
"Wow. Sejujurnya, cincin itu tidak berarti. Yang terpenting adalah menikah dengan orang yang tepat. Kalau tidak, dia mungkin tidak akan mampu membayar biaya pernikahan, apalagi cincinnya," kata Alena sambil menatap Luis dengan tatapan memancing.
............................................
"Luis, kamu tahu kan, pria harus selalu mengutamakan pekerjaan mereka dan menjaga milik mereka dengan baik. itulah satu-satunya cara menjamin masa depan yang baik. Jika Anda tidak berhasil mendapatkan pekerjaan, beri tahu saya Saja. Saya akan membantu Anda mencarikannya. Hanya dengan menggunakan nama saya saja, Anda akan mendapatkan setidaknya 5.000 dolar sebulan," Tomy Carlos menawarkan dengan senyuman, sambil meneguk minumannya. Pria itu tidak lain adalah suami Larra.
Sangat jelas pria itu ingin membuat masalah. Semua mata tertuju padanya. Dibandingkan dengan mereka yang baru saja melangkah masuk ke dunia nyata, Tomy adalah seseorang yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam masyarakat.
Dia selangkah lebih maju dari para anak muda yang masih harus bergantung pada dukungan dana keluarga mereka. Bahkan Rony tidak sepenuhnya mandiri. Bukan dia yang kaya, melainkan keluarganya. Bagaimanapun juga, dia belum menjadi kepala keluarga.
Tomy merasa dia dapat melakukan apa pun yang dia inginkan.
"Terima kasih, Tuan Carlos, tapi saya kira saya tidak akan menerima tawaran Anda," jawab Luis sambil menggelengkan kepalanya.
"Ha-ha!" Alex Wil, salah seorang peserta reuni itu, menyemburkan minuman yang baru saja dia teguk.
Meskipun Tomy tergolong cukup tua, bagaimanapun juga dia adalah suami Larra. Penolakan datar Luis berhasil membuat Tomy kesal. Sementara itu, wajah Larra berubah pucat.
"Kamu..." Tomy tidak tahu harus berkata apa.
"Makanan akan segera datang. Ayo main kartu," usul Rony sambil mengeluarkan setumpuk kartu. Tomy, Luis, bagaimana kalau kita bermain dua putaran? Taruhannya 750 dolar per putaran.
Rony sangat jelas tidak bermaksud untuk bersikap ramah. Dia ingin membuat Luis bangkrut. Jika setiap putaran menghabiskan 750 dolar, maka sepuluh kekalahan berturut-turut akan menghabiskan uang sebesar hampir 8.000 dolar. Dia sangat menyadari kondisi keuangan Luis dan dia paham bahwa 8.000 dolar bukanlah kerugian yang kecil.
__ADS_1
"Kamu benar-benar hidup di dunia yang berbeda dari kami semua, Garry. Uang 750 dolar itu jumlah yang besar, kamu tahu tidak? Bagaimana orang biasa seperti kami mampu membayarnya?" seru Alex.
"Luis, kamu harus ikut bermain. Jika kamu berhasil memenangkan dua putaran, kamu akan mendapat keuntungan besar," komentar Alena dengan genit.
"Benar, Luis. Ayolah, jangan jadi pengecut," timpal yang lain.
"Jika aku jadi kamu, aku pasti sudah bermain."
"Kalau begitu kamu saja yang bermain menggantikannya," kata Lia dengan ekspresi serius.
"H-hei, mereka kan tidak mengajakku." Orang yang berbicara sebelumnya berusaha membela diri dengan canggung.
Uang 750 dolar bukanlah jumlah yang kecil. Alangkah baik jika mampu meraih kemenangan. Namun, kekalahan akan menjadi pukulan keras.
"Tentu. Toh itu hanya beberapa ribu dolar. Bagiku itu tidak seberapa." Rony mengangkat bahunya.
Orang-orang di sekitar memanas-manasinya dalam hati karena perkataannya itu. Lagi pula, tidak semua orang di Jamarta sekaya itu.
"Aku akan bermain dengan kalian berdua," Lia berkata dengan dingin. Dia tahu keadaan Luis. Pria itu mungkin akan bangkrut jika bermain dengan mereka.
"Nona Wijaya, permainan ini hanya di antara kami saja. Luis, kamu tidak akan membiarkan Lia menerima pukulan untukmu, 'kan?" Rony mengejek.
"Uang 1.500 dolar tidaklah banyak. Aku akan bermain," Luis setuju dengan datar.
__ADS_1
Rony tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia mengira bahwa Luis hanya berpurapura tangguh, dan dia tidak keberatan. Bagaimanapun juga, dia dan Tomy bekerja sama. Jadi, akan sangat mudah untuk menjatuhkan Luis.
"Apakah kalian semua mendengarnya? Dia mengatakan uang 1.500 dolar tidak banyak. Tampaknya kamu kaya, Luis! Kamu tidak lagi sama seperti dahulu, yang berpikir dua kali hanya untuk membeli sepasang sepatu," ejek Alena.
Tomy tertawa kecil mendengarnya, lalu melepaskan jam tangan di pergelangan tangannya dan meletakkannya di atas meja.
"Astaga! Bukankah itu Breguet Marine yang legendaris? Kalau tidak salah, harga sebuah jam tangan itu 30.000 dolar lebih," gumam Alex kaget.
"Ya, kira-kira begitu. Tomy terlihat tidak peduli. "Dengar, Luis, Garry, saya sedang tidak membawa banyak uang hari ini, jadi saya akan mempertaruhkan jam tangan ini. Pemenangnya akan dapat memilikinya. Saya tidak akan melawan."
"Betapa murah hatinya Anda, Tomy," Rony memuji sambil mengacungkan jempolnya. "Saya akan mempertaruhkan BMW saya. Kamu juga harus meletakkan sesuatu di atas meja, Luis. Lagi pula, akan sangat memalukan jika kamu tidak bisa membayar ketika saatnya telah tiba nanti."
Brak!
Lia langsung mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tasnya dan membantingnya di atas meja. "Jika dia tidak bisa membayar, maka akulah yang akan membayarnya."
Rony tetap diam sambil menatap Luis. Dia yakin tidak ada pria yang akan membiarkan Lia melakukan itu. "Kamu punya rumah, bukan?"
"Rony, kamu sudah melewati batas," Lia memperingatkan.
"Sebenarnya aku memiliki terlalu banyak rumah. Aku tidak begitu ingat berapa jumlahnya. Ngomong-omong, tidakkah 30.000 dolar itu terlalu sedikit?" Luis menggaruk telinganya.
"Sedikit?" Rony mengejek. Kalau begitu, mengapa tidak kamu saja yang mengusulkan jumlahnya?"
__ADS_1