lia, dia tidak akan peduli sama sekali.


"Sulit untuk menemukan lobster dengan ukuran ini sekarang. Ini lobster Auguria, 'kan?" tanya Dwi.


"Anda sepertinya tahu banyak," jawab Luis sambil mengacungkan jempolnya. "Memang benar ini lobster Auguria. Sebuah perahu nelayan pulang dengan hasil tangkapan yang besar. Saya beli semuanya. Dua lobster ini hanya sebagian kecil dari tangkapan istimewa lainnya."


"Sebuah perahu nelayan?"


Dwi yang biasanya tenang dan berkepala dingin bisa merasakan bibirnya berkedut. "Keluarga macam apa yang membeli seluruh tangkapan nelayan?" Dia merenung.


"Baiklah kalau begitu. Mari makan!"


"Luis, bergabunglah dengan kami," desak Melia.

__ADS_1


"Saya akan mengambil wine-nya," kata Luis. Dia memasuki dapur dan membawa keluar wine yang disimpan dalam ember es.


Dwi mengambil botol wine darinya. Dia bisa merasakan tekstur agak kasar pada permukaan botol saat dia mengelusnya. "Wine ini sepertinya sudah cukup tua, ya?" Matanya berbinar.


Dia bisa tahu dalam sekali pandang. Botol kaca seperti ini sudah langka di pasaran.


Tanpa menunggu jawaban Luis, Dwi menambahkan, "Saya pernah mencicipi anggur berusia seabad dari Baria di tempat teman. Pada saat itu, wine tersebut sudah melewati masa unggulnya, tetapi saya masih bisa mengingat dengan jelas kesempurnaan rasanya."


"Waktu terbaik untuk minum red wine adalah setelah disimpan selama 3 sampai 5 tahun. Untuk wine yang diproduksi kilang anggur generasi pertama, mereka dapat disimpan hingga 15 tahun, atau bahkan lebih lama. Namun, wine akan basi jika disimpan selama lebih dari 20 tahun. Memang ada wine yang disimpan dalam waktu yang lama, tetapi kebanyakan orang meminumnya karena latar belakang wine tersebut, bukan karena rasanya."


Luis mengambil botol anggur dari Dwi dan menarik gabusnya.


Setelah gabusnya lepas, aroma manis wine mulai memenuhi udara. Meskipun aromanya tidak kuat, wine itu memiliki cerita yang berbeda.


Lia membawa tiga buah gelas wine, dan Luis menuangkan wine ke tiap gelas. Pantulan cahaya dari langit-langit menimpa gelas, membuatnya sedikit berkilau.


Dwi mengambil satu gelas untuk dirinya sendiri dan memutar gelas wine dari dasarnya sebelum mencium bau anggur dari tepi gelas. Dia kemudian mengangkat gelas dan meminumnya, mencicipi rasa wine.


"Pilihan yang bagus."


"Sebagus itukah?" Melia tersenyum mendengar komentar itu dan mulai mencicipi wine-nya. Terlihat jelas bahwa mereka sudah terbiasa dalam hal ini.


Setelah mencicipi wine, ekspresi wajah Melia berubah seraya dia melihat ke arah Luis. "Luis, apakah kamu masih punya lebih banyak wine ini? Bisakah kamu memberiku sebotol?"


Mendengar itu, Dwi tidak mau kalah. "Jangan berlaku tidak adil, Luis. Melia mungkin seniormu, tapi saya juga termasuk seniormu. Anda juga harus memberi saya sebotol jika Anda berencana untuk memberinya! "


Meskipun penjelasan dan logika di balik perkataan Dwi terdengar konyol, dia tidak bisa menahan diri demi wine itu.

__ADS_1


"Hah? Semenakjubkan itukah?" Lia bergumam ketika mendengar mereka bertengkar. Dia kemudian menyesapnya tetapi kemudian mengerutkan kening. "Menurutku wine yang kucicipi di Firian lebih enak dari ini, dan waktu itu wine yang kucicipi hanya wine generasi kedua."


Yang bisa dia rasakan dari wine ini adalah asam dan juga sedikit pahit, seolah-olah wine itu diproduksi beberapa produsen terpencil yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan wine termurah yang dapat ditemukan di desa.


"Kamu tidak akan mengerti." Melia menggelengkan kepala dan melanjutkan, "Wine ini pasti telah disimpan selama beberapa tahun. Mungkin tidak langsung terasa seperti itu pada tegukan pertama, tetapi jika kamu mencicipinya dengan hati-hati, kamu dapat merasakan lapisan dan tekstur wine yang berbeda."


Dwi juga tersenyum ketika dia melanjutkan ucapan Melia, "Untuk wine yang telah disimpan selama beberapa tahun, rasa buahnya akan lebih rendah dibandingkan wine yang masih muda, dan rasanya lebih lembut saat diminum. Rasa cokelat dan akar manisnya juga akan lebih kuat. Wine pasti menua dengan baik."


"Wine ini sebenarnya disimpan pada suhu yang sempurna di tempat terbaik. Alasan rasanya agak pahit adalah karena wine ini telah disimpan selama beberapa tahun," tambah Luis.


Semua informasi yang Luis jelaskan ini dia dapatkan dari Shopazon saat dia mendapatkan wine ini dengan harga 1.500 dolar di marketplace.


Jumlah yang sama dengan uang yang digunakan Luis untuk membeli 10 persen saham Industri Hennerik saat itu, jadi wine ini sangat berharga dan memiliki nilai sentimental baginya.


"Setiap botol wine tua memiliki kisahnya masing-masing untuk diceritakan. Aku ingin tahu cerita apa yang dimiliki wine ini?" Melia bertanya, penasaran.


Dibandingkan rasa wine, dia lebih tertarik pada sejarah di balik wine ini. Sebagian besar red wine dikumpulkan oleh kolektor karena berharga dan juga karena cerita di balik pembuatannya.


Sama seperti barang antik, tetapi alih-alih disimpan di dalam lemari, beberapa wine tua juga bisa dininum.


Luis memutar dasar gelas wine. Seolah-olah dapat melihat ceritanya melalui putaran wine tersebut.


"Tahun 1776 bukanlah tahun biasa, karena Ardania saat itu berhasil mengusir penjajahnya dan akhirnya menjadi negara merdeka. Untuk memperingatinya, mereka menggunakan anggur dan bahan-bahan terbaik lainnya pada saat itu untuk membuat beberapa ratus botol wine terbaik."


Luis melanjutkan, "Sebenarnya, alasan wine ini berharga bukan karena tahun pembuatannya. Wine ini bahkan tidak dibuat dengan teknik fermentasi terbaik, tetapi keunikannya berada di asalnya."


"Tunggu, jadi wine ini memiliki sejarah lebih dari 200 tahun?" Lia tidak percaya mendengarnya, sementara itu Melia dan Dwi saling bertukar pandang ekspresi mereka muram.

__ADS_1


Mereka tiba-tiba merasa seperti wine di tangan mereka terasa lebih berat.


Mereka lebih terkejut mendengar sejarah di balik wine itu dibandingkan dengan tahun pembuatannya. Wine ini sekarang menjadi tak ternilai di mata mereka.


__ADS_2