Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
57


__ADS_3

"Jika kamu tidak tahu harus mencari siapa, mengapa kamu tidak mencari Luis saja?"


.....................................


Pintu kayu yang berluaskan ukiran rumit terbuka, dan Lia masuk. Dia kembali duduk ke kursinya dengan anggun. "Apa katamu?" Albert bertanya.


"Aku bilang, cari saja dia," jawab Lia dengan tenang, sambil mengarahkan dagunya ke arah Luis.


"Apa dia kenal dengan orang-orang dari Industri Hennerik?" Albert mengangkat alisnya dan berkata dengan ragu, "Hanya orang dengan otoritas tertentu yang dapat memiliki hak untuk itu. Apa Anda kenal Hazel?"


"Hazel? Kami pernah bertemu sekali." Luis mengangguk. Hazel baru saja melapor kepadanya beberapa hari yang lalu.


"Apa gunanya jika hanya bertemu sekali? Saya sudah berkali-kali bertemu dengannya." Albert mengangkat bahunya.


Dia sudah berusaha menemui Hazel beberapa kali karena hal itu, namun tidak mendapat persetujuan. Mereka tidak punya cara lain.


"Dia memiliki wewenang atas anak perusahaan Industri Hennerik. Apa gunanya mencari Hazel?" Lia berkata dengan penuh makna.


Albert tertegun sesaat dan menoleh ke arah Luis. "Anda dari Industri Hennerik?"


Luis pasti seorang eksekutif senior jika memiliki otoritas yang bahkan tidak dimiliki Hazel.


"Pemegang saham Industri Hennerik." Luis mengangguk.


"Bagaimana mungkin ada pemegang saham yang berasal dari Cania di Industri Hennerik? Jangan membohongi saya." Albert memasang ekspresi serius di wajahnya. Jelas sekali bahwa dia tidak percaya semua yang dikatakan Luis.


Saham perusahaan sebesar itu pasti sudah dipisahkan sejak awal. Saham tersebut tidak akan dibagikan kecuali dalam kerja sama atau pembiayaan yang signifikan.


"Bernia bekerja sama dengan Hennerik dan juga memiliki beberapa saham," jawab Lia, dan menunjukkan ponselnya kepada Albert.


Layar ponsel itu menunjukkan situs resmi Industri Hennerik. Kini ia melihat, nama Luis ada di daftar pemegang saham.


"Bos, tolong aku!"


Albert tercengang dan berpikir, "Dengan menjadi pemegang saham Industri Hennerik, berarti dia memiliki kekayaan bersih setidaknya 150 juta dolar. Dia masih sangat muda untuk itu. Kekayaan bersihnya mungkin sebanding dengan ayahku."


"Aku bisa menolongnu, tetapi ... bagaimana mengucapkannya, ya? Kamu mengerti, 'kan?" Lia tersenyum simpul dan melirik Albert dengan rasa geli.


Dia menganggukkan kepalanya dengan patuh dan berkata, "Tentu saja. Jangan khawatir, Lia. Saat pulang nanti, aku akan memberi tahu ayahku bahwa kita tidak cocok."


"Kamu bercanda? Bagaimana wanita bisa dibandingkan dengan uang, terlepas dari betapa cantiknya mereka? Kalau aku kaya, aku bisa memilih wanita cantik mana pun yang tak terhitung jumlahnya," pikir Albert.


Apalagi, dari awal dia tidak menyangka akan mendapatkan Lia. Karena situasinya seperti ini, mencari keuntungan dalam situasi tersebut terdengar seperti pilihan yang tepat.

__ADS_1


"Apakah menurutmu itu yang ku maksud?" Lia tampak kesal. Albert tidak pernah punya kesempatan.


"Lalu apa? Aku menunggu arahanmu." Albert tersenyum segan padanya.


Keuntungan yang bisa ia dapatkan dari kolaborasi itu amatlah penting. Apalagi, ini bukan lelang.


"Dividen. Dalam bentuk dividen, 10 persen." Lia mengulurkan tangan dengan penuh arti.


Raut wajah Albert seketika berubah. Ia berkata, "Lia, permintaan ini ..."


Angka 10 persen adalah jumlah yang sangat besar, dan Lia memintanya begitu saja. Albert tidak terima.


"Albert, dividen itu bukan untukku. Tetapi untuk dia." Lia menunjuk Luis yang sedang melahap steak-nya.


"Ah?"


Luis mengangkat kepalanya setelah melihat Lia menunjuk dirinya dan bertanya dengan bingung, "Kalian membicarakan apa?"


"Kamu lanjut makan saja." Lia mengibaskan tangan untuk mengabaikannya dan memandang Albert. "Mungkin 10 persen tampak berlebihan, tetapi dengan dia, kamu bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Benar, 'kan?"


"Ini..."


Albert bimbang. Bagaimanapun, Lia benar. Jika Luis terlibat, analoginya seperti kue yang dibagi menjadi potongan yang lebih banyak. Selain itu, kuenya juga akan jadi lebih besar. Lima orang yang berbagi kue berdiameter 10 meter sangat berbeda jauh dengan enam orang yang berbagi kue berdiameter 100 meter.


"Itu masalahmu."


Dengan tak acuh Lia mengibaskan tangan dan berkata, "Selama kamu bersikap baik, ini akan berhasil. Aku yakin kamu paham kalau ini adalah kesempatan yang sangat baik."


"Aku bersedia."


Albert mengangguk dan melirik Luis, yang masih melahap steak-nya.


Jarang sekali ia merasa terkesan.


Luis punya mental baja.


Begitulah seharusnya keadaan pikiran seorang bos. Dia tidak menanggap serius transaksi yang signifikan semacam itu.


Namun, Albert terlalu banyak berpikir. Luis tidak menunjukkan reaksi apa pun karena terlalu fokus pada makanan dan tidak memerhatikan topik pembicaraan mereka.


"Kamu sudah selesai?" Lia melirik Luis dengan sudut mata yang berkedut. Ia akan menampar lelaki itu jika dia bukan kaki tangannya.


"Baiklah, aku sudah selesai."

__ADS_1


Dengan cepat Luis mengangguk dan melahap potongan steak terakhirnya.


"Kalau begitu, ayo pergi." Lia tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera berbalik pergi sementara Luis mengekor di belakangnya.


"Tak kukira pria biasa yang datang bersama Lia itu ternyata orang yang hebat ..." Albert bergumam saat melihat keduanya pergi. Begitu mereka berdua hilang dari pandangannya, ia langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. "Halo, Hogan. Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu."


Di tempat parkir, Lia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi sambil menunggu Luis naik.


"Bagaimana menurutmu tentang Albert?" tanya Lia.


"Kupikir kalian berdua lumayan ..." Luis tidak menyelesaikan kalimatnya saat merasakan aura dingin, dan dengan cepat meralat ucapannya, "Bagaimana mungkin pria seperti itu layak untuk Lia yang hebat."


Setelah mendengar sanjungannya, Lia menjadi gemas, lalu menyalakan mesin mobil. "Itu lebih baik."


Lia melanjutkan, "Apa kamu dengar yang dia katakan? Aku meminta dividen 10 persen untukmu. Tidak peduli apa yang terjadi nantinya, simpan 10 persen itu dan tetaplah bergeming. Hanya boleh lebih, tidak boleh kurang."


"Jangan khawatir. Nanti kuhubungi kamu," sahut Luis.


"Jangan, kenapa kamu menghubungiku? Bukan aku yang bekerja dengan mereka." Lia nyaris tertawa karena frustrasi.


"Tapi aku tidak pandai dalam hal ini." Luis mengangkat bahu dan berkata tanpa basa-basi, "Seharusnya kamu memerhatikanku."


Lia kehilangan kata-kata.


Dia membeku, tak tahu harus berkata apa. Dia mengangguk tak berdaya. "Oke, oke. Kalau kamu tidak bisa menanganinya, kamu boleh menghubungiku. Akulah yang akan berurusan dengan mereka. Omong-omong, bagaimana kamu bisa mendapatkan saham Hennerik di usiamu sekarang?"


"Aku hanya bertugas menghabiskan uang dan tanda tangan atas namaku."


"Uang memang membuat dunia berputar, ya?" Lia merenung.


Saat memikirkan itu, sudut bibirnya berkedut. Dahulu dia sering membuat orang lain merasa seperti itu, tapi sekarang dia yang mengalaminya sendiri. Perasaan itu membuatnya jengkel sampai-sampai ia ingin meninju Luis.


Namun, dia menahan diri dan malah bertanya. "Apakah tadi Albert mengatakan sesuatu padamu?"


Lia sengaja pergi ke toilet saat tengah makan.


"Tidak."


Luis mengangkat bahu dan melanjutkan, "Kurasa dia mengenalku. Dia tidak terlalu banyak bicara. Namun, dia bilang kalau dia tidak terlalu menyukaimu, dan semuanya diatur oleh keluarganya."


"Dia orang yang cerdas." Lia menganggukkan kepala. Dia akan memberinya pelajaran jika lelaki itu mencoba melakukan sesuatu.


"Tampaknya mereka cukup segan padamu," ujar Luis.

__ADS_1


__ADS_2