Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
61


__ADS_3

Luis menggelengkan kepala saat bersiap untuk minum seteguk lagi. "Keahlian koki sebenarnya tidak terlalu penting. Biasanya lebih karena bahan yang digunakan. Jika mereka menggunakan bahan-bahan berkualitas buruk, masakannya akan terasa tidak enak. Aku membeli ini langsung dari laut. Ini lobster liar, jauh berbeda daripada lobster budidaya."


...............................................


Meskipun ada lima ekor lobster, tidak banyak daging yang tersisa setelah cangkangnya dibuang. Semua itu hanya cukup untuk mereka berdua.


Luis menggelengkan kepala saat berkomentar, "Namun, terkadang aku merasa lobster besar ini terlalu dipuja-puja. Yang ukurannya lebih kecil pun tidak jauh beda cita rasanya."


Karena sekarang Luis adalah seorang koki master dengan pengalaman puluhan tahun, kini dia tahu banyak tentang seafood.


Luis menambahkan, "Mungkin lobster terlihat lezat saat disajikan karena ukurannya. Banyak orang menyukainya. Atau, lebih tepatnya, orang memakannya hanya karena harganya yang mahal. Namun, baik lobster maupun udang kecil, rasanya tidak jauh berbeda jika dimasak dengan benar."


"Sepertinya kamu tahu banyak tentang ini," ujar Marry sambil tersenyum.


Luis mengangguk. Akhir-akhir ini dia tidak melakukan banyak hal selain makan seafood. Awalnya, ia selalu memilih lobster atau kepiting yang lebih besar. Setelah beberapa saat, dia sadar rasanya tidak begitu enak. "Aku belajar banyak saat aku makan makanan yang lebih beragam. Kalau kamu mau, aku akan memberimu beberapa ton."


"Jangan. Aku tidak bisa menerima itu. Aku bahkan tidak punya tempat untuk menyimpan berton-ton seafood." Marry mengibaskan tangan dengan panik karena tidak setuju.


Beberapa ton seafood saja akan memenuhi seluruh ruangan di rumahnya, kecuali dia mau menyewa gudang penyimpanan. Akan tetapi, itu berarti dia harus membeli peralatan untuk menyimpan seafood.


"Biarkan saja aku datang dan makan bersamamu."


"Sama sekali bukan masalah. Datang saja kapan pun kamu mau. Aku tidak terlalu kerepotan memasak untuk satu orang lagi."


Tidak mungkin Luis akan menolak seorang wanita cantik yang mau makan bersamanya. Ia tentu akan menikmati kehadiran warita ini.


"Sekarang aku akan memperingatkanimu kalau aku tidak akan mampu membayar makananku," ujar Marry bercanda.


Hal-hal yang biasa Luis makan memang lumayan mahal. Marry tidak akan pernah punya cukup uang untuk membeli sebotol wlite liquor itu, misalnya.


"Kamu bisa membayar dengan cara lain," jawab Luis yang tersenyum malu.


"Oh, kamu mau yang seperti itu, ya?" Marry menjilat sudut bibirnya. Selain itu, dia tidak punya apa-apa lagi selain firasat baik terhadap Luis. Dia tidak akan keberatan jika hubungan mereka akan berkembang menjadi lebih dari sekadar teman.

__ADS_1


Uhuk! Uhuk!


Luis menyeruput white liguor-nya dan hampir menyemburkannya. "Maaf, tetapi aku masih bocah."


"Bohong." Melihat reaksinya, Marry menganggapnya sangat lucu. Pria Jain tentu akan menerjang kesempatan itu, tetapi sepertinya Luis terperanjat.


"Itu karena aku ini sangat polos. Kupikir aku ..."


Marry cemberut, dan raut kesal muncul di wajahnya. "Yang benar saja. Kamu ini penakut sekali. Aku ini bukan anak kemarin sore. Aku jelas-jelas tahu kamu mau melakukannya, tapi kamu tidak berani, 'kan?”


Sembari mengatakan itu, Marry sontak berdiri dan menenggak segelas liguor. Ia berjalan ke samping Luis.


Dia lumayan tinggi, setidaknya dibandingkan dengan gadis-gadis lain. Saat ia duduk di kursi di seberang Luis, tampaklah kelebihannya ada di tinggi badan.


"Kamu mau apa?" Luis semakin gugup saat Marry mendekatinya. Dia akan bangkit dan melarikan diri. Namun, Marry menempelkan ujung jarinya ke dahi Luis dan membuat pria itu terduduk kembali.


Dia tidak menggunakan banyak tenaga tetapi Luis tidak bisa bangkit.


"Kamu bilang kamu masih perjaka. Itu bohong, 'kan?"


Marry hanya mendandani wajah cantiknya dengan biasa saja. Mungkin ini karena alkohol, tapi pipinya merona merah, dan itu membuatnya semakin memikat.


"Jangan coba lakukan apa pun." Luis menelan Tudah. "Aku bukan orang baik ... aku sudah me-menebar be-beniliku berkali-kali ..."


Tebakan Marry benar. Lelaki ini masih perjaka. Meskipun dia telah berkencan dengan Larra selama empat tahun, dan mereka telah melakukan segala hal berdua, mereka tidak pernah tidur bersama. Pada akhirnya, Luis tidak pernah tidur dengannya sampai mereka putus.


"Kamu benar-benar perjaka." Marry menatapnya dengan penuh pengertian saat melihat reaksinya.


Saat ini, kebanyakan orang berusia 20-an sudah pernah berkencan. Tidak banyak yang bisa menjaga keperawanannya setelah berkencan.


Lagi pula, pasti ada banyak waruta yang ingin tidur dengan pria kaya seperti Luis.


Namun, di usianya yang sekarang, dia masih perjaka. Cukup mengejutkan. Setelah agak tenang, Marry merasa ada semangat dalam dirinya.

__ADS_1


Orang-orang selalu berkata pengalaman pertama adalah yang terindah.


Marry menjilat bibirnya sembari mengangkat dagu Luis. "Kamu mau kuajari?"


"Hei, sudah kubilang aku ini bukan orang baik. Sekarang aku mabuk. Aku bisa melakukan apa pun. Kamu akan menyesal kalau kamu mencoba melakukan yang aneh-aneh." Luis semakin cemas.


Biasanya, dia bisa menghindar dalam situasi apa pun. Namun, sekarang tiba saatnya untuk melakukan itu, tapi dia merasa gugup.


Dia mungkin bisa melakukannya jika wanita itu adalah seseorang yang tidak dia kenal. Itu akan jadi cinta satu malam saja setelah kencan. Setelah itu, mereka tidak perlu bertemu dengan satu sama lain.


Namun, sekarang dia lumayan mengenal Marry dengan baik.


Dia merasa sangat gelisah.


Jika mereka benar-benar tidur bersama, tidak mungkin mereka bisa jadi biasa saja seperti semula.


"Hah! Tekadmu kuat sekali, ya? Ayo kita lihat apa yang bisa kamu lakukan. Aku ingin mengujinya," Marry menggodanya.


"Mari kita lihat apa yang bisa kulakukan padamu kalau kamu bersikeras. Aku akan membuatmu terluka!"


Bibir Marry semakin mendekat saat ia berbicara. Kemudian dia perlahan menutup matanya dan berkata, "Biarkan aku mengajarimu."


Kring!


Tiba-tiba ponsel di atas meja bergetar, dan suasana yang tadinya agak panas, seketika langsung kaku. Marry diam di tempat dengan canggung.


"Yah, aku sudah kenyang sekarang. Kenapa kita tidak jalan-jalan keluar?" Luis menarik napas dalam-dalam dan menunjuk ke arah luar.


"Aku juga sudah kenyang. Aku ... aku pulang saja." Marry merapikan pakaiannya sembari menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.


Dia berpikir, "Jalan-jalan keluar? Betapa canggungnya jika kami pergi bersama lagi? Aku ingin segera pergi dari sini."


"Hei, tasmu masih di sini." Luis memandangi Marry, yang seakan-akan ingin pergi. Dia buru-buru menyerahkan tas yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Terima ... terima kasih," kata Marry dan pergi diiringi suara sepatu hak tingginya yang menggema.


Luis menyaksikan Marry meninggalkan rumahnya. Kemudian, ia langsung mengambil sekaleng bir dari rak dan meminumnya, tetapi sensasi aneh dalam perutnya tidak bisa hilang.


__ADS_2