Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
70


__ADS_3

"Urus saja urusanmu sendiri," tegurnya. Kemudian, dia kembali meringkuk di sofa.


......................................


Dia masih merasa kesakitan walaupun teh hijau tadi cukup membantu mengurangi rasa nyerinya. Lagi pula, minuman hangat barusan itu bukanlah obat mujarab yang bisa menghilangkan semua rasa sakit dalam waktu singkat.


"Kamu baik-baik saja? Kalau tidak tahan, ayo ke rumah sakit," ujar Luis ketika melihat peluh di ujung hidung Lia.


Meskipun rasa sakitnya mungkin tidak fatal, tetap saja rasanya bisa sangat tak tertahankan.


Lia memelototinya. "Jika itu memang berhasil, seharusnya aku sudah tidak kesakitan lagi sekarang, 'kan?"


Lia tidak kekurangan uang. Tentu saja dia telah pergi ke banyak rumah sakit selama ini, tetapi tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa nyerinya.


"Baiklah."


Luis memutar mata. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka Shopazon.


"Mungkin ada yang bisa membantu di sini," pikirnya.


Dia mengetik "nyeri menstruasi" di bilah pencarian. Tidak lama, berbagai jenis metode pengobatan muncul.


"Obat pereda nyeri dan pil ajaib, 5.500 dolar."


"Akupunktur, 2.500 dolar."


"Keterampilan pijat, 550 dolar."


Matanya bersinar ketika melihat "keterampilan memijat," itu adalah satu-satunya pilihan yang bisa dia pakai untuk saat ini.


Jadi, dia membelinya tanpa ragu.


Sinar biru muncul sekejap di layar sebelum muncul serangkaian informasi secara terus menerus di benaknya. Setelah beberapa saat, dia mengulurkan tangan dan meletakkannya di atas perut Lia.


"Apa yang kamu lakukan?"


Tubuh Lia menegang, dia hampir melompat dari sofa. "Kuperingatkan kamu, jangan berpikir bahwa-"


Luis memutar matanya. "Hanya pijatan. Apa, sih, yang kamu pikirkan? Lagi pula, aku tidak tertarik padamu."


"Lagi pula, kamu ini pria dengan wajah wanita," tambahnya dalam hati.


Merasa kesal, Lia berseru keras, "Apa maksudmu itu?" Dia kemudian bertanya-tanya, "Apa-apaan itu? Apa aku tidak cukup cantik buat dia?"

__ADS_1


"Bagiku, kamu adalah pria." Luis inemutar matanya lagi. "Aku ini bukan gay. Kenapa pula aku tertarik pada pria lain?" pikirnya.


Sudut mulut Lia berkedut, tetapi dia tidak bisa membalasnya. "Aku tahu aku galak, tapi kenapa ... kenapa dia menganggapku sebagai pria?" pikirnya bingung.


Luis menjangkau untuk lanjut membuka kancing kemeja Lia. Sementara itu, Lia sudah tidak mempermasalahkannya lagi. "Lupakan saja. Lagi pula, dia melihatku sebagai pria. Apa gunanya?" pikirnya.


Dia kemudian mulai mengikuti instruksi di kepalanya dan memijat perut Lia dengan tangan besarnya.


"Dari mana kamu mempelajari ini? Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya?" Lia menyipitkan mata. "Apakah ini bakat rahasiamu?"


Keterampilan memijatnya memang sangat baik.


"Kita sudah lama tidak bertemu. Tidak bisakah aku mempelajari satu atau dua hal selama itu?" jawabnya santai.


Awalnya, Lia sedikit gugup, sebelum aklirnya santai, dia bahkan mendesah lega.


Selagi memijat pinggangnya, Luis menggerutu frustrasi, "Hei, Lia, bisakah kamu berhenti mengeluarkan suara-suara itu?"


"Walaupun aku memandanginu sebagai pria, bukan berarti kamu bisa mendesah seperti itu! Bagaimanapun juga, kamu adalah wanita cantik dengan suara yang enak didengar, suara yang bisa membuat siapa pun terangsang sekali mendengarnya. Jika kamu terus mengeluarkan suara-suara itu, aku khawatir tidak bisa menahan diri," gerutunya dalam hati.


Lia memejamkan mata dan berlagak pilon. "Ha! Aku akan mengeluarkan suara apa pun yang kumau. Bukankah kamu menganggapku sebagai pria? Kalau begitu, mari kita lihat!" pikirnya.


"Hei, Lia! Aku ini pria, oke? Jika kamu terus begini, tubuhku bisa bereaksi." Luis tersenyum penuh sesal, sadar bahwa akan memalukan jika dia menyadarinya.


Lia tertawa dingin. "Bukankah kamu tadi bilang kalau aku adalah pria di matamu? Kenapa, Luis? Apakah kamu tertarik pada pria juga?"


"Aku cuma menyebutnya begitu sekali. Haruskah dia bertingkah seperti ini? Dasar wanita!" gerutunya dalam hati.


"Huh. Bukan itu yang kamu katakan tadi," cibir Lia. "Nona ..."


"Mendekatlah." Lia memberi isyarat padanya.


"Baik, nona'"


Luis menanggapi dengan bergerak mendekati telinganya. Namun, saat dia menoleh, penglihatannya langsung dipenuhi dengan pemandangan dada berukuran 36D-nya.


Glek!


Luis menelan air liur dan mencoba mengalihkan pandangannya.


"Bagaimana penampilanku?" Suaranya terdengar malu-malu.


"Kamu terlihat menawan." Luis menganggukkan kepala tanpa sadar. Dia menyadari bahwa dia mungkin menyukai bola yang bulat.

__ADS_1


"Besarkah?" Lia sedikit menyesuaikan bra-nya dan berkata dengan nada menggoda.


"Besar. Terlalu besar." Menurut Luis, ukuran Lia relatif lebih besar dari yang biasa dia lihat.


"Apakah kamu mau menyentuhnya?" Tanya Lia.


"Aku mau ... tidak, aku tidak mau." Ekspresi Luis membeku setelah mengutarakan pikirannya. Dia tahu bahwa Lia bukan seseorang yang bisa dianggap enteng, setelah melihat bagaimana dia berurusan dengan orang lain yang melakukannya.


"Ha-ha. Luis, kamu nakal, ya." Lia menyeringai dan menarik telinganya.


"Aduh, duh, duh ..." Luis merintih kesakitan, dia berharap Lia akan berhenti mengerahkan lebih banyak tenaga.


"Ha-ha! Luis, kurasa sudah lama sejak terakhir kali aku memberimu pelajaran. Kamu sudah menyimpang. Apakah kamu pikir kamu bisa menyentuhnya begitu saja?" Lia menyunggingkan seringai. Dia memelintir telinganya sebelum melepaskannya.


"Dia pasti mengira kalau aku belum pernah merasakan memegang itu..." Luis menggumam perlahan.


Lia melompat marah mendengar perkataannya. Dia mengambil sebuah apel dari meja kopi dan melemparnya ke Luis. "Apa katamu tadi!"


"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mengatakan apa pun." Luis dengan cepat melambaikan tangannya secara defensif.


Mereka biasa bermain-main bersama, karena itu, kontak tubuh di antara mereka tidak dapat dilundari.


Walau sebenarnya hanya sesaat, bagi Luis itu sebaliknya.


Kring!


Lia hendak mengambil buah lain dari meja untuk dilempar ke arahnya. Namun, ponselnya berdering sebelum dia sempat melakukannya.


"Ambilkan." Lia memerintah Luis, alisnya terangkat.


Ponsel itu semata-mata untuk kontak pribadi, hanya orang-orang terdekatnya yang tahu.


"Ibu, ada apa?" Lia duduk tegak setelah melihat layarnya.


"Baiklah. Aku tahu. Jangan khawatir. Aku akan mengurusnya."


Dia melanjutkan, "Oke, akan kulakukan. Akan kututup teleponnya sekarang."


Setelah dia mengakhiri panggilan, Luis bertanya karena penasaran, "Ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada ibumu?"


"Ibuku dan temannya akan mampir ke Malatam. Mereka ingin bertemu untuk makan bersama. Dia memintaku untuk mengaturnya," jelas Lia sambil meletakkan ponsel.


"Oh." Luis menganggukkan kepala.

__ADS_1


Dia sudah pernah beberapa kali bertemu ibu Lia tetapi dia masih merasa asing dengannya.


Bahkan, dia bertanya-tanya apakah ibu Lia mengenalinya.


__ADS_2