
"Cukup. Berhenti bermain. Ayo, masuk ke mobil." Setelah itu, Luis berlari ke samping mobil dan dengan cepat duduk di kursi pengemudi.
.........................................................
Dia sangat mengenal Frey. Wanita itu bukanlah seorang malaikat. Frey sudah dijuluki penipu ulung sejak masih muda. Karena itu, dia tahu jika Frey berhasil mengganggunya, dia tidak akan dapat hidup dengan damai.
"Luis Nardo, akan ku potong telingamu!"
Frey terus mengumpat dengan keras sambil masuk ke kursi belakang. Catrine pun mengikuti dari belakang. Dibandingkan dengan Frey, Catrine terlihat jauh lebih elegan dan anggun.
"Aku tidak bermaksud mengomelimu. Tapi, lihat Catrine. Dia lebih lembut darimu. Jika kamu terus begini, kamu tidak akan bisa menikah. Paman akan ..."
"Diam!"
Sambil menyeringai, Frey kemudian menambahkan, "Dasar, pecandu game. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu tentangku? Apa kamu bermain game sampai larut semalam? Kamu tidak bisa, ya, melakukan hal yang lebih berguna daripada bermain game setiap hari?"
"Memangnya apa hal yang lebih berguna itu? Apa kamu menyuruhku menikah? Tidak ada yang mau denganku," jawab Luis dengan pasrah.
Dia pun menambahkan, "Tetapi, apa kamu punya teman yang cantik? Tolong pertimbangkan aku. Kalau berhasil, itu akan dianggap sebagai kontribusimu untuk melanjutkan garis keturunan keluarga kita."
"Cukup. Teman-temanku punya standar yang tinggi. Siapa yang mau dengan pecandu game sepertimu? Aku tidak mau teman-temanku tertipu." Wajah Frey cemberut sambil melihat Luis.
Dia sangat mengenal teman-temannya. Selain itu, menurut Frey, Luis adalah seorang pecandu game yang hanya diam di rumah untuk bermain game. Dia setiap hari juga menjaga supermarket kecil yang ditinggalkan orang tuanya.
__ADS_1
Luis mungkin akan tetap seperti itu seumur hidupnya. Menikah dengan wanita biasa, yang tidak terlalu cantik ataupun terlalu jelek. Jika nantinya dia dapat menemukan seorang istri, alasannya pasti bukan karena dia pekerja keras. Sebaliknya, wanita itu mungkin mengincar tempat tinggal Malatam-nya yang terdaftar.
Kemudian pada suatu hari, istrinya mungkin akan mengeluh soal pengeluaran rumah tangga. Dia juga mungkin akan melihat rumah-rumah mewah dan mobil-mobil mahat melalui ponselnya dan mengeluh tentang kapitalisme dan kemundurannya. Setelah itu, dia akan melihat barang-barang mewah yang tidak mampu dibelinya dan hanya bisa mengidam-idamkannya.
Sementara untuk teman-teman Frey, dia juga sangat mengenal mereka. Meskipun mereka cantik, tidak satu pun dari mereka yang cukup layak untuk menjadi pasangan hidup Luis.
Jujur saja, meskipun Frey mengatakan kepada Luis bahwa dia tidak ingin teman-temannya menderita, namun kenyataannya adalah Frey tidak ingin Luis yang menderita karena mereka.
Bagi Frey, persahabatannya dengan teman-temannya itu tidak lebih penting daripada persahabatannya dengan Luis. Dia hanya sebatas berhubungan baik saja dengan mereka. Berbeda dengan persahabatannya dengan Luis. Luis adalah keluarganya.
Darah yang sama mengalir di nadi mereka. Apalagi mereka adalah teman bermain sejak kecil. Itu adalah hubungan yang lebih penting dibandingkan persahabatan yang hanya terjalin beberapa tahun.
Luis tidak terlalu memikirkannya. Dia juga tidak mengatakan apa-apa. Bagaimanapun, itu hanya lelucon baginya. Dengan kekayaan bersihnya saat ini, dia dapat dengan mudah menarik para wanita.
Perjalanan itu memakan waktu 10 menit. Mereka pun akhirnya berhenti di salah satu jalan di Distrik Rawana. Kemudian, Luis membawa Frey dan Catrine ke lingkungan sekitar jalan tersebut.
Saat melihat ke seluruh jalan di sepanjang tepi Sungai Rawana, mata Frey pun berbinar-binar. "Wah! Restoran-restoran di area ini mahal."
Daerah tepian sungai adalah tempat bersejarah. Oleh karena itu, biasanya toko-toko di area tersebut mahal, baik itu restoran maupun hotel.
"Bukankah kamu bilang kamu ingin makan?" Luis memutar bola matanya. Biasanya, Luis menyantap makanan cepat saji di rumah. Jadi, dia tidak tahu banyak tentang restoran masakan haute. Restoran yang akan mereka kunjungi adalah satu-satunya restoran yang dia tahu.
"Selamat datang."
__ADS_1
Dua pramusaji Firian berdiri di pintu masuk restoran tersebut dan menyambut mereka dengan hangat.
Seketika itu juga, pramusaji Firian di sebelah kiri batuk dua kali dan berbicara dengan bahasa Cania. "Halo, Tuan. Apakah Anda sudah membuat reservasi?"
"Kamu fasih berbicara bahasa Cania." Luis kemudian tersenyum dan menunjuk ke arah meja di sebelah jendela.
"Saya belum membuat reservasi. Tolong atur tempat duduk kami di sana."
"Baik, Tuan," jawab pramusiji itu.
"Apa ini Bistro Jag?"
Frey terkejut. Sebagai warga Malatam, dia pernah mendengar beberapa hal tentang restoran Firian yang terkenal itu. Restoran tersebut bergaya Firian tetapi menyediakan menu dalam Bahasa Cania. Frey menjadi lebih terkejut dan bertanya, "Sejak kapan restoran ini mulai menyediakan menu dengan Bahasa Cania? Apa aku tidak salah dengar? Apa tadi wanita itu berbicara dalam Bahasa Cania?"
"Entahlah, Mungkin manajemennya sudah berubah." Sambil bersikap acuh tak acuh, Luis pun mengambil buku menu.
Luis melirik buku menu itu, namun dia bingung harus makan apa. Dia pun meminta bantuan Frey. "Cepat, pilih makananmu. Setelah itu, pilihkan untukku juga."
"Apa kamu tidak pernah makan ini sebelumnya?" Frey berdengus.
"Kenapa aku harus memakannya?" Luis memutar bola matanya. Dengan cuek, dia melanjutkan, "Makanan itu tidak akan membuatku kenyang, jadi lebih baik aku makan masakan cepat saji."
"Kamu sungguh tidak ada harapan." Frey menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Meskipun dia tidak tahu banyak tentang apa yang terjadi sebelumnya, Frey tahu bahwa Luis pernah sangat terluka akibat seorang wanita.