
Selama dia mau memberikan keuntungan untuk pabrik Albert Sanjaya dan yang lainnya, mereka pasti bisa menghasilkan banyak uang. Dia juga bisa membagi sebagian.
...........................
Namun, dia terlalu malas untuk mengatakan ini, dan dia juga enggan memberi mereka keuntungan. Bukan karena suatu hal lain, tetapi hanya karena ketidakbahagiaannya.
Karena kamulah yang membuatku tidak bahagia, mengapa aku harus membuatmu bahagia?
Itu hanya beberapa ratus ribu dolar. Luis Nardo benar-benar tidak akan merasa kelulangan hanya karena beberapa ratus ribu dolar. Jangankan beberapa juta, bahkan sepuluh kali lebih banyak pun, dia masih berani membatalkan kerja sama dan melawan balik mereka.
"Luis, itu 'kan beberapa ratus ribu dolar." Lisandra duduk di jok dengan perasaan yang rumit.
Bahkan, jika ayahnya bekerja dari pagi hingga malam, dia mungkin tidak dapat uang sebanyak itu dalam waktu sepuluh tahun. Sementara, Luis Nardo hanya membutuhkan satu kata untuk mendapatkannya. Kenapa dia menolak?
"Seperti yang aku katakan, uang, yang benar-benar dihargai bukanlah selembar kertas atau rangkaian angka, tetapi karena itu dapat memberi kita sesuatu yang membuat diri kita bahagia." Luis mengangkat bahunya dan memarkir mobilnya di sebuah alun-alun kecil.
"Kamu ingin makan apa?" Luis menepuk lembut kepala Lisandra dan bertanya.
"Aku ingin makan itu." Tanpa ragu-ragu, Lisandra menunjuk ke kedai mi.
Dibandingkan dengan restoran-restoran yang harga makanannya ratusan dolar, ini tidak diragukan lagi yang termurah.
"Oke, ayo makan itu," kata Luis mengangguk. Dia tidak pernah terlalu peduli soal pilihan makanan. Pria yang awalnya hanya makan mi instan selama sebulan, setelah menjadi kaya, tidak hanya akan makan di restoran kelas atas.
Dapat dilihat bahwa kedai mi ini sangat populer, dan meja-mejanya penuh. Suasana di sana jauh lebih ceria daripada restoran-restoran kelas atas itu.
"Pak, dua mangkuk mi." Luis dengan santai mencari tempat duduk dan memesan dua porsi mi serta kopi.
"Baik, mohon tunggu sebentar."
__ADS_1
"Drrrt."
Setelah beberapa saat, ponsel di atas meja bergetar. Setelah melirik identitas penelepon, Luis buru-buru menekan tombol jawab. "Lia, ada apa?"
"Memangnya aku tidak boleh meneleponmu tanpa alasan?" Suara Lia Wijaya datang dari ujung telepon.
"Tentu saja boleh. Jika ada apa-apa, katakan saja padaku. Aku akan menyelesaikannya dengan baik untukmu," kata Luis sambil tersenyum.
"Apakah kamu gagal mencapai kesepakatan dengan geng Albert Sanjaya? Mereka bersikap kurang ajar terhadapmu?"
Luis menyentuh hidungnya. "Tidak apa-apa. Mereka hanya ingin membuatku frustrasi. Aku langsung pergi. Apakah Albert Sanjaya meminta bantuanmu?"
"Memangnya dia berani melakukannya? Jika dia berani datang ke sini, akan kulemparkan cangkir ke wajahnya hingga pecah." Suara Lia Wijaya juga agak dingin.
Baginya, tidak menghormati Luis Nardo berarti tidak menghormatinya juga. Jika ada yang berani melakukannya, dia tidak akan ragu bersikap kasar.
"Kenapa kamu sangat marah? Itu bukan masalah besar." Luis menghibur Lia beberapa kali, tetapi dia tersenyum bahagia karena perhatiannya, "Itu bukan kerugian bagiku. Aku rasa pabrik mereka mungkin akan tutup dalam beberapa hari."
Sangat sedikit orang lawan jenis yang bisa tetap menjadi temannya. Kebanyakan dari mereka tidak mengobrol dengannya. Bahkan jika mereka mencoba mengobrol dengannya, dia tidak akan menjawab.
Alasan mengapa dia mempertahankan Albert Sanjaya sejak awal adalah karena dia memikirkan kerja sama antara Albert dan Luis Nardo. Jika ada perselisihan di kemudian hari, akan lebih mudah baginya untuk menemukan Albert Sanjaya. Namun, dia tidak menduga rencana kerja sama mereka batal secepat itu.
"Kita tidak boleh menyesali masa lalu. Aku tidak ingin berbicara dengan mereka." Suara Luis tenang, tetapi terdengar tegas.
"Baiklah," kata Lia singkat.
Dia juga paham tentang temperamen Luis. Luis seperti seekor keledai yang keras kepala yang tidak akan mundur setelah menabrak tembok. Begitu dia bertekad, sulit baginya untuk mengubah pikirannya hanya karena gagasan seseorang.
Ketika Lia pergi ke luar negeri, dia sebenarnya ingin mengajak Luis Nardo pergi bersamanya, tetapi laki-laki itu selalu menolak. Dan karena alasan ini, dia bahkan memukuli Luis Nardo tanpa ampun.
__ADS_1
Namun, meskipun Luis Nardo dipukuli, dia tetap bersikeras untuk tidak ikut pergi. Pada akhirnya, dia pergi ke luar negeri sendirian. Di kantor yang besar itu, Lia Wijaya melemparkan telepon ke atas meja, dan kemudian dia berbaring di kursi kantor besar, menghela napas panjang lega.
"Manajer Wijaya, dengan siapa kamu baru saja berbicara?"
Di seberang Lia Wijaya, seorang wanita jangkung dan ramping sedang duduk. Dia mengenakan busana kantor, yang dengan sempurna menunjukkan lekuk tubuhnya dan membuatnya terlihat sangat menarik.
Claire Wilde, sahabat Lia Wijaya, juga seorang tokoh senior di perusahaan itu dan merupakan Menteri Departemen Keuangan. Dia bisa dikatakan sebagai salah satu orang yang paling berkuasa di perusahaan itu selain Lia Wijaya.
"Hanya teman," ujar Lia Wijaya singkat.
"Seorang pria, 'kan?" Claire Wilde tampak penasaran. "Omong-omong, Lia, kamu tidak muda lagi. Sudah waktunya untuk memikirkan pernikahan dan memperkenalkan calon pasanganmu kepadaku. Jadi, aku bisa menilainya untukmu."
Lia Wijaya tidak peduli dengan pria lain kecuali Luis dan sangat percaya diri dengan pesona dirinya. "Percaya atau tidak, jika aku ingin menikah, aku bisa saja membuat sebuah pengumuman dan para pria akan berbaris dari sini ke Sungai Rawana."
"Tentu saja aku percaya. Betapa menariknya sang Lia. Kamu kaya dan cantik. Mereka yang ingin mengejarmu bisa mengantre panjang tanpa ada ujungnya." Claire Wilde setuju.
"Tapi, yang mana yang bisa membuatmu jatuh cinta? Sudah begitu banyak orang yang mengejarmu selama ini, benar? Generasi kedua yang kaya, elite industri, kutu buku ilnuah, dan orang-orang yang sangat tampan. Aku bahkan tidak bisa menghitungnya, tapi sebenarnya kamu suka siapa?"
"Putra keluarga Moran dari Grongka yang waktu itu adalah pria yang baik. Dia mengatakan di depan begitu banyak orang bahwa dia ingin mendapatkanmu dan memintamu untuk memberinya kesempatan. Tapi, kamu menyiram wajahnya dengan kopi."
"Memangnya seberapa baik dia? Aku hanya tidak tahan dia berlaku seperti itu." Lia mendengus dengan ketus.
"Bagaimana dengan yang ini?" Claire Wilde menunjuk ke ponsel Lia Wijaya dengan main-main dan berkata dengan penuh arti, "Aku berani bertaruh bahwa kamu memiliki hubungan yang sangat berbeda dengan pria ini. Memangnya kamu tidak tertarik padanya?"
"Apa yang kamu pikirkan? Itu temanku." Lia memutar bola matanya.
"Luis Nardo?" Claire Wilde mengangkat alisnya, "Siapa lagi memangnya?"
Lia memutar bola matanya. Selama bertahun-tahun, benar-benar tidak banyak pria di sekitarnya.
__ADS_1
"Apakah menurutmu Luis Nardo dan aku cocok satu sama lain? Sejujurnya, aku suka pria itu." Claire Wilde tersenyum. "Ha-ha."
Lia memberi Claire senyuman dingin yang membuat orang gemetaran.