
Eli masih seorang mahasiswi, jadi dia juga tidak memiliki terlalu banyak uang. Dia perlu menghubungi orang tuanya kalau dia membutuhkan ribuan dolar, tetapi dia tidak ingin mengganggu mereka selarut ini.
......................................................
Namun, dia sudah mendengar dari Evana bahwa keluarga gadis itu memiliki masalah keuangan, jadi mereka mungkin tidak dapat membayar uang sebanyak itu.
"Saya yang akan membayar," potong Luis.
Begitu dia mengatakan itu, perhatian semua orang langsung tertuju padanya. Vina mengungkapkan rasa syukurnya, "Terima kasih! Terima kasih banyak!"
"Apa boleh menggunakan Paypal? Saya tidak membawa uang tunai saat ini," Luis bertanya kepada dokter. Sangat tidak mungkin menemukan seseorang dengan uang tunai 1.500 dolar di saku mereka.
"Tentu saja." Dokter itu mengangguk.
"Tuan Nardo, izinkan saya menulis surat utang untuk Anda," kata Vina sambil mengertakkan gigi.
Terkejut, Luis menatap Viba dan akhirnya setuju, "Baiklah. Berapa banyak yang ingin Anda pinjam? Anda tentunya tahu bahwa 1.500 dolar tidak akan cukup, melihat kondisi putri Anda."
"15 ribu dolar ... apa tidak masalah?"
Dulu, Vina tidak akan berpikir bahwa 15 ribu dolar adalah masalah besar. Sekarang, jumlah itu sudah cukup untuk menghancurkan kehidupannya. Kalau dia menolak membayar, nyawa putrinya akan terancam.
"Tak masalah." Luis mengangguk.
Balasannya yang seketika dan tegas mengejutkan Eli. Bagaimanapun juga, dia tidak terlihat seperti orang yang memiliki uang 15 ribu dolar untuk dipinjamkan. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa dia akan mendapatkan uangnya kembali.
Menulis surat utang bukanlah masalah. Sebuah pesan sederhana sudah cukup. Luis melirik surat utangnya, mengeluarkan ponsel, dan dengan cepat mentransfer uang.
Untungnya, batas transfer Luis melewati 15 ribu dolar. Kalau tidak, mereka perlu meminta bank untuk melakukan transfernya.
__ADS_1
"Sudah." Luis memberi isyarat ke arah Vina dengan ponselnya. Lalu dia menuliskan nomor teleponnya di pesan itu. Kalau hanya ini saja, saya akan pergi sekarang. Hubungi saya jika Anda membutuhkan bantuan.
"Terima kasih, Tuan Nardo," kata Vina penuh syukur.
"Saya juga harus pergi," Eli pun angkat bicara.
"Maaf telah merepotkan Anda juga, Nona Yasmin," tambah Vina.
Saat dia berjalan keluar dari pintu rumah sakit, Luis menghela napas panjang. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan mulai mengisapnya. Kalau dia tidak melakukan itu, ada kemungkinan besar dia akan jatuh terpuruk pada saat itu juga.
Dia membakar surat utang dengan pemantik sebelum menggunakan apinya untuk menyalakan rokok.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?"
Eli kaget melihat apa yang dilakukan Luis. "Surat utang itu nilainya 15 ribu dolar!"
Dia bisa melihat bahwa Vina adalah orang yang memegang teguh integritasnya. Kalau Luis begitu saja memberinya 15 ribu dolar, Vina tidak akan mau menerimanya. Oleh karena itu, dia mengusulkan membuat surat utang untuk meyakinkannya.
Eli tercengang. Dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan Luis. 15 ribu dolar adalah jumlah uang yang besar untuknya.
"Bagaimana kalau kita makan sesuatu? Aku yang traktir." Luis memandang sekelilingnya sebelum menunjuk ke sebuah warung makan terdekat.
Saat dia melihat warung kecil itu, Eli tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening. Meskipun begitu, dia mengikuti Luis.
Luis sebenarnya menyarankan mereka makan bersama hanya untuk bersopan-santun. Karena itu adalah warung makan kecil, dia pikir kebanyakan gadis tidak akan mau pergi ke sana. Dia tidak menyangka Eli akan setuju.
Eli menghela napas dalam-dalam saat dia melihat tempat duduk yang berminyak dan duduk di salah satu kursi itu.
Pempek mereka dihidangkan lumayan cepat. Kelihatannya mengenyangkan. Meskipun penampilan luarnya tidak mengesankan, raSanya luar biasa enak. Rasanya seperti masakan rumahan.
__ADS_1
"Sudah lama sejak aku makan pempek."
Luis melahap makanannya.
Sejak orang tuanya meninggal, dia tidak pernah lagi membuat pempek sendiri. Dia hanya akan membeli pempek beku kalau dia sedang mengidam pempek. Pempek beku tidak bisa dibandingkan dengan hasil buatan sendiri.
Eli juga makan dengan lahap. Mungkin rasa lapar telah mendorongnya untuk tidak terlalu memikirkan keadaan sekitarnya. Tapi tetap saja, Eli menunjukkan tata krama yang lebih baik daripada Luis.
"Apa pekerjaanmu saat ini? Sepertinya kamu belum lulus," Luis berkata setengah hati.
"Aku?"
Eli berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Aku kuliah di Universitas Fatoli. Sekarang aku berada di tahun ketiga."
"Jadi kamu orang jenius, rupanya." Luis mengacungkan jempol untuknya. Universitas Fatoli terkenal diseluruh negeri. Semua orang tahu bahwa mahasiswa di universitas itu adalah mahasiswa terbaik di antara yang terbaik.
"Tidak. Aku tidak jenius. Aku hanya benar-benar beruntung." Eli tersenyum. Dengan rendah hati dia balik bertanya, "Bagaimana denganmu? Apa pekerjaanmu?"
Luis tidak terlihat seperti mahasiswa di matanya.
"Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku hanya seorang pecandu game yang bermain video game di rumah sepanjang hari.
Luis mengangkat bahu dengan ekspresi acuh tak acuh.
Setelah mereka selesai makan pempek, Eli menyarankan mereka bayar sendiri-sendiri. Luis tidak punya pilihan selain membiarkannya membayar setengah tagihannya.
"Kamu yakin tidak mau mampir ke rumahku? Tidak mudah mendapatkan taksi di jam segini," kata Luis ketika dia melihat hanya ada beberapa mobil di jalan.
"Tidak usah, tidak apa-apa. Aku akan mencoba peruntunganku. Kalau aku tidak segera pulang, teman asramaku akan khawatir," ucap Eli.
__ADS_1