
"Ha! Sudah terlambat sekarang!"
......................
"Sudah bertahun-tahun aku tidak melihatmu, kelihatannya kamu sudah sedikit lebih besar, ya?" Luis melirik nakal ke arah Samuel.
"Berani sekali kau bersikap sok akrab? Kau tahu tidak siapa dia?" Davis bertanya dengan kasar.
Berlebihan sekali jika mengatakan dia mengenal semua orang di Malatam. Meski begitu, dia yakin Luis bukan seseorang yang berpengaruh. Kalau tidak, seharusnya dia akan mengenali Luis.
Luis mengangkat bahu dan terus menatap jenaka ke arah Samuel. "Samuel Wijaya, julukannya Samu Mungil, 'kan? Dulu aku pernah membelikannya permen."
"Kau rupanya." Samuel memberengut saat teringat siapa Luis.
Samuel adalah adik Lia. Sekalipun Luis akrab dengan Lia, tidak sama halnya dengan Samuel.
Mereka adalah beberapa pria yang ada dalam kehidupan Lia, tetapi keduanya tidak pernah rukun. Dulu, mereka mungkin akan bertengkar hebat jika bukan karena Lia.
Meskipun Samuel membenci Luis, pada akhirnya dia memutuskan untuk menyingkirkan tongkat itu. Karena dia tahu Lia akan menyulitkannya jika dia menyerang Luis.
Ekspresi Davis berubah, dan dia berbisik, "Samuel, siapa orang ini? Kalau dia temanmu ..."
"Dia bukan temanku!" Samuel memelototi Davis sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Oke, oke," jawab Davis sambil mundur dua langkah.
Davis tahu posisinya dan dia tidak berani melawan kata-kata Samuel. Bahkan ayahnya saja tidak berani menyinggung Samuel.
"Samuel, kalau kau mengenalnya ..." Warren memberengut. Dia tidak ingin menyusahkan Samuel demi 30.000 dolar belaka.
"Tenang saja. Kami tidak sedekat itu." Samuel melambaikan tangannya dengan santai, dan tatapannya terarah pada Luis. "Kau! Demi kakakku, aku tidak akan menyerangmu hari ini. Anggap saja kau beruntung hari ini! Kalau tidak, aku pasti sudah menghajarmu sampai babak belur!"
"Samu Mungil, apakah kamu lupa bagaimana kamu memohon-mohon di depanku saat itu?" Luis menggodanya dengan jijik.
__ADS_1
Dulu, keduanya diam-diam pernah berkelahi. Namun, karena Luis lebih tua, lebih kuat, dan lebih tinggi dari Samuel, Samuel tidak punya kesempatan menang.
Meskipun Samuel selalu kalah, dia tidak pernah kapok.
"Luis Nardo!" Samuel mengamuk karena masa lalunya yang memalukan disebut-sebut. "Aku masih muda dan bodoh ketika kau merisakku. Jangan berani membicarakan omong kosong lagi, atau kau akan menyesalinya'"
Samuel akan dipandang rendah jika kata-kata Luis tersebar.
Namun, Warren mau tidak mau menatap Luis. Dia bisa melihat bahwa kedua pria itu memiliki hubungan yang tidak biasa.
Tapi tentu saja, hubungan yang tidak biasa bukan berarti hubungan yang baik. Luis jelas bukan anak ingusan, mengingat bagaimana dia bisa lolos setelah menghina Samuel.
Namun, Warren tidak tahu bahwa Luis bisa bersikap seperti itu karena Lia, bukan karena dia memiliki keahlian bertarung di dalam dirinya.
Lia telah memarahi Samuel habis-habisan sebelum pergi ke luar negeri, dan Samuel sangat ketakutan sehingga dia tidak bisa makan untuk sementara waktu, apalagi mencari masalah dengan Luis.
"Muda dan bodoh? Kamu bicara seolah-olah aku mengambil keuntungan dari anak-anak," kata Luis. Meskipun Samuel masih muda ketika perkelahian itu terjadi, dia jelas bukan anak yang bodoh.
Samuel mengetahui sebagian latar belakang Luis. Dia tahu bahwa puluhan ribu dolar pasti bukan jumlah yang kecil untuk Luis.
Dia siap menggunakan kesempatan ini untuk mempermalukan Luis jika lelaki itu tidak mampu membayar.
"Ayolah, berapa biayanya?" Luis bertanya sambil mengeluarkan ponselnya. "Kamu ingin dibayar tunai atau aku transfer uangnya ke rekeningmu?"
"Apa kau sudah gila? Mana mungkin kau bisa membayar tunai?" kata Davis dari belakang.
"Diam!" Samuel mendengus dingin. Dia boleh membentak Luis, tapi dia tidak akan membiarkan orang lain melakukan hal yang sama. Lagi pula, Luis adalah teman Lia. Tidak mungkin dia akan membiarkan Davis bersikap kasar.
"Uang tunai, kalau begitu. Aku ingin melihat bagaimana kau membayar dengan uang tunai sebanyak 30.000 dolar. Kalau uangnya kurang, aku akan datang dan meminta sisanya," kata Samuel sambil menantang Luis.
"Tentu saja." Luis mengangguk dan segera melakukan panggilan telepon.
"Kau sedang apa? Kau tidak sedang menelepon kakakku, 'kan? Tidak seperti itu caranya," ujar Samuel takut-takut saat melihat Luis menelepon.
__ADS_1
Samuel tidak kenal takut. Dia berani membantah orang tuanya ketika dia dimarahi, tetapi dia takut pada saudara perempuannya.
Walaupun Lia selalu baik kepada Samuel saat mereka masih kecil, dia juga sering dipukuli oleh kakaknya itu. Terutama waktu dia punya cinta monyet semasa sekolah dasar, Lia memukulinya sampai nyaris babak belur saat mengetahuinya.
"Tenang saja. Aku bukan orang yang tercela." Luis mengerucutkan bibirnya dan menelepon. "Walter, tolong siapkan uang tunai 30.000 dolar dan antarkan ke sini. Saya akan mengirimkan lokasinya sebentar lagi. Tidak, tidak ada masalah. Saya hanya butuh uang tunai. Saya akan mentransfernya kembali nanti. Oke, terima kasih."
"Apa? Kau sekarang jadi orang kaya?" Samuel menatap curiga pada Luis.
"Kau tidak kenal Luis? Apa kelihatannya dia tidak mampu membayar 30.000 dolar? Porsche itu tidak ada apa-apanya. Dia tetap mampu membayar biayanya sekalipun mobil itu adalah Bugatti." Dengan tangan terlipat, Susan mencibir sambil berdiri di samping Luis.
Luis melirik Susan dengan sedikit jijik. "Wanita ini benar-benar tidak tahu malu," pikirnya.
"Teman kakakmu?"
Warren Watson bersandar pada Porsche g11-nya dan berbisik padanya.
Dia tahu sesuatu tentang kakak perempuan Samuel Wijaya. Ketika dia masih kecil, dia mengidolakan Lia Wijaya. Lia Wijaya adalah bagian dari alasan mengapa dia berteman dengan Samuel Wijaya.
"Ya." Samuel mengangguk dengan sedih. "Kalau bukan, aku sudah akan menghabisinya sejak lama."
"Kamu harus lebih mengalah. Dia memiliki hubungan khusus dengan kakakku. Aku yang akan dimarahi jika dia mengatakan sesuatu yang buruk tentangku kepada kakakku."
Warren merasa terkejut dan berkata, "Kamu biasanya berani, tapi kamu takut pada kakakmu?"
Sudah lama sejak dia dan Samuel berteman. Samuel seperti seorang anak kecil nakal yang tak kenal takut, tetapi Warren tidak menyangka bahwa dia tunduk pada Lia Wijaya.
"Kakakku belum datang lagi ke sini selama beberapa tahun terakhir," kata Samuel dengan canggung.
Ada beberapa alasan yang membuat Samuel takut pada kakak perempuannya.
Sejak dia kecil, Tuan dan Nyonya Wijaya selalu sibuk. Pada dasarnya, Lia Wijaya yang mengasuhnya, dan metode pendidikannya adalah hadiah atau hukuman.
Ketika Samuel berhasil melakukan sesuatu dengan baik, dia akan diberi hadiah, dan ketika dia tidak melakukannya, dia akan dipukuli. Meskipun Samuel Wijaya adalah seorang anak laki-laki, dia seakan sudah dijadikan samsak tinju Lia Wijaya sejak kecil.
__ADS_1