
Tomy tahu Luis adalah mantan pacar larra, tetapi dia tidak keberatan sama sekali. Sebenarnya, dia juga tidak keberatan meski Luis berselingkuh dengan Larra. Bagaimanapun juga, dia sangat membutuhkan bantuan Luis sekarang.
****************
Meski Luis bersedia memberikan ucapan selamat kepada Larra, dia tetap tidak ingin Larra atau Tomy muncul di hadapannya lagi.
Menurut Tomy, hubungan antara Luis dan Larra justru merupakan koneksi, sumber daya, dan alat untuk mendapatkan promosi setahap demi setahap.
Sebenarnya, selain dia ingin Luis memuji-mujinya di depan Lia, Tomy juga ingin menjalin hubungan dengannya.
Dia tidak tahu latar belakang Luis. Namun, melihat dari semua jam tangan Luis yang bernilai total 1,5 juta dolar, Tomy yakin bahwa Luis sangat kaya.
Karena itu, dia ingin Luis mengingatnya agar dapat meminta bantuan Luis di kemudian hari.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Luis.
Luis mengikuti Tomy, lalu bersandar di dinding dengan muka cemberut.
Tomy tidak terang-terangan mengatakan maksudnya, tetapi dia hanya menyanjung Luis dan berkata, "Saya sering mendengar tentang Anda dari Larra sebelumnya. Dia selalu bilang kalau Anda sangat berbakat dan kompeten. Sekarang saya bisa melihat kalau ucapannya benar."
Sebenarnya, Larra tidak pernah membicarakan Luis di depan Tomy.
Bagaimanapun juga, Larra tidak bodoh, jadi dia tidak mungkin membicarakan mantan pacarnya di depan suaminya, apalagi memujinya. Perilaku seperti itu sangat berisiko, dia mungkin akan mendapat hukuman jika Tomy mudah marah.
"Benarkah?" tanya Luis.
Luis mengangkat alisnya dan mencibir, "Saat kami masih bersama, dia hanya menyindir dan memarahi saya. Saya benar-benar tidak menyangka dia memuji saya."
Sejujurnya, hanya sedikit wanita yang mampu bertahan menghadapi kebejatan Luis saat itu. Awalnya, Larra akan mengucapkan kata-kata kasar untuk membuatnya kesal. Namun, pada akhirnya, Larra sepertinya sudah pasrah dan menyerah dalam membujuk Luis.
Sementara itu, hubungan mereka perlahan-lahan menjadi
renggang. Kemudian, mereka akhirnya benar-benar putus.
Setelah Luis mengatakan itu, suasana menjadi agak canggung untuk sesaat dan dia sepertinya sudah mengakhiri percakapan itu.
Namun, Tomy tidak menghiraukannya dan hanya tersenyum. "Mungkin saya tidak cukup baik, jadi Larra teringat akan betapa baiknya Anda kepadanya."
__ADS_1
"Benarkah begitu?" tanya Luis.
Luis menarik napas dalam-dalam dan mengepalkan tangan kanannya. Dia sangat ingin meninju wajah Tomy saat ini.
"Apa Anda masih lajang, Tuan Nardo?" tanya Tomy.
"Menurut Anda bagaimana? Sejujurnya, tidak ada yang menyukai saya," kata Luis.
Tomy mengusap hidungnya dan tiba-tiba berbisik, "Larra sepertinya tidak melakukan apa-apa akhir-akhir ini, dan Tuan Nardo mestinya kesepian karena melajang. Jadi, apa saya harus menyuruhnya untuk menghabiskan waktu dengan Anda?"
Jelas sekali Tomy ingin menggunakan Larra untuk membangun hubungan dengan Luis. Meski sebenarnya perbuatan itu merupakan pengkhianatan terhadapnya, Tomy bisa menerimanya karena itu akan sangat membantu kariernya.
Tomy yakin, sebagai seorang pria, Luis tidak mungkin menolak saran ini. Dia sendiri pun tidak bisa menolak tawaran menggiurkan seperti itu.
"Benarkah?" tanya Luis.
Luis tersenyum lebar. "Anda murah hati sekali, Tuan Carlos."
"Tolong jangan menolaknya ... " kata Tomy.
Sebelum Tomy selesai bicara, mata Luis tiba-tiba memerah, lalu dia meninju Tomy.
"Kuhabisi kau!" seru Luis.
Setelah wajahnya dipukul, Tomy langsung merasakan hidungnya berdarah. Dia menyeka hidungnya dan melihat ada darah. Sekejap kemudian, dia balas memukul tanpa memedulikan identitas Luis.
"Kamu tak akan bisa mengalahkanku meski aku hanya menggunakan satu tangan!" Luis pun geram. Dia dengan cepat mengulurkan tangan dan menangkap tinju Tomy. Kemudian, Luis memelintir tangan Tomy dengan santai, membuat wajahnya berubah liar dalam sekejap.
"Aduh! Tanganku'" teriak Tomy.
Tomy merasa tangannya akan patah. Dia pernah berkelahi dengan orang lain saat sekolah, tetapi itu lebih dari 10 tahun yang lalu.
Namun sekarang, baik kekuatan maupun ketahanannya terhadap rasa sakit sudah tidak sebaik dulu. Tomy mungkin akan kalah meski hanya bertarung melawan anak muda, apalagi melawan Luis yang hampir menguasai berbagai macam teknik bertarung.
Luis mencondongkan kepalanya ke depan dan berbisik di telinga Tomy, "Sejujurnya, aku benar-benar tidak suka padamu. Dari dulu sampai sekarang. Aku membencimu karena kamu mencuri Larra dariku saat itu. Namun, kalaupun bukan karena itu, keberadaanmu saja membuatku jijik."
"Aku tidak percaya kamu berkata seperti itu. Kamu benar-benar membuatku muak," sambung Luis.
__ADS_1
Sambil berbicara, Luis mengulurkan tangan dan mendorong Tomy.
"Tunggu saja! Aku akan membalasmu!" Tomy ingin memaki di dalam hatinya. Jika dia tidak mempertimbangkan bahwa dia pasti kalah dan dihajar saat ini, Tomy akan berlari ke arah Luis dan bertarung dengannya.
"Tunggu apa? Apa kamu akan menghajarku?" Luis mencibir seolah-olah tidak peduli sama sekali.
Luis tak akan mengubah ekspresinya sedikit pun meski ada orang seperti Tomy yang bertarung dengannya.
Lagi pula, dengan keterampilannya saat ini, bukan tidak mungkin untuk mengalahkan selusin orang sekaligus.
Luis tidak takut menjadi incaran siapa pun karena dia lebih kuat dari Tomy dalam hal koneksi maupun kekayaan. Oleh karena itu, jika benar-benar terjadi perkelahian, kemungkinan besar Tomy yang akan kalah.
"Ini belum berakhir! Aku akan ke kantor polisi dan menuntutmu!" Tomy berkata dengan geram.
Selama bertahun-tahun sejak dia menduduki posisi eksekutif, ini pertama kalinya seseorang berani memperlakukan Tomy seperti ini.
"Aku tidak peduli. Sekadar mengingatkan, kita ini hanya berkelahi." Luis mengangkat bahu dengan santai. Dia tahu, tidak ada yang akan terjadi kepadanya karena berkelahi dan memukul seseorang adalah dua hal yang berbeda.
Setelah mendengar itu, Tomy merasakan gelombang amarah yang membara di dadanya, membuatnya ingin membunuh Luis.
"Jangan terlalu keras kepala. Aku jijik melihatnya!" kata Luis.
Luis mengepalkan tangannya dan melanjutkan, "Jangan ucapkan kata-kata menjijikkan itu lagi di depanku. Kalau tidak, kamu bisa saja mengalami kecelakaan saat di luar. Kamu tahu, hidup itu benar-benar rapuh. Orang bisa saja mati terLias mobil saat berjalan atau mati kejatuhan pot bunga dari atas gedung, atau dibunuh perampok di rumah," kata Luis.
"Apa ... apa maksudmu?" Tubuh Tomy menegang. Dia pernah diancam sebelumnya, tetapi ini pertama kalinya dia mendengar kata-kata ancaman seperti itu.
Dia tahu, Luis tidak sekadar menggertak. Tomy yakin, Jika dia berbuat sesuatu, gertakan Luis mungkin akan benar-benar dilakukan.
Bagaimanapun juga, kematian sangat lazim terjadi di dunia ini, banyak orang meninggal karena berbagai faktor setiap harinya.
Oleh karena itu, jika Tomy mati karena kecelakaan, mungkin tidak banyak orang yang memedulikannya.
"Yah, aku serius dengan ucapanku," kata Luis. Luis berjalan maju dan menepuk pundak Tomy.
"Kamu sudah lama bergumul di masyarakat. Apa begini saja tidak mengerti?"
"Iya, aku mengerti," jawab Tomy sambil mengangguk, seolah-olah takut akan membuat Luis kesal jika dia tidak langsung menjawab.
__ADS_1