
"Kamu masih lapar, 'kan?"
.................................
Luis memandangi Marry. Dia tidak makan banyak akibat situasi aneh sebelumnya dan masih merasa lapar.
"Yah, lumayan ..."
Marry mengusap perutnya dan berkata, "Jangan pedulikan Angie. Omongannya tidak disaring."
"Jangan cemas, aku bahkan tidak akan memikirkannya. Ayo, kita ke rumahku dan masak sesuatu untuk dimakan," ujar Luis sambil tersenyum.
Karena mereka belum kenyang di warung tadi, akan lebih mudah untuk pulang dan makan di rumah.
"Ayo lihat isinya."
Luis membuka lemari esnya. Isinya nyaris tumpah keluar.
Isi lemari esnya lengkap karena dia selalu ada di rumah. Ada daging sapi, domba, babi, dan, tentu saja, seafood yang berlimpah.
Ada lobster di bagian bawah lemari es, dan di sebelahnya ada ikan, sekantong udang, dan kepiting yang diikat.
"Mengapa rumahmu seperti pasar seafood?" Marry tidak tahan untuk berkomentar setelah melihat setengah dari lemari esnya dipenuhi dengan seafood.
Dia sudah pernah bertemu penyuka seafood sebelumnya. Tetapi, ini pertama kalinya dia melihat seseorang yang sangat tergila-gila dengan seafood seperti Luis.
"Aku membeli terlalu banyak. Ini baru sebagian kecil saja." Saat itu sedang ada promosi, dan dia telah membayar 1.000 dolar untuk seafood sebanyak satu kapal penuh. Namun, dia tidak tahu sebesar apa kapal itu. Ada 47 ton seafood di dalamnya. Dia nyaris tenggelam dalam tumpukan seafood itu.
Untungnya, dia bisa menyimpan sebagian besarnya dalam aplikasi sampai saat dia membutuhkannya nanti. Kalau tidak, semuanya akan terbuang percuma.
Marry dengan bercanda bertanya, "Berapa banyak yang kamu beli? Apa kamu perlu bantuan untuk menghabiskannya? Jangan remehkan tubuh kecilku. Sebenarnya aku ini bisa makan banyak. Contohnya, aku bisa mengosongkan setengah dari lemari esmu dalam satu hari."
"Sekitar 47 ton. Kalau kamu mau, aku bisa memberimu 2 ton," jawab Luis cuek.
Mungkin akan makan waktu beberapa tahun jika dia menghabiskan semua seafood itu sendirian.
"B-berapa?"
Marry nyaris menjatuhkan lobster di tangannya. "Aku salah dengar, 'kan? Apa ada yang salah dengan telingaku? Mustahil. Aku sudah tidur sangat nyenyak akhir-akhir ini," batinnya.
__ADS_1
"Sekitar 47 ton. Saat itu aku membeli terlalu banyak seafood. Tapi aku baru sadar berapa harganya setelah membayarnya. Aku sudah lama sekali makan seafood itu, tetapi nyaris tidak berkurang sama sekali."
"Stoknya cukup untuk dimakan selama beberapa tahun." Bibir Marry berkedut. "Mungkinkah ini cara orang kaya membeli seafood? Berton-ton?" renungnya.
"Aku mengerti. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan semua seafood itu."
Luis menghela napas dan menyiapkan semua bahan makanan. Saat akan menyiapkan seafood, dia bertanya, "Kamu bisa memasak? Aku bukan koki yang hebat."
Hidangan terbaik yang bisa dia buat adalah gurani goreng tepung. Masakannya bisa dimakan, tapi jelas tidak cukup pantas dihidangkan untuk tamu.
"Menurutmu, seberapa bagus kemampuanku memasak?" Marry menjawab sambil menyodorkan tangannya yang halus. Dia sudah terbiasa memesan makanan. Selain itu, saat ini tidak banyak wanita yang tahu cara memasak.
Marry bukanlah tipe wanita yang perawatannya mahal, tapi dia tidak tahu bagaimana cara menyiapkan seafood sebelum memasaknya.
Luis menghela napas lagi dan mengambil ponselnya. "Aku tidak bisa memasak dengan ilmu kulinerku yang payah ini," pikirnya dalam hati.
Ada berbagai macam barang yang dijual di Shopazon, tidak hanya barang berwujud seperti mobil sport dan rumah besar, tetapi juga keahlian tak berwujud.
Salah satunya adalah keahlian memasak - ilmu kuliner dasar, ilmu kuliner menengah, atau ilmu kuliner tinggi.
Dengan penuh keyakinan, dia memilih ilmu kuliner tinggi. Harganya hanya 1.500 dolar. Pembayaran dilakukan dengan usapan jari.
Seketika, suatu perasaan tak tergambarkan menguasainya. Seolah-olah dia adalah seorang koki master dengan pengalaman puluhan tahun dalam sekejap mata.
Ia memasak ikan bakar, kepiting kukus, dan lobster rebus. Semua hidangan disajikan di atas meja satu per satu.
"Aromanya luar biasa. Dan kamu bilang tidak tahu cara memasak?" Aroma masakannya sangat menggugah selera. Bahkan Marry tidak bisa menahan diri saat melihatnya.
"Jika ini yang dia maksud dengan tidak tahu cara memasak, lalu bagaimana denganku? Apa selama ini aku makan sampah?" batinnya.
"Ini bukan apa-apa." Luis tersenyum sambil menggaruk kepalanya dengan canggung. Dia tidak akan bisa menyiapkan hidangan seperti ini beberapa jam sebelumnya.
"Aku akan mengambil sebotol alkohol."
Alkohol sangatlah penting untuk perayaan ulang tahun dan acara spesial. Selain itu, alkohol sangat diperlukan saat menikmati seafood. Alkohol bisa membantu membunuh kuman dan memperkuat cita rasa seafood.
"Wine dari yang kemarin ..."
Seketika Marry bersuara.
__ADS_1
Meski harganya mahal, Marry tidak ingin meminumnya.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan meminumnya saat acara biasa."
Luis mengambil sebotol. Tampaknya itu adalah sebotol liguor tua.
"White liguor adalah pasangan terbaik untuk seafood." Dia melepaskan gabus penutup botol dan aromanya langsung menguar ke seluruh ruangan.
Bir dan red wine tidak cocok untuk seafood. White wine masih bisa diterima, tapi sama sekali bukan tandingan white liquor.
"Aromanya enak sekali. Liquor apa itu?" Marry menghirup aromanya. Dia telah mencoba berbagai macam alkohol dalam hidupnya, tetapi ini pertama kalinya dia mencium sesuatu yang sangat enak.
"Ini white liquor tua."
Luis tersenyum sembari menuangkan sedikit untuk Marry dan dirinya sendiri. "Liquor ini tidak ternilai."
"Tidak ternilai? Bukankah itu cuma liquor?" Marry tersenyum tapi tidak terlalu acuh. Ini bukan pertama kalinya ia minum white liquor tua. Tak ada satu pun yang harganya semahal itu.
Karena itu, dia mengangkat gelasnya dan menenggak semuanya sekaligus. Seketika, meledaklah rasa yang luar biasa di dalam mulutnya. "Kandungan alkoholnya tidak terlalu tinggi, tapi cita rasanya luar biasa."
Awalnya ada aroma halus, tetapi lambat laun rasa yang tersisa lebih harum dan bertahan lama di mulut. Ini pasti liquor antik berkualitas tinggi.
"Tentu saja. Ini adalah white liquor antik berumur beberapa ratus tahun." Luis menyesap dan menikmati cita rasanya.
"Beberapa ratus tahun?" Marry terbelalak.
Ia berpikir keras. "Bagaimana liquor itu bisa disimpan sampai sekarang? Bahkan jika mungkin, berapa harganya? Tidak, tunggu, ini bahkan bukan masalah uang lagi."
"Apa fungsi liquor jika bukan untuk diminum?"
Luis tersenyum acuh tak acuh dan mengisi gelas Marry lagi.
"Lobster ini lezat sekali. Jauh lebih lezat dibanding yang pernah kumakan sebelumnya."
Daging lobster yang segar membangkitkan indra perasa Marry. Dia sangat menikmatinya sampai-sampai ia memejamkan mata.
Dulu, dia pernah makan seafood dengan teman-temannya. Harganya tidak bisa dibilang murah, tetapi rasanya tidak sebanding dengan apa yang ia nikmati sekarang.
Yang dahulu pernah ia makan terasa seperti lobster tiruan jika dibandingkan dengan yang ini.
__ADS_1
"Alasan utamanya ada di kesegaran bahannya."
Luis menggelengkan kepala saat bersiap untuk minum seteguk lagi. "Keahlian koki sebenarnya tidak terlalu penting. Biasanya lebih karena bahan yang digunakan. Jika mereka menggunakan bahan-bahan berkualitas buruk, masakannya akan terasa tidak enak. Aku membeli ini langsung dari laut. Ini lobster liar, jauh berbeda daripada lobster budidaya."