
Zizi menatap mata Luis dan berdehem pelan. "Baiklah, Tuan Nardo. Saya akan mempertimbangkannya."
............................
Langit mulai gelap. Luis duduk di sofa yang sedikit usang sambil bermain game, matanya menatap tajam ke layar ponselnya.
Baginya, tidak ada yang lebih menarik daripada game, bahkan emas sekalipun. Lagi pula, dia punya banyak uang.
Bugh! Bugh!
Suara dentuman sepatu hak tinggi terdengar di seluruh penjuru ruangan. Beberapa saat kemudian, Zizi masuk ke dalam ruangan dengan mengenakan kemeja putih dan celana jeans. Dia memandangi Luis yang sedang bermain game dengan perasaan gundah.
"Halo. Petugas Vose." Dengan tatapan menggoda, Luis melirik wanita itu. "Sepertinya Anda sudah siap."
Zizi menghela napas perlahan dan berpikir, "Sekarang aku sudah ada di sini, aku tidak boleh mundur."
"Di mana kamar mandinya?" dia bertanya dengan dingin.
Nada suaranya turun beberapa oktaf sehingga siapa pun yang mendengarnya akan merasa merinding.
Wajar saja. Tidak ada warita yang senang melakukan sesuatu di luar keinginannya.
"Dj atas. Carilah sendiri," ucap Luis sambil menunjuk ke lantai atas. Seolah-olah Zizi tidak lebih penting dari game yang sedang dimainkannya.
Setelah mendengar ucapan Luis, wanita itu berjalan ke atas tanpa sepatah kata pun.
Dia tidak menyadari bahwa tatapan Luis sama sekali tidak mengarah ke layar ponselnya. Oleh karena itu, pria itu melakukan banyak kesalahan sehingga dikalahkan oleh pemain lain.
Byur!
Mungkin karena tempat ini sudah lama tidak direnovasi, sehingga suara gemercik air di kamar mandi lantai atas bisa terdengar bahkan sampai ke lantai bawah. Hal ini membuat Luis kehilangan fokusnya.
Tak lama kemudian, suara percikan air pun berhenti. Digantikan oleh suara Zizi. "Naiklah ke atas dan mandi."
Suaranya terdengar samar namun tegas.
"Turunlah," teriak Luis, sambil memainkan ponselnya dengan setengah hati.
"Maksud Anda apa, Tuan Nardo? Apakah Anda berencana untuk melakukannya di bawah ..."
__ADS_1
Wajah Zizi berubah pucat. "Apa Anda senang
mempermalukan saya seperti ini?"
"Cepatlah turun ke sini!"
Pria itu mendengus dan menambahkan, "Turunlah jika masih menginginkan hal yang dapat menyelamatkan hidup kakek Anda."
"Baiklah!" Zizi berjalan ke bawah sambil menggigit bibirnya. "Kita sudah sejauh ini. Tidak masalah di mana pun kita melakukannya. Aku tidak akan bisa menghentikannya bahkan jika dia ingin melakukannya di luar. Ikuti saja kemauannya," pikir wanita itu.
Saat ini, Zizi tidak mengenakan apa-apa selain sehelai handuk. Meskipun sudah dibalut dengan handuk, namun lekukan tubuhnya yang indah masih terlihat dengan jelas, begitu juga lehernya yang jenjang dan kakinya yang ramping.
Mungkin karena pekerjaannya, Zizi tidak memiliki lemak berlebih di tubuhnya. Tidak diragukan lagi sosoknya bisa membuat siapa pun menjadi tergila-gila.
Sembari mengambil napas dalam-dalam, dia mengangkat kepalanya dengan pasrah. "Mari kita lakukan sekarang."
"Kenapa buru-buru?" Luis menyeringai. "Bagaimana jika Anda menjebak saya dan mengeklaim bahwa saya memaksakan diri pada Anda?"
Wajah Zizi memerah dalam sekejap. Itu persis seperti yang dia rencanakan sebelumnya, tetapi dia tidak akan mengakuinya. "Jangan khawatir, Tuan Nardo. Setelah malam ini, kita akan berpisah dan tidak ada hubungan satu sama lain."
"Apakah itu penting?" Luis menghela nafas.
"Anda ... apa maksudnya ini?" Ekspresi bingung terpancar di wajah Zizi saat dia menerima kotak itu.
Luis hanya memberi isyarat padanya untuk membukanya. "Coba lihat sendiri."
Zizi sejenak merasa ragu. Kemudian, dia membuka kotak itu dengan perlahan dan menemukan ginseng berkualitas tinggi di dalamnya.
Dia bisa mengatakan bahwa ginseng itu berbeda dari yang pernah dia lihat sebelumnya. Ukurannya saja sudah melampaui yang lain.
"Ini ..." Dia menatap pria itu dengan ragu-ragu. "Apakah Anda ingin saya melihat barangnya terlebih dahulu?"
"Itu adalah ginseng liar berumur 308 tahun yang berasal dari Gunung Falkariye," ucap Luis.
Dia hanya menyampaikan informasi yang didapatkan dari marketplace. "Kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang saya berikan kepada Vina."
Zizi menghela napas dalam-dalam sebelum mengembalikannya kepada pria itu. "Jangan khawatir, Tuan Nardo. Saya akan memuaskan Anda malam ini."
Luis mendorong kotak tersebut ke samping. "Anda salah paham. Ini milik Anda sekarang."
__ADS_1
"A-apa yang Anda katakan?" dia bertanya dengan suara gemetar.
"Apakah aku sedang berhalusinasi? Apakah dia memintaku datang ke sini hanya untuk membodohiku?" dia bertanya-tanya dalam hati.
"Saya bilang ini milik Anda," tegas Luis dengan ekspresi serius di wajahnya.
"Tuan Nardo, bukankah Anda meminta saya ..."
"Apa? Memuaskan nafsu saya?" Dia menyeringai. "Saya hanya bercanda. Saya tidak akan pernah memaksa siapa pun untuk melakukannya. Lagi pula, hal itu tidak ada artinya bagi saya."
Pria itu melanjutkan, "Jangan dimasukkan ke dalam hati. Saya berbuat seperti ini karena Anda mengatakan bersedia melakukan apa saja. Jadi, saya ingin melihat seberapa jauh usaha Anda untuk mendapatkannya."
"Lalu, ginseng ini ... " Mata Zizi tertuju pada ginseng liar di tangannya.
Luis mengangkat bahunya. "Sejujurnya, saya sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Asalkan Anda datang malam ini, ginseng itu menjadi milik Anda. Saya hanya menebak-nebak apakah Anda akan datang atau tidak."
"Jadi, ginseng ini milik saya sekarang?" Zizi melihat ginseng itu dengan tatapan tidak percaya.
"Ini adalah ginseng liar berkualitas tinggi dari Gunung Falkariye. Harga per gramnya jauh lebih mahal daripada emas, apalagi jika ginsengnya berusia sekitar 300 tahun. Ini rasanya seperti mimpi," batinnya.
"Menurut Anda?" Luis memutar bola matanya. "Pakailah baju Anda. Akan muncul kesalahpahaman jika seseorang datang dan melihat Anda dalam keadaan seperti
ini." Mengetahui betapa berharganya ginseng itu, Zizi tidak berani mengambilnya begitu saja. Dia menarik napas
dalam-dalam dan berkata, "Tuan Nardo, saya bisa ..."
Luis melambaikan tangannya. "Saya tidak suka memaksa orang lain dan melakukan transaksi bisnis yang curang."
Bohong jika mengatakan bahwa dia tidak tertarik pada wanita cantik itu. Namun, dia masih memiliki moral. Ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa seseorang bisa kehilangan segalanya kecuali moral mereka. Begitu mereka kehilangan moralnya, maka mereka bukanlah manusia lagi.
"Tuan Nardo, ini bukanlah kesepakatan bisnis atau paksaan."
Zizi menggigit bibirnya dengan lembut, wajahnya memerah. "Bagaimana jika saya bersedia melakukannya?"
Pada akhirnya, Zizi tidak menginap. Menurut Luis, akan tetap menjadi kesepakatan bisnis jika mereka melakukannya, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Di Malatam, Taman Tirtajeluk menduduki peringkat tiga teratas tempat tinggal yang paling diinginkan. Maka dari itu, sebagian besar pemilik properti di sini adalah para pejabat pimpinan tinggi.
Properti di sini harganya selangit bagi warga negara biasa. Walau begitu, semua rumah besar terjual habis dengan cepat sesaat setelah dijual.
__ADS_1
Malatam tidak pernah kekurangan orang kaya. Yang dianggap sangat mahal bagi seseorang bisa jadi sangat murah bagi orang lain.