
Luis menyaksikan Marry meninggalkan rumahnya. Kemudian, ia langsung mengambil sekaleng bir dari rak dan meminunnyya, tetapi sensasi aneh dalam perutnya tidak bisa hilang.
...............................
Setelah menyesap tetes terakhir, dia membuang kaleng itu dan berjalan keluar rumah.
Embusan angin malam yang dingin menerpa tubuhnya dan menenangkan pikirannya. Tanpa disadari, embusan angin membuat rasa frustrasinya berangsur-angsur memudar.
"Hei, tampan, mau bermain denganku?" Seorang wanita gemuk berbalut gaun putih pendek sedang bersandar di samping. Tanpa malu-malu, dia menatap langsung ke mata Luis.
Secara naluriah, pria muda yang kuat sepertinya jauh lebih baik daripada pria paruh baya berusia 50-an.
"Aku tidak tertarik." Lamat-lamat, tatapan Luis menyapu seluruh tubuhnya. Meskipun warita ini masih punya pesona, tapi tidak ada yang spesial. Dibandingkan dengan Marry, dia jauh lebih buruk.
"Oh, ternyata kamu punya temperamen yang lumayan buruk. Aku tidak tahu. Apakah kamu cukup kuat?" Wanita itu sama sekali tidak kesal. Dia berjalan dengan langkah santai sampai dia tiba di sisi Luis. Tangannya terulur hendak memeluk lengan Luis.
Hanya dalam beberapa saat, Luis merasa bulu kuduknya berdiri.
Melihat sosok yang sangat menggairahkan begitu, dia hanya bisa menelan ludah. Dia mulai berpikir dalam hati,
"Sepertinya wanita ini ... juga sangat seksi ..."
"Bagaimana kalau lebih murah? Aku akan memberi kamu diskon." Wanita itu menjilat bibirnya. "Aku hanya tidak yakin apakah kamu punya kemampuan yang hebat."
Uhuk!
Luis terbatuk, ia hendak menolak tawarannya. Tetapi sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, muncul sinar cahaya yang menyilaukan. Kemudian, dia melihat beberapa petugas polisi tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Seketika, sebuah pikiran terlintas di benaknya. "Dia sedang menjebakku?"
Melihat belasan petugas polisi yang berdiri tidak jauh dari sana, Luis langsung merasa pusing. Dia membatin, "Apa yang sedang terjadi? Sepertinya aku dalam masalah besar."
__ADS_1
Sial!
Petugas polisi tidak memberi Luis waktu untuk berpikir. Dalam beberapa detik, dua petugas polisi bergegas menuju ke arahnya untuk memborgolnya.
Setelah itu, dua orang pria didorong paksa ke dalam mobil polisi. Luis bisa melihat bukan hanya dia, tetapi beberapa orang lagi juga tertangkap. Sepertinya, ini adalah penggerebekan terhadap tindakan asusila.
"Bawa mereka pergi." Pemimpin tim mengibaskan tangannya.
Di bawah pengawalan dua petugas polisi, Luis dibawa masuk ke kantor polisi. Dan bahkan sebelum dia melangkah, muncul seseorang yang lumayan familier tidak jauh darinya.
Zizi, mengenakan seragam polisi hijau tua, menyeringai dan mengamati Luis dengan tajam. Bibirnya tersenyum mengejek saat menatapnya. Sebelum kejadian ini, dia memiliki kesan yang lumayan baik terhadap Luis. Namun kali ini, kesan baiknya langsung hilang dalam sekejap.
"Ada apa dengan orang ini?" Zizi melirik polisi yang membawa Luis.
"Nona Vose, menurut Anda apa lagi yang dia lakukan? Kami baru saja melakukan penggerebekan terhadap perbuatan asusila." Snuth tersenyum.
"Tidak, saya hanya kebetulan lewat. Saya tidak melakukan apa pun," protes Luis dengan jengkel.
Layar kamera memperlihatkan foto Luis dan wanita itu saling berpelukan.
"Tapi saya sungguh tidak melakukan apa pun. Setidaknya, saya tidak jadi melakukannya, Anda ..." Luis mencoba menjelaskan.
Namun, Zizi mencibir. Kemudian, ia menoleh ke arah dua petugas di belakangnya dan berkata, "Aku akan menjaga orang ini. Kalian berdua bisa mengurus yang lain."
"Siap laksanakan," jawab mereka serempak tanpa bertanya lagi.
"Berdasarkan Peraturan tentang Sanksi Administrasi terhadap Pelanggaran Keamanan Umum, Anda punya dua pilihan. Pertama, bayar denda 750 dolar, dan Anda boleh pergi. Kedua, tinggal di sini selama 15 hari." Zizi menatap Luis sembari mengacungkan dua jari. "Pilih salah satu."
"Lebih baik aku membayar denda saja." Luis menggaruk kepalanya. Meskipun 15 hari tanpa keluar sama sekali bukan masalah untuk seorang makhluk pemalas sepertinya, tetapi ini bukanlah rumahnya. Ini adalah penjara. Jika dia diam saja di sini selama 15 hari, dia akan menjadi buah bibir di kota ini.
Akan jadi sangat memalukan, dan saat itu semuanya sudah terlambat untuk disesali.
__ADS_1
"Saya bisa membayar dengan pembayaran digital, 'kan?" Luis bertanya sambil lalu. Denda 750 dolar bukanlah jumlah yang terlalu besar baginya.
"Bisa." Zizi mengangguk. Ia tidak meragukan kemampuan Luis untuk membayar denda. Meskipun sekarang pria ini tidak berpakaian bagus, dilihat dari pendiriannya bahwa dia bisa mendapatkan 15.000 dolar sekarang juga, dia tidak tampak seperti kekurangan uang.
"Di mana ponselku? Sial, tadi aku membawa ponsel, 'kan?" Setelah merogoh sakunya, wajah Luis seketika pucat.
Dia hanya berpikir untuk berjalan-jalan sebentar saat keluar tadi, dan dia tidak membawa apa-apa.
Luis melepaskan jam tangannya dan berkata dengan lemah, "Coba ini, mungkin ini bisa."
"Jam tangan yang bagus." Zizi melirik jam tangan di genggamannya, dan matanya terbelalak. "Berapa harganya?"
Luis menggosok hidungnya dan menjawab, "Sedikit di atas 900 ribu dolar."
"Apa?" Tangan Zizi gemetar karena terperanjat dan nyaris menjatuhkan jam tangan itu. Dia tahu Luis kaya, tapi tidak menyangka akan sekaya ini. Dia bertanya-tanya keheranan, "Jam tangan? Harganya 900 ribu dolar? Siapa orang di dunia ini yang akan membeli jam tangan semahal itu?"
"Bagaimana kalau saya memberi Anda jam tangan ini, dan Anda meminjamkan saya 750 dolar?" Luis menjawab dengan lesu.
"Tidak akan!" Zizi menolaknya dengan tegas. "Kamu ini sangat kaya. Mengapa menemui wanita tua seperti dia? Dengan kekayaan Anda, Anda bisa pergi ke bar dan bergaul dengan banyak orang, 'kan? Sulit dipercaya Anda punya fetish tertentu begitu."
"Itu hanya salah paham." Luis tertawa canggung.
"Jika Anda tidak membawa uang tunai, Anda boleh coba menelepon teman-teman Anda. Banyak orang akan bergegas menolong Anda dengan kekayaan bersih yang Anda miliki," ujar Zizi.
"Saya rasa begitu..." Luis mengangguk dengan jengah. "Mohon maaf, bisakah Anda memberi pengecualian untuk saya dan melepaskan saya dulu? Saya akan pulang dan mengambilkan uang dendanya. Saya ini orang yang jujur." "Menurut Anda bagaimana?"
"Saya akan menuliskan surat utang dan membubuhkan cap jempol saya di atasnya?"
"Telepon saja." Zizi memberinya ponsel dan menyeringai.
"Mari kita lihat bagaimana keluarga dan teman-teman Anda menanggapi masalah ini."
__ADS_1