Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
69


__ADS_3

Malatam tidak pernah kekurangan orang kaya. Yang dianggap sangat mahal bagi seseorang bisa jadi sangat murah bagi orang lain.


................


Sementara itu, Lia juga tinggal di Taman Tirtajeluk. Selain itu, rumah besarnya adalah salah satu dari beberapa rumah yang terletak di pusat dan kabarnya memiliki harga puluhan juta dolar.


"Lia, cepat buka pintunya. Aku ingin menemuimu."


Luis mengetuk pintu dengan keras.


"Tidakkah kamu lihat ada bel di sebelahnya?"


Tiba-tiba saja suara dingin tanpa emosi muncul dari belakang. Suara itu terdengar seperti sedang berbicara dengan musuh bebuyutannya.


Luis terkejut ketika berbalik dan mendapati Lia di belakangnya. "Astaga! Lia, kenapa kamu di belakangku?"


Dia mendengus. "Ada apa? Haruskah aku melaporkan keberadaanku kepadamu?" Kemudian, dia mengeluarkan serangkaian kunci dari tasnya dan membuka pintu.


Ketika Luis hendak mengikutinya masuk, suara dinginnya terdengar lagi. "Berhenti! Aku tidak mengenalmu."


Meskipun dia tahu bahwa penangkapannya adalah sebuah kesalahpahaman, Lia masih agak kesal.


"Kali ini mungkin salah, tapi bagaimana dengan yang selanjutnya? Selain itu, ini baru hal yang ku ketahui. Bagaimana dengan hal lain yang tidak ku ketahui? Aku bahkan tidak tahu apakah dia memang melakukannya atau tidak. Meskipun aku tahu aku tidak punya alasan untuk marah padanya, itu sudah kepalang terjadi!" pikirnya.


"Apa? Lia, aku sudah menjelaskannya padamu, 'kan? Itu murni sebuah kesalahpahaman. Aku benar-benar tidak melakukan apa pun." Wajah Luis tanpa ekspresi.


Lia hanya tergelak dingin.


Namun, dia tidak menghalanginya dan menyahut, "Kali ini mungkin salah paham, tapi bisa saja menjadi kenyataan di kemudian hari, siapa yang tahu? Terlebih lagi, jika kamu tidak tertangkap, kesalahpahaman itu bisa jadi kenyataan."


Menurut pendapatnya, mungkin tidak ada yang terjadi saat itu, tetapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak ditangkap.


"Lagi pula, pria berpikir dengan tubuh bagian bawah mereka'" pikirnya.


"Lia, kamu pergi ke mana tadi?" Luis menggigit apel yang diambil dari meja sembari duduk santai di sofa.


"Aku pergi mencari pria." Suara Lia sedingin es.


"Jika pria bisa mencari wanita, kenapa wanita tidak bisa melakukan yang sebaliknya?" tanyanya.


"Lia ..." Luis melonjak dari sofa, dia tercengang.


"Siapa yang membuatmu marah? Bisa-bisanya ..."


"Coba ulangi perkataanmu lagi!"

__ADS_1


"Apa? Apa aku tidak boleh mencari pasangan sendiri? Wajahku juga tidak terlalu jelek!" cemoohnya dalam hati.


Sambil terkekeh, pria itu kembali duduk. "Lupakan saja. Anggap aku tidak mengatakan apa pun."


Dia sangat mengerti kepribadian wanita itu. Jika terus mendesaknya, dia bisa kena hajar. Meskipun dia selalu menampilkan citra wanita berkelas di depan orang lain, dia selalu berlagak tomboi di hadapannya.


Sampai-sampai Luis pernah berpikir wanita sepertinya tidak akan pernah membutuhkan pria.


Dia menghela napas, menatap wajah Lia yang agak pucat. "Namun, kamu harus mengendalikan dirimu. Kalau tidak, tubuhmu tidak akan bisa mengatasinya." nasihatnya pada Lia. Menurutnya, hal-hal seperti itu tidak boleh dilakukan terlalu sering.


"Dan juga, kamu harus memperhatikan keamanan. Para pria di luar sana mungkin telah-"


Bugh!


Tanpa menunggu dia menyelesaikan ucapannya, Lia melemparkan bantal ke arah pria itu. Lalu, terdengar suara tamparan yang diikuti suara pukulan.


"Apakah aku terlihat seperti target yang mudah?" tanyanya, dia mulai merasa gila.


Dia sangat merindukan Luis selama dia berada di luar negeri, tetapi begitu kembali, yang ingin dia lakukan adalah menghajarnya tanpa ampun.


"Lia, tolong jangan impulsif!" Luis berteriak cepat.


Sebenarnya, dia bisa saja mengangkat tubuh Lia dengan mudah. Namun, dia tidak berani untuk melakukannya.


Jika dia melakukannya, perkelahian itu bukan lagi hanya antara mereka berdua tetapi bisa melibatkan seluruh keluarga.


Meskipun Lia bukan saudarinya, dia memiliki ketakutan yang tidak dapat dijelaskan terhadap wanita itu, seperti mengalami trauma.


Lia terkekeh dingin. "Nardo, jika kamu melanjutkan omong kosong ini, aku akan menghabisimu!"


Kemudian, dia melemparkan bantal yang dia pegang dan duduk di sofa, mengembuskan napas lelah.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Luis seperti teringat sesuatu saat dia mengamati wajahnya yang pucat. "Apakah kamu sedang datang bulan?"


Meskipun sudah lama berada di luar negeri, dia masih ingat siklus menstruasi Lia. Tampaknya hari ini adalah jadwalnya.


Adapun alasan dia bisa mengingatnya adalah karena dia biasa membelikan kebutuhan menstruasinya.


Saat itu, dia menganggap itu bukan masalah besar. Namun, tatapan aneh yang dia terima selama perjalanan kembali membuatnya sangat tidak nyaman.


"Sudah jelas, 'kan?" Lia mendengus.


Dia kemudian melepaskan sepatu dan berbaring di sofa. "Kalau tidak, aku sudah memberimu pelajaran hari ini!"


"Baik. Berhentilah berusaha tampak kuat." Luis mengernyit, sadar bahwa dia selalu mengalami kram menstruasi yang parah. Hal itu dapat membuatnya jadi menakutkan. "Di mana bantal pemanasmu? Aku akan memanaskan air untuk meredakan rasa nyerimu."

__ADS_1


Meski tidak memiliki pengetahuan yang banyak tentang menstruasi, setidaknya Luis tahu air panas sangat membantu. Lia menggeleng. "Aku belum membelinya." Dia baru saja


kembali dan tidak punya waktu untuk membeli barang keperluan sehari-harinya.


"Apakah kamu punya teh hijau?"


"Ada di dapur. Bantu aku membuatnya," jawab Lia, wajahnya sepucat kertas.


Dia sama sekali tidak berniat untuk bangkit dari sofa.


Luis pernah melihat ibunya menyiapkan teh hijau dulu. Karena itu, dia tahu cara melakukannya. Tidak lama, dia menemukan bahan-bahan yang dibutuhkan setelah mencari di sekitar dapur.


Setelah mendidihkan air dalam panci, dia memindahkannya dan menambahkan kantong teh. Kemudian, dia memanaskan susu dalam panci lain dengan api sedang lalu mengaduknya secara konsisten selama lima menit sampai hangat dan berbuih.


Sepuluh menit kemudian, dia membuang kantong teh, menambahkan madu ke dalam teh, dan mengaduknya hingga larut.


Terakhir, dia menuangkan teh ke dalam mug dan menambahkan susu berbuih itu sebelum menambahkan taburan kayu manis.


"Kamu sudah selesai? Sakit sekali ini!" jerit Lia dari sofa.


Luis buru-buru membalas, "Sudah selesai. Diam di situ. Tidak usah bergerak."


Sambil berbicara, dia membawa teh dari dapur dan meletakkannya di atas meja di hadapannya.


"Awas. Tehnya masih panas."


Kemudian, dia mengeluarkan handuk basah dan membalutnya di sekitar mug.


"Aku akan mencicipinya." Lia perlahan duduk dengan susah payah. Dengan adanya lapisan kain hangat, dia tidak merasakan panas saat dia memegang mug.


Namun, saat dia mendekatkannya ke bibirnya, dia dapat merasakan panas teh di wajahnya, membuatnya tidak bisa diminum.


"Aku akan mengambilkan sendok."


Luis langsung melangkah menuju dapur. Kemudian dia mengambil mug darinya lalu menyendok teh itu dan meniupnya dengan hati-hati sebelum menyuapinya.


Lia tersipu malu sambil menyeruputnya.


Sejak kecil, dia tidak pernah mengizinkan pria mana pun berada sedekat ini dengannya, termasuk ayahnya.


Entah kenapa, dia selalu menjauhi pria secara naluriah. Maka dari itu, Luis adalah satu dari beberapa pria yang dia kenal dalam hidupnya.


Setelah meletakkan cangkir di atas meja, dia terkejut melihat pipi Lia yang memerah. "Hei, Lia. Kenapa wajahmu sangat merah?"


"Urus saja urusanmu sendiri," tegurnya. Kemudian, dia kembali meringkuk di sofa.

__ADS_1


__ADS_2