
Ki Adiwerna mengangguk mengerti. “Demi bangkitnya kerajaan itu, Nyai membayar semuanya dengan pernikahan yang dulu pernah gagal.”
“Itu sesuai dengan mimpiku, Ki,” sahut Bayu.
“Ya, dan hanya kau yang bisa menyelamatkannya dari orang yang salah. Kau ada hubungannya dengan mereka dan mempunyai ikatan khusus.”
“Tolong beritahu caranya. Ki.”
“Bayu, kau serius?” sahut Kampleng. Sorot matanya menatap Bayu, menunggu jawaban. “Kau akan pergi ke alam lain nantinya. Kau dengar ‘kan? Risikonya cukup besar. Pikirkan Ibumu yang hanya sendiri ....”
“Aku tidak peduli dan aku harus ke sana.”
“Apa yang bisa kau lakukan, kau tak punya keahlian apa-apa selain mesin motor.”
Ki Adiwerna langsung menyela. “Datang lagi ke sini besok, pada saat Jumat Kliwon. Akan kutunjukkan caranya bila kau memang bersungguh-sungguh.”
“Iya, saya akan datang ke sini lagi,” kata Bayu tanpa ragu.
“Pikirkan matang-matang dulu, bicarakanlah dengan ibumu. Beliau berhak mengetahuinya. Karena ini bukan sembarang perjalanan.”
__ADS_1
“Baik, Ki. Saya akan kembali di hari itu.” Bayu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, namun Ki Adiwerna menolaknya.
“Saya tidak melakukan apa pun, simpan saja.”
Bayu sangat berterima kasih kepada beliau. Lantas keduanya kembali ke rumah.
∆∆∆
Bayu kembali ke rumah dengan wajah yang berseri-seri. Sebuah harapan terbentang luas dalam benaknya saat ia mendengar penjelasan Ki Adiwerna bahwa ia bisa menemui sosok Roro Ageng, wanita pujaannya.
“Yu, aku pulang duluan. Kau pikirkanlah baik-baik apa kata Ki Adiwerna tadi. Perjalanan ini bukan perjalanan yang mudah dan kau hanya sendiri. Ke mana arahnya pun kau tidak tahu. Secinta apa pun, kau dengan dia. Dunia kalian berbeda. Ki Adiwerna sendiri tidak menjanjikanmu bisa atau tidaknya membawa kekasihmu kembali," ujar Kampleng menjelaskannya lagi. Ada sedikit rasa sesal dalam hati. Kalau tahu kejadiannya akan seperti ini, maka ia tidak akan mengajaknya ke sana. Awalnya—dia mengira bahwa Bayu akan bertanya saja, ternyata lebih dari itu. Begitu besar Bayu mencintai kekasihnya itu yang baru sebentar tinggal di dalam rumah ini.
Bayu menepuk pundak Kampleng, “Sudah, kau tenang saja. Nanti akan aku rundingkan masalah ini dengan ibuku. Matur suwun yo, sudah mengajakku ke sana. Tapi aku pasti akan tetap pergi untuk memperjelas semua ini.”
“Kau tidak tahu, Pleng. Sebelum paginya Putri pergi, kami sudah merencanakan pernikahan.”
Kampleng tertegun. Secepat itu temannya mengambil keputusan. Tapi ya sudahlah. Itu sudah menjadi keinginannya. Bukan urusannya juga.
Setelah berbincang agak lama—akhirnya Kampleng memohon diri untuk pergi dari rumah Bayu.
__ADS_1
Masuk ke dalam rumah, Bayu langsung menyampaikan perihal ini kepada Ibunya. Tak banyak yang ia katakan kecuali mengambil poin-poin pentingnya saja. Sepayah apa pun dia menjelaskan niscaya malah akan membuat beliau ketakutan. Lantas, Bayu mengatakan bahwa ia mungkin sebentar lagi akan pergi untuk menyusul Putri dan jika bisa dan tentunya jika Tuhan merestui—ia juga akan membawanya kembali. Perihal risiko yang akan diterima—Bayu tidak mengatakannya lantaran tak ingin membuatnya khawatir dan mengurungkan niatnya untuk pergi.
“Dengan siapa Bayu akan pergi?” tanya Julia.
“Sendiri, Bu.”
“Sendiri?” ulang Ibu bertanya.
“Iya, jangan ngajak-ngajak orang nanti kalau ada apa-apa, malah jadi merepotkan.”
“Ke mana kau pergi, Yu. Ke bukit itu lagi?” sebenarnya Julia memang agak kurang setuju bila Bayu kembali pergi ke sana. “Tempatnya di sana sangat angker,” sambungnya lagi.
“Ibu doakan saja, semoga tidak ada apa-apa. Selamat seperti dulu.”
“Setahu Ibu, di sana hanya ada bukit-bukit dan hutan belantara. Tempatnya masih belum terjamah manusia. Agak dam dan angker. Entah hewan apa saja ada di sana—mungkin macam-macam. Di sana juga tidak ada rumah penduduk apalagi ladang milik warga. Nanti kalau ada apa-apa, kau mau minta tolong dengan siapa, Yu?”
“....” Bayu diam saja, tekadnya sudah benar-benar bulat. Tidak ada keraguan atau pikiran untuk mundur sedikit pun.
“Berapa lama, kau pergi?” tanya Julia lagi.
__ADS_1
“Tidak jauh kok, Bu. Jangan khawatir, ya.”
Tetapi kata-kata Bayu tak juga membuat hati seorang Ibu menjadi tenang. Tetap saja seperti ada yang mengganjal dalam jiwanya. Ada semacam perasaan kehilangan, dan sangat tak rela Bayu pergi. Namun, Julia tidak dapat menahan dinding pendirian putranya yang sangat teguh.