Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Tidak dapat Menghentikannya


__ADS_3

Sepulangnya dari bengkel, Bayu melepaskan tali sepatunya. Baju yang lembab karena keringat membuatnya harus membukanya dan hanya mengenakan kaos dalam saja. Namun ia tak cepat-cepat masuk, memutuskan duduk di teras merasakan hembusan semilir angin untuk membuat tubuhnya lebih dingin sembari mengepulkan asap guna mengusir kebosanan.


“Bayu!” panggil Putri dari jendela kaca ruang tamu. Lalu menyembul keluar. “Tumben tidak terdengar suara motor, jadi aku tidak tahu kau sudah pulang.”


“Motorku rewel, jadi aku tinggalkan di bengkel. Sedang minta tolong sama Koreng untuk di perbaiki,” jawab Bayu. Ia tak sempat memperbaikinya sendiri karena hari sudah lumayan sore dan tubuhnya sudah terasa sangat lengket.


“Oh ....” Putri duduk di sebelahnya, lalu menunjukkan buku. “Aku ingin bisa belajar membaca huruf-huruf ini. Karena aku hanya hafal aksara Jawa.”


“Boleh, nanti kapan-kapan aku ajarkan.” jawabnya sambil menjentikkan abu rokok ke asbak yang tersedia.


“Capek ya, Yu. Sudah beberapa hari ini kau kelihatan kuyu sekali.”


“Ya, lumayan.”


“Mau aku bantu pijat?”


Itu memang penawaran yang bagus, tetapi sebaiknya-- “jangan deh, Put. Takut ada yang melihat. Nanti mereka bisa berpikir yang tidak-tidak tentang kita.”


“Kenapa bisa begitu?”


“Itu dilarang kecuali kalau kita sudah menikah.”


“Apa-apa tidak boleh, di sini atau di sana sama saja. Banyak peraturan!” sungutnya kesal. “Padahal kan aku hanya ingin membantumu. Aku hanya merasa kasihan melihatmu capek. Sedangkan aku—”


“Jangan bilang kau hanya menumpang,” potong Bayu cepat. “Aku tidak mau mendengar kata-kata seperti itu lagi.” Bayu lantas lantas beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam rumah. “Besok aku libur, nanti akan aku antarkan kau ke Museum.


“Oh, ya?” kedua bola mata jernih itu berbinar bahagia. “Aku tidak sabar menunggu besok!”


“Aku mau mandi dulu!”


Seperti biasa saat malam hari, kedua perempuan berbeda generasi itu pasti berada di depan televisi dan menimbulkan suara berisik. Tentang bertele-telenya pesinetronan Indonesia; kenapa ceritanya begini? Kenapa begitu? Kenapa pemeran si Fulan jahat sekali? Juga si Fulan lain kenapa sangat lemah dan diam saja saat diperlakukan begitu dan lain sebagainya.


Parahnya, pernah sesekali Bayu melihat Ibunya itu hampir melempar asbak ke layar televisi lantaran saking dongkolnya terhadap pemeran utama yang menurut beliau menyebalkan. Kalau saja Bayu tak mengingatkan; tak mudah membeli televisi itu, niscaya kekerasan dalam pertelevisian itu benar-benar akan terjadi.


Selera lelaki bujangan seperti Bayu sangat berbeda. Yang di mana ia lebih menyukai film action Manca negara daripada sinetron drama rumah tangga macam itu; sedikit-sedikit mewek, sedikit-sedikit cerai, kawin lagi, nanti cerai lagi. Banyak sekali adegan-adegan di luar nalar, seperti jatuh ke jurang yang dangkal, menunggu ditabrak kendaraan, dan masih banyak lagi cacat logika yang dipaksakan natural. Lalu di setiap korban kecelakaan yang diperban pasti di bagian kepala entah apa pun penyebabnya. Dan kata-kata legen si dokter yang selalu menjadi andalan, “maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin”.


Demi kenyamanan yang tak terusik, Bayu mengeluarkan diri dari arena perempuan. Main game mungkin adalah pilihan terbaik.


***


Bayu dan Putri menggunakan kendaraan umum, dua kali transit untuk bisa sampai di tujuan. Motornya yang butut tanpa STNK, BPKB dan SIM tidak memungkinkan Bayu untuk membawa membawanya (kalau tidak mau cari mati di depan polisi).


Sesampainya di salah satu Museum peninggalan bersejarah, sedikitnya Putri tahu barang-barang kuno yang terpajang di lemari kaca itu. Keadaannya terawat dan diperlakukan sangat berharga sekali. Tetapi lagi-lagi Putri kecewa lantaran tidak menemukan apa pun tentang jejak dirinya. Sebagian besar dari mereka hanya mengenal kerajaan-kerajaan besar yang ada di Pulau ini. Bayu kebingungan sendiri saat mendapati wajah Putri yang murung, sebab ia tak bisa berbuat apa-apa. Dikarenakan waktu dan juga kurangnya pengetahuan. 


“Memang ada lagi Museum selain ini, tapi tempatnya sangat jauh; mungkin bisa memakan waktu lima sampai delapan jam menggunakan bus. Aku belum bisa mengantarkanmu ke sana,” kata Bayu. 


“Apa aku bisa ke sana sendiri?” tanya Putri penuh harap.


“Jangan!” tegas Bayu melarangnya. “Daerah di sini saja kau belum terlalu mengenalnya, apa lagi ke daerah sana sendirian. Nanti kalau kau hilang, aku akan susah mencarimu. Jaman sekarang susah sekali menemukan orang baik. Lagi pula Ibu juga tidak mungkin mengizinkanmu.”


Kedua bola mata Putri mulai menggenang.

__ADS_1


“Apa kau ingin benar-benar pergi ke sana?” tanya Bayu lagi lantaran tidak tega melihat Putri yang selalu ceria kini sesedih itu. “Di sana pun kau belum tentu menemukan petunjuknya. Coba, kau katakan dari kerajaan mana kau berasal?”


“Kerajaan Siwalingga,” jawab Putri singkat.


“Jujur, aku pun baru pertama kali mendengarnya,” kata Bayu lagi. Mereka duduk di pelataran masjid untuk sekedar singgah mengurai lelah. “Kalau boleh tahu, kenapa kerajaanmu dinamakan Siwalingga?” selama ini mereka belum pernah membahas apa pun tentang tempat tinggalnya. Awalnya, Bayu juga tidak ingin mengetahui lebih jauh tentang siapa Putri sebenarnya. Namun semakin ke sini, rasa ingin tahunya timbul semakin besar.


Apa mungkin karena sudah mulai menyimpan perasaan?


“Siwalingga itu lambang kesuburan. Ayahandaku pernah bilang, kenapa kerajaan itu dinamakan kesuburan? Ya karena nama adalah sebagian dari doa. Beliau ingin tanah kerajaan subur dan rakyatnya selalu makmur,” jelas Putri sambil membuang pandangan ke langit yang biru bersih. 


Bayu merasa tenteram saat mendengar penjelasannya. Ternyata Putri bukan dari kerajaan jahat yang menggunakan kepentingan pendirinya untuk menghancurkan dunia. 


Bayu mengusap-usap punggung Putri untuk menenangkan. Hanya dengan seperti ini mungkin bisa membuat hati wanita itu lebih baik. 


***


“Capek juga, ya. Pergi seharian,” kata Putri saat baru saja berhenti dari angkutan umum. “Kita harus jalan kaki juga ke rumah.”


“Hanya sedikit,” sahut Bayu. Lalu menarik oleh-oleh yang sedang Putri bawa. “Biar aku saja yang membawanya.”


“Terima kasih!”


Tak melulu hanya menuju ke Museum, mereka juga mampir ke toko pakaian. Selain agar wanita itu mempunyai pakaian lebih banyak, Bayu juga ingin membuat wanita itu kembali ceria seperti sebelumnya.


Namun ketika ia sampai di depan rumah, Bayu mendapati anak tetangganya sedang menunggu di teras. 


“Eh, Liana,” kata Bayu. “Lama kau menunggu Li?"


"Memangnya tidak ada orang di rumah, sampai-sampai kau duduk di luar?”


“Tidak ada orang dirumah Yu,” jawab wanita berkerudung itu. Lalu menyerahkan rantang makanan kepada Bayu. “Ini titipan dari Mama-ku, isinya kau buka saja nanti di dalam. Bilang saja ke Ibumu, Mamaku habis akikahan adikku yang ketiga.”


“Oh iya, terima kasih Lia. Nanti aku sampaikan.”


“Iya sama-sama. Kalau begitu aku langsung pamit.”


“Loh, tidak mau masuk dulu, barangkali mau mengobrol du—”


“Oh, tidak usah. Aku belum shalat Ashar,” potong Liana cepat. “Mungkin kapan-kapan saja.” 


“Baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih.”


Setelah Liana pergi, Putri langsung bertanya dengan wajah yang berbeda. “Dia kekasihmu? Cantik kok.”


Bruk! Putri menjatuhkan kantong plastik belanjaannya ke meja dengan sedikit mengentak. Lalu masuk ke dalam kamar.


Bayu langsung bingung dengan pertanyaan perilaku Putri barusan. Tapi Bayu tidak mau kesalahpahaman ini berlanjut sampai ke mana-mana, ia mengetuk pintu kamar dan berupaya membujuk walaupun ia tak mengetahui seperti apa cara membujuk yang baik.


“Put, Put. Liana bukan siapa-siapa aku, dia hanya ... anak tetangga biasa. Aku kan sudah pernah bilang gak punya pacar dan kau tahu itu.”


“Tapi dia kelihatannya menyukaimu,” katanya dari dalam.

__ADS_1


“Dilihat dari mananya? Aku tidak merasa seperti itu,” kilahnya bak seperti orang yang tidak peka sama sekali. Padahal sudah lama Bayu mengetahui bahwa Liana memang sedikit berbeda dengannya.


“Aku sesama perempuan, karenanya aku tahu. Lagi pula kau memang tidak pekaan!”


“Lalu apa masalahnya? Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya.”


Tak ada jawaban lagi terdengar dari dalam, Bayu kembali membujuk. “Buka pintunya sekarang, ya. Agar lebih mudah aku menjelaskannya.”


Satu menit, dua menit, tiga menit, suasana hening. Lantas, Bayu kembali bersuara menggunakan jurus tipu seorang buaya darat, “Ada beberapa barang yang harus aku ambil dari dalam, Sayang.”


Klek. Akhirnya pintu terbuka setelah beberapa saat. Bayu mengulum senyum, “Kau cemburu, ya?”


“Tidak!” katanya tanpa menatap.


“Lalu itu, apa artinya?”


“Aku ... aku hanya tidak suka kamu disukai olehnya ...,” kata Putri menunduk dalam.


“Itu sama saja ....” Tapi Bayu senang bukan main dicemburui seperti itu. Itu artinya Putri mulai menyimpan perasaan padanya. Pendekatannya selama ini tak akan sia-sia.


“Ya sudah-ya sudah!” kata Bayu memutus pembicaraan tak penting ini. “Jangan diperpanjang,” katanya lagi.


Putri berhambur memeluk Bayu. “Aku menyayangimu, Bayu.”


Bayu terkesiap saat mendengarkan pengakuan itu. Bahagia, euforia, kemenangan menguasai dirinya.


“Kalau boleh jujur, aku pun begitu Put ...,” suara Bayu lembut. Lelaki itu memang kerap berbicara kasar kepada teman-temannya dan juga jutek pada saat awal mereka bertemu. Tetapi setelah saling mengenal, pembawaannya begitu halus dan sangat menghargai wanita. Terutama kepada Ibunya sendiri.


Bayu melepaskan pelukan. Memberi jarak di antara mereka berdua. "Put ...," ucapnya sambil membelai-belai pipi yang bersemu merah itu.


Namun kemudian Bayu memeluknya lagi dan melakukan hal lebih tanpa Putri berusaha menolak. Walaupun sudah tertutup kabut, Putri berusaha tenang tanpa melepaskan tatapannya kepada sepasang manik mata kelam di depannya.


“Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Bayu setengah berbisik. Dan Putri mengangguk samar. Tubuhnya sudah tak terkendali lagi. Mungkin kata yang tepat adalah pasrah.


“Apa kau tahu cara yang terbaik?” lirih Putri bertanya.


“Tentu saja,” jawab Bayu tanpa ragu. Bukankah ia sering menonton blue film bersama dengan teman-temannya yang nakal itu?


“Tetapi itu pun kalau kau mengizinkannya.”


Putri terdiam, hatinya terasa enggan, tetapi tubuhnya tak kuasa untuk menolak.


“Dan diammu itu aku anggap iya,” ucap Bayu lagi setelah hening beberapa saat. Dan nalurinya langsung memberi petunjuk, saat ini … yang berlaku adalah hukum daya tarik menarik antara laki-laki dan perempuan.


"Kamu cantik, cantik sekali,” ulangnya.


Entah mengapa, Putri terlihat lebih cantik berpuluh-puluh kali lipat dibanding biasanya. Senyum penuh arti tersungging di bibir Bayu, sebab merasakan kesenangan yang semu. Dadanya terdengar bergemuruh, seperti berada di ambang Realita dan halusinasi.


Stop, Bayu, kau tidak boleh melakukannya! katanya dalam hati.


Tapi tidak ada yang dapat menghentikannya.

__ADS_1


__ADS_2