
Kebanyakan orang yang menonton memahami maksudnya dan beranjak pergi. Sisanya yang masih ingin tetap di sini dan melihat kelanjutannya, ditarik pergi oleh teman-teman mereka sendiri.
.........................................................
Memangnya kenapa aku harus berhenti? Luis memiringkan kepalanya.
Dia berpikir, "Aku harus mengakui, wanita ini cukup cantik. Tapi penampilan bukanlah segalanya. Apa yang membuat wanita itu berpikir dia bisa melakukan ini tanpa konsekuensi? Tidak, setelah dipikir-pikir, kecantikannya tidak sehebat itu sampai-sampai aku akan menyerah padanya."
Beraninya kau! Suara teriakan serak terdengar di belakang mereka. Dalam sepersekian detik, seorang pria paruh baya berlari mendekat dan mengarahkan tinjunya ke Luis.
"Ha-ha!" Luis tertawa mencibir dan memiringkan tubuhnya tiga inci ke samping. Beruntung, dia berhasil mengelak, dan dia melemparkan botol bir di tangannya ke lantai pada saat bersamaan.
Pria itu bereaksi cepat saat menyadari pukulannya telah meleset. Dia melancarkan serangan lagi, kali ini ke arah leher Luis.
"Kemampuanmu cukup bagus, kata Luis sambil tersenyum. Sebelum pria itu bisa menjawab, Luis berjalan zig-zag tak beraturan, dan dalam sekejap mata Saja, dia muncul di sisi kiri pria itu. Tetapi itu masih kurang."
Brak!
Tepat setelahnya, dia mengayunkan pukulan keras ke arah perut pria itu. Pria itu mencengkeram perutnya dengan raut wajah kesakitan, dan sepertinya dia benar-benar hampir muntah.
"Lumayan juga." Tatapan penuh arti keluar dari wanita itu. Sembari menyunggingkan seringai, wanita itu berkata. "Sebaiknya kita bicara sebentar."
"Tentang apa?" tanya Luis. "Kenapa kau tidak membiarkan pengawalmu mencoba melawanku?"
"Aku teman Lula," kata wanita itu sambil maju dua langkah. Dia mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya. "Namaku adalah Keysia Oscar."
Mendengar nama itu, Luis pun tercengang. Dia ingat bahwa Lula pernah memberitahunya bahwa temannya adalah pemilik tempat ini.
"Luis Nardo."
Mereka saling berjabat tangan sesaat, kemudian segera menarik kembali tangan masing-masing.
__ADS_1
Luis memandang Marry yang terjatuh di lantai dan meminta. "Bawa temanku ke rumah sakit."
"Tidak masalah."
Keysia melambaikan tangannya. Beberapa detik kemudian, beberapa wanita maju untuk membantu Marry berdiri.
Dengan khawatir, Marry memandang Luis. Tatapan matanya saat itu terlihat seakan dia ingin mengatakan sesuatu.
Namun, sebelum Marry sempat membuka mulut, Luis melambaikan tangannya dan berkata. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja."
"Kamu terlihat seperti petarung yang kuat. Aku bisa memperkirakan kamu sudah lama berlatih," Keysia berkata dengan senyum.
Pria paruh baya di belakangnya jelas bukanlah pengawal biasa. Dia adalah seorang petarung profesional. Sayangnya, dia tidak akan mampu melawan Luis.
"Aku berlatih selama beberapa tahun." Luis mengangguk.
Dari apa yang dilihat Keysia, Luis berbeda dengan petarung lainnya. Kecepatan reaksi, kelincahan, dan fleksibilitas tubuhnya adalah beberapa kualitas yang membedakannya dari yang lain.
Seorang jenius pun biasanya harus berlatih selama bertahun-tahun demi mendapatkan kemampuan yang setara dengannya, sementara Luis hanya menghabiskan 450 dolar untuk mendapatkan kemampuannya itu.
"Ah, kau sangat rendah hati," jawab Keysia dengan secercah senyum.
"Apa gunanya semua ini?" tanya Luis. Dia kemudian menatap Martin. "Aku ingin tahu, apa yang akan kau tawarkan padaku sebagai imbalan untuk melepaskan pria ini?"
"Di dunia ini, kita bisa menawar segalanya. Satu-satunya masalah adalah apakah kita memiliki cukup aset untuk melakukan tawar-menawar. Ini seperti permainan kartu," jawab Keysia.
Kemudian, dia menoleh ke Martin. "Tuan Roy, Anda pelanggan tetap di bar saya. Apa rencana Anda untuk menyelesaikan masalah ini?"
Mendengar kata-kata itu, ekspresi Martin seketika berubah. Dia tahu, untuk memperbaiki situasi ini, dia harus mengeluarkan sejumlah uang yang tak sedikit jumlahnya. Dia mengertakkan gigi dan berkata, "Saya tidak menyebabkan banyak masalah karena gadis itu tidak terluka parah. Saya akan membayar 15.000 dolar ..."
"Ha-ha! Luis memotong. Dia memberikan ponselnya kepada Martin. "Silakan masukkan detail kartu bank-mu di sini.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Lakukan saja," jawab Luis dingin.
Keysia melirik Martin, mengisyaratkan dia untuk melakukan apa yang diperintahkan. Tanpa berbasa-basi lagi, Martin memasukkan detail kartu bank-nya.
Setelah itu, Luis mengambil kembali ponselnya dan memverifikasi sidik jarinya.
Ting!
Sekitar satu menit kemudian, Luis menunjukkan detail transaksi kepada Martin. 30.000 dolar telah ditransfer."
Sebelum Martin bisa berkata apa-apa, Luis melompat dan mendaratkan lututnya ke pria itu. Segera saja dirinya jatuh dan terbatuk-batuk.
Martin berusaha keras untuk bangun, matanya memancarkan amarah ganas. "Apa yang kau inginkan dariku? Apakah kau ingin membunuhku? Kalau aku mati, kau juga akan kena imbasnya!" teriaknya.
"Apakah kau tidak tahu bahwa negara kita adalah negara hukum? Kau mati pun aku tidak akan dapat apa-apa. "
Sambil tersenyum, Luis melanjutkan, "Namun, jika kau tewas dalam kecelakaan mobil, kurasa aku tidak akan bertanggung jawab atas kematianmu."
Bulu kuduk Martin berdiri saat mendengar perkataan itu. Walaupun dia mungkin orang yang kuat, ancaman Luis membuatnya gemetar cemas.
Bahkan ekspresi Keysia telah berubah.
"Kalau begitu, apa yang kamu inginkan?" tanya Martin dengan sopan.
Dia berpikir, "Aku tidak bisa meremehkan semangat anak mudanya."
Pada awalnya, Luis meraba-raba sekelilingnya, mencari sesuatu. Kemudian, dia berjalan ke meja terdekat dan mengeluarkan dokumen dari mantelnya.
Dia menyerahkan dokumen itu kepada Martin. Dengan tangan gemetar, Martin mengambil dan membaca cepat dokumen tersebut.
__ADS_1
Dokumen itu tentang akuisisi sebuah restoran bernama Bistro Jag.