Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
Dokter Spesialis


__ADS_3

"Tidak usah, tidak apa-apa. Aku akan mencoba peruntunganku. Kalau aku tidak segera pulang, teman asramaku akan khawatir," ucap Eli.


......................................................


Itu adalah penolakan yang lumayan sopan. Luis tidak mempermasalahkannya. Bagaimanapun juga, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Eli. Akan lebih aneh kalau dia setuju.


Menara Adipati tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Karena itu, Luis memutuskan untuk berjalan pulang saja. Begitu dia kembali ke kenyamanan rumahnya sendiri, waktu sudah hampir pukul empat pagi. Dengan cepat dia mandi kemudian menjatuhkan diri ke tempat tidur.


Semua hal yang terjadi hari ini sudah menguras energinya. Dengan fisik lembeknya, dia sungguh kewalahan.


Beruntung baginya, dia tidak perlu pergi bekerja dan bisa tidur terus sampai siang hari. Bahkan ketika dia sudah bangun, dia terlalu malas untuk bangkit dari tempat tidur, jadi dia terus tidur-tiduran sambil memainkan Aliansi Hero.


Dia baru bangkit setelah jam tiga ketika perutnya mulai keroncongan. Dia menyikat gigi dan keluar rumah untuk makan siang.


Setelah makan, dia melirik rumah sakit yang tidak terlalu jauh. Dia membeli sekeranjang buah-buahan dan berangkat ke sana.


"Bagaimana keadaannya?" Vina sedang berbicara dengan dokter di luar bangsal.


"Dia baik-baik saja, tapi dia perlu waktu untuk pulih kembali," kata Vina, tersenyum pada Luis, meskipun agak dipaksakan.


"Luis?"


Sebuah suara yang familier tiba-tiba memanggil Luis. Dia berbalik dan melihat Lia, mengenakan sepatu hak, sedang berjalan ke arahnya. "Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sakit?"


"Tidak. Aku di sini untuk mengunjungi temanku." Luis dengan cepat melambaikan tangan. "Putrinya mengalami kecelakaan mobil, jadi kupikir aku sebaiknya datang menjenguk."


"Oh."


Lia mengangguk. "Apa Anda membutuhkan bantuan saya? Saya kenal dengan staf di sini."

__ADS_1


"Mereka memiliki seorang spesialis bedah yang sangat hebat. Saya dengar dia seorang rekrutan baru. Saya bisa menghubunginya untuk Anda kalau Anda mau. Seharusnya dia bisa sampai di sini sebentar lagi," saran Lia.


"Spesialis, Anda bilang? Kedengarannya mahal."


Ekspresi kekhawatiran melintas di mata Vina saat dia mencerna informasi itu.


Dia memang menginginkan putrinya dirawat dengan pelayanan medis terbaik. Namun, situasi keluarga mereka saat ini tidak memungkinkan.


Lia melirik Luis dan melihatnya mengangguk. Maka Lia menambahkan, "Jangan khawatir. Dokter itu teman saya. Dia hanya akan melakukan pemeriksaan sebentar. Selain itu, operasinya juga sudah selesai jadi tidak akan memakan biaya yang terlalu besar."


"Sungguh?" Vina mengangguk, tapi matanya masih penuh dengan keraguan.


Akhir-akhir ini, mengandalkan jasa spesialis tidaklah murah.


Vina kemudian memasuki bangsal untuk memeriksa keadaan Alea. Luis dan Lia menunggu di luar. Luis dengan cepat memanfaatkan waktu itu untuk memberi tahu Lia tentang situasi Vina.


"Jadi begitu ... Aku tidak tahu kamu itu orang yang begitu baik." Lia menepuk bahu Luis dengan ringan.


"Tentu ... Jadi, kenapa orang sebaik kamu masih lajang?" Lia memancingnya.


"Aku tidak punya waktu."


Luis menggaruk kepalanya sebagai jawaban. "Aku sibuk setiap hari. Aku tidak punya waktu berlebih untuk hal-hal lain."


"Begitu? Kamu sibuk melakukan apa? Main video game?" Lia mendengus. "Apa kamu masih patah hati karena putus dengan Larra sampai kamu hanya mengurung diri di rumah dan bermain video game?"


"Hei! Ini tak ada hubungannya dengan Larra. Aku hanya suka bermain game, jadi jangan menyeret Larra ke dalam hal ini." Luis melambaikan tangannya cepat-cepat.


"Ha-ha." Lia cekikikan. Dia bersedekap begitu percakapan mereka berakhir.

__ADS_1


Dia memahami temperamen Luis dan memutuskan untuk tidak mendesaknya. Dari luar, Luis mungkin mencoba menjadikannya bahan candaan, tapi Lia tahu Luis selalu serius setiap menjalin hubungan. Bagaimanapun juga, Larra adalah pacarnya selama empat tahun.


Ponsel Lia menyala karena ada pesan masuk. Dia menoleh ke arah Luis. Katakan pada mereka untuk bersiap-siap. "Spesialisnya sudah tiba."


"Cepat sekali," kata Luis terkejut. Tadinya dia kira mereka harus menunggu cukup lama.


"Dia seorang pakar terkemuka di departemen bedah. Dia harus menghadiri seminar medis nanti, jadi dia tidak bisa tinggal lama. Setelah memeriksa pasien, dia akan menyarankan rencana perawatan yang sesuai."


Luis tidak menjawab. Dia masuk ke bangsal dan memberi tahu Vina tentang spesialis itu. Kemudian, dia membantunya membersihkan ruangan.


Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka mendengar suara langkah kaki mendekati bangsal.


"Ha-ha! Sungguh suatu kehormatan menerima kunjungan Anda di rumah sakit kami, Tuan Andra."


"Tidak, tidak. Saya yang merasa terhormat bisa berada di sini!"


"Anda terlalu rendah hati, Tuan Andra. Dalam bidang ilmu bedah, Anda adalah salah satu ahli yang paling berpengalaman di dunia!"


Tak lama kemudian, pintu terbuka. Satu tim yang terdiri dari tujuh orang memasuki ruangan. Pemimpin tim itu mengenakan jas putih, seorang pria berwajah bulat, kelihatannya berusia sekitar lima puluhan.


"Perlihatkan laporan medis pasien padaku."


Pria paruh baya itu melihat sekilas laporan gadis itu sebelum berdiskusi dengan dokter lain di belakangnya.


Tak lama setelah itu, dia mendapatkan berbagai laporan lain yang diserahkan kepadanya. Setelah itu, ditambah dengan hasil pemeriksaannya sendiri, dia mulai menganalisis informasi yang dia dapatkan.


"Bagaimana kondisi putri saya?" Vina bertanya cemas.


"Tidak ada masalah besar. Operasinya berhasil. Sedangkan mengenai perawatan pasca operasi, saya harus berdiskusi dulu dengan dokter yang lain."

__ADS_1


Meskipun dia adalah pakar dalam bidang ini, dia masih berada di rumah sakit orang lain. Karena itu, dia perlu berdiskusi dengan dokter-dokter di sini sebelum mengambil keputusan.


__ADS_2