
Jelas Lia sudah mengatur semuanya, karena dia langsung mendatangi meja resepsionis dan mengambil kunci kamar. Luis kemudian mengikuti Lia ke lantai atas hotel, di mana terletak deluxe suite yang menghadap ke arah sungai.
.........................................
"Wow. Oke, jadi ini yang namanya berlebih-lebihan," gumam Luis sambil mengikuti Lia memasuki suite. "Kadang aku tidak mengerti seperti apa pemikiran orang kaya. Bukankah tinggal di sini hanya membuang-buang uang saja?"
"Dasar kamu, aku mencoba membuatmu terlihat lebih bermartabat!" Lia memutar matanya dan memukul kepala Luis dengan kartu kamar. Jangan khawatir, aku akan menagih pengeluaranku kepadamu.
"Oh, ayolah. Kenapa kamu mau menawar harganya? Kamu kan sangat kaya!" Luis hanya tersenyum sambil menimpali.
"Memangnya kamu tidak kaya?" Lia mengangkat alis dan diam saja selagi dia berjalan masuk ke kamar dengan sepatu haknya.
Tak lama kemudian, Lia membuka salah satu pintu kamar suite dan melihat seorang wanita pirang cantik menunggu di kamar itu.
"Halo. Apakah Anda Tuan Nardo?" Wanita itu secara naluriah tahu bahwa orang yang ditunggu-tunggunya akhirnya tiba.
"Ya, benar." Luis mengulurkan tangan setelah Lia menerjemahkan perkataan wanita pirang itu untuknya.
"Oh, syukurlah akhirnya Anda ada di sini. Saya Claudia Cole, asisten Tuan Smith." Claudia mengulurkan tangan dan menjabat tangan Luis dengan gembira.
Pasti ada alasan bagi Claudia, asisten Carlos Smith , untuk datang jauh-jauh ke Cania seperti ini. Mungkin ada beberapa perjanjian otorisasi dan proyek pengembangan Industri Hennerik. Semua perjanjian itu ditulis dalam Bahasa Birton, dan berdasarkan tingkat kefasihan Luis, dia tidak mungkin bisa memahami konteksnya.
Dalam penjelasan Claudia, dia menyebutkan bahwa ada peristiwa besar yang akan segera terjadi di Industri Hennerik, dan Industri Hennerik akan segera menembus pasaran di banyak negara. Yang paling penting, industri mereka juga akan membuat terobosan di area pengembangan energi terbarukan dalam waktu dekat.
__ADS_1
Berdasarkan kata-kata Claudia, Industri Hennerik sekarang sudah memiliki tujuan jelas dan stabil, jadi Luis tidak perlu terlalu banyak ikut campur. Carlos mengutus Claudia karena dia tidak ingin mendengar ada yang keberatan selama pertemuan dengan dewan direksi, terutama dari Luis, yang memegang 10 persen saham perusahaan.
Tidak pernah terpikirkan oleh Luis untuk ikut campur dalam urusan mereka. Dia bahkan tidak mengerti bahasa mereka, jadi bagaimana dia bisa melakukannya?
Lagi pula, dia membeli saham itu seharga 1.500 dolar, dan dia tidak perlu melakukan apa pun untuk mendapatkan uang, suatu hal yang menguntungkan baginya.
"Tuan Smith berharap kerja sama ini bisa sukses," ucap Claudia penuh hormat.
Bagaimanapun juga, Luis tetap merupakan salah seorang dewan direksi di Industri Hennerik, jadi Claudia tetap harus bersikap hormat saat berbicara dengannya.
"Saya pun berharap begitu." Luis balas tersenyum dan mengangguk. Dia sebenarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi di perusahaan itu, dan dia juga tidak mengerti sepatah kata pun ucapan Claudia. Tapi dia tahu bahwa sahamnya itu berharga, dan akan menjadi harta tak ternilai di masa depan.
"Jadi, sekarang dia sudah jadi salah satu direktur di Industri Hennerik?"
Wow. Saham itu bernilai sekitar 150 juta dolar! Mendengar itu, Lia terbengong-bengong.
150 juta dolar! Tidak semua orang bisa mendapat uang sebanyak itu walau mereka bekerja dan menabung seumur hidupnya.
"Yah, apa yang bisa kukatakan? Aku ini dicintai oleh para Dewa." Luis mengangkat kepalanya dengan arogan sambil berkata begitu.
"Oh, Luis. Kamu jadi sombong sekali, ya, akhir-akhir ini?" Lia meletakkan tangan di bahu Luis dan meremasnya. Dia mungkin tampak menyunggingkan senyum, tapi matanya menyatakan sebaliknya.
"Oh, Yang Mulia, saya hanya berupaya sebaik yang saya bisa!" ujar Luis dengan kepolosannya yang berlebihan.
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu tunggu? Bawa masuk makanannya! Apa kamu mencoba membuatku kelaparan?"
"Bagaimana kalau coba aku dulu?" Luis menjawab penuh canda.
Wajah Lia merona merah saat Luis berkata begitu. Kemudian dia menyeringai. "Dikukus atau dipanggang?"
Claudia hanya tersenyum dan menonton dengan ekspresi geli saat mereka terus bertengkar.
Hotel Bulevar memiliki restoran sendiri, yang berarti mereka juga memiliki layanan kamar. Luis memesan lewat telepon, dan segera saja seseorang mengirim makanan ke suite mereka. Walaupun harganya agak mahal, tapi pelayanannya tetap patut diacungi jempol.
Karena Claudia juga ada di sana, Luis memesan kepiting raja, lobster biru, seafood platter, sup tomat, dan banyak lagi.
Makanan yang terlihat lezat disajikan di depan mereka satu per satu. Luis kemudian melirik dompetnya, dan dia berpikir bahwa makanan ini pasti akan menguras habis isi dompetnya itu.
"Luis, apa kamu sedih karena mentraktirku?" Lia memandang Luis sambil tersenyum.
Luis segera memaksakan senyum masam dan menjawab, "Tentu saja tidak, Nona. Mentraktir Anda adalah suatu kehormatan bagi saya."
Mereka bertiga mulai menikmati hidangannya. Namun, dibandingkan dengan keanggunan Claudia dan Lia saat makan, etika Luis sangat tidak tahu adat dan kasar. Dia mungkin sudah menelan satu lobster bulat-bulat kalau Claudia dan Lia tidak ada di sana.
Tapi, kalaupun misalnya Luis melakukan itu, Claudia hanya akan memuji kepribadiannya yang menarik dengan mata berbinar, yang membuat Lia sangat senang.
Mungkin seseorang akan selalu terlihat menarik kalau mereka kaya-raya. Bahkan walaupun mereka menggerogoti buah sambil berlari, mereka akan tetap menarik kalau saku mereka dipenuhi uang.
__ADS_1