Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
Pelanggan Tetap


__ADS_3

"Alea, cepat, ucapkan terima kasih," kata Vina dengan ekspresi yang sulit dibaca.


...................................................


"Terima kasih." Alea mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan suara yang manis.


"Ayo! Ayo! Ayo! Kejar mereka!" Perhatian Luis semuanya tertuju pada ponselnya. Ia mengetuk-ngetuk ponselnya dengan cepat. Terlihat jelas ponselnya itu tidak bereaksi secepat jari-jarinya. Rata-rata, setiap tiga kali dia menekan tombol, dia hanya bisa menyerang satu kali.


Meskipun ponselnya bereaksi lambat, serangannya sangatlah kuat. Untuk pertandingan ini, dia telah memilih karakter yang kuat. Selama ada seseorang yang bisa mendukungnya di depan, dia bisa menghabisi semua musuhnya.


Namun, ini hanya bisa berhasil jika tidak ada pemain yang menjadi rekan satu timnya. Suatu ketika, Luis bertemu dengan seorang gadis yang terus-menerus membiarkan lawannya menang hanya karena suasana hatinya sedang tidak baik. Pada akhirnya, mereka kalah.


Saat sedang asyik bermain, tiba-tiba ponselnya berdering. Luis tidak keluar dari game dan langsung menyerang base musuh.


Semenjak Lula membuatnya harus berhenti bermain beberapa waktu lalu, dia membeli sistem asisten game. Akhirnya, kesempatan untuk menggunakan sistem itu telah datang.


Luis melihat nama si penelepon dan mengernyitkan alisnya. Segera setelah dia mengangkat telepon, terdengar keras suara musik. "Ada apa, Xavier? Kau ada di mana sekarang?"


Orang yang menelepon adalah Xavier White. Dia adalah teman sekelas Luis di universitas. Dulu saat masih kuliah, mereka berdua adalah teman dekat. Setelah mereka lulus dari universitas dan karena insiden yang melibatkan Larra, Luis lebih memilih untuk tinggal di rumah. Seiring berjalannya waktu, mereka jarang saling menghubungi.


Beberapa tahun kemudian, Luis mendengar Xavier mulai berkencan dengan primadona angkatan mereka. Dari apa yang dia dengar, kehidupan Xavier cukup baik.


Xavier terdiam selama beberapa saat sebelum berkata, "Luis, bisakah kau mengirimkan uang untukku?"


"Tentu, kemana aku harus mengirimkannya?"

__ADS_1


"Bar Relung," jawab Xavier.


Dalam hati, Luis bertanya-tanya, "Bar Relung? Bukankah itu nama bar milik Keysia?"


Luis sebenarnya penasaran, namun dia memutuskan untuk tidak mencari informasi lebih jauh. Setelah berpakaian, dia mengambil ponselnya dan pergi.


Saat masuk ke bar, terdengar suara keras, dan Luis mengernyitkan alisnya. Beberapa menit kemudian, dia menemukan Xavier duduk di sudut bar bersama dengan seorang gadis di sampingnya. Namun, gadis itu tidak terlihat seperti pacar Xavier.


"Ada apa? Apakah kau tidak takut pada Liliana? Selain itu, beraninya kau meninggalkanku tak ditemani?" tanya Luis.


Ketika dia melihat botol-botol anggur di atas meja dan Xavier, yang sedang mabuk, Luis mengerutkan alisnya lagi.


"Aku sedang sedih. Jadi, aku perlu minum," jawab Xavier. Kemudian, dia mengambil gelas dan melanjutkan minum. "Kalau kau ingin punya teman, ada banyak gadis di sekitar sini."


"Baiklah." Luis mengangguk seraya duduk. "Katakan padaku, apa yang terjadi?"


"Tuan, bukankah Anda harus membayar tagihan ...?" seorang pelayan bertanya pada Xavier dengan nada khawatir.


Tanpa ragu, Luis bertanya, "Berapa harganya?"


Segera, pelayan itu berbalik ke arah Luis. Pelayan itu terdiam sesaat sebelum tersenyum dan menjawab, "Tuan Nardo, totalnya adalah 3.000 dolar."


"Aku mengerti." Luis mengeluarkan kartu kreditnya dari dompetnya dan berkata, "Ambilkan aku minuman."


"Tentu."

__ADS_1


Mendengar itu, Xavier tertawa ketika berkomentar, "Aku tidak menyangka kau sepertinya adalah pelanggan tetap di sini. Kupikir kau hanya suka menghabiskan waktumu di sofa."


"Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Aku bukan makhluk pemalas. Aku jarang keluar rumah karena aku malas." Luis mengerutkan bibirnya. Setelah menjawab, dia meminum alkohol,


"Karena kau selalu di rumah, aku harus menyebutmu apa?" Xavier bertanya.


"Kau ini kenapa? Kenapa kau datang ke bar dan mencari ..." Luis melirik gadis di samping Xavier. "Apa kau bertengkar dengan Liliana?"


"Aku dan Liliana ... sebentar lagi mungkin akan putus," kata Xavier sambil menenggak seluruh isi botol bir.


"Kenapa? Kalau tidak salah ingat, kalian terlihat seperti pasangan yang berbahagia." Luis bertanya dengan bingung.


Seiring dengan kemajuan teknologi, Luis bisa memeriksa situasi teman-temannya saat ini melalui media sosial. Karena itulah, meskipun jarang datang berkumpul, dia tahu apa yang sedang terjadi di kalangan teman-temannya. Ditambah lagi, Xavier dan Liliana selalu memamerkan cinta mereka di Instagram.


"Ada apa lagi? Keluarganya memandang rendah aku," jawab Xavier dengan tawa sedih.


"Aku bukan dari kota besar, dan keluargaku tidak begitu kaya. Sementara Liliana, keluarganya punya bisnis mobil yang sudah lama sukses. Jadi, mereka menganggapku bukan siapa-siapa. Anggota keluarganya menerima hubungan kami, tetapi ibu Liliana selalu bicara padaku dengan begitu sinis. Hari ini, aku makan bersama keluarganya. Ibunya memasak hidangan pedas untukku. Dia bersikeras aku harus makan lebih banyak..."


Tiba-tiba, Xavier tertawa terbahak-bahak seolah memikirkan sesuatu yang lucu. Saat dia tertawa, air mata mulai mengalir di pipinya. Kemudian, dia melanjutkan, "Rasanya pedas sekali sampai-sampai lidahku seperti terbakar dalam gigitan pertama. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa dia membenciku. Apakah dia perlu memperlakukanku seperti ini?"


Sekali lagi, Xavier menghabiskan sebotol bir.


"Kau bisa pergi sekarang," kata Luis kepada gadis yang duduk di samping Xavier.


"Tapi ..." jawab gadis itu ragu-ragu. Karena dia akan mendapatkan komisi yang lebih tinggi jika dia tetap tinggal, tentu saja, dia tidak ingin pergi.

__ADS_1


Namun, dia takut dengan aura menakutkan Luis. Karena itu, wanita itu hanya bisa berdiri tercengang.


__ADS_2