
Terhitung setengah hari si kuda itu berlari membawa tuannya yang tidak sedang baik-baik saja. Dia hanya sesekali berhenti ketika tubuhnya terasa lelah dan membutuhkan makanan. Dan mungkin itulah yang membuat lajunya terasa lebih lambat daripada sebelumnya. Sesungguhnya hewan mempunyai rasa, hanya saja dia tidak dapat menyuarakannya lantaran bahasa mereka yang berbeda.
Bayu masih meratapi nasib. Seraya sesekali mengusap air mata yang jatuh tanpa ia sadari. Perih sekali. Ada semacam luka yang mengaga begitu lebar dan sulit untuk ditambal. Akan butuh berapa lama sehingga luka itu benar-benar bisa terobati?
Entahlah, Bayu tidak tahu.
Dalam hidupnya, Bayu tidak pernah terluka sampai sedalam ini. Benar-benar luar biasa pesona yang sudah Roro Putri tebarkan kepada dirinya sehingga membuatnya cukup berantakan, hancur lebur bahkan mungkin tak tersisa.
Berulang kali ia menenangkan diri bahwa kehidupan ini masih sangatlah panjang. Pasti masih banyak kebahagiaan lain yang bakal menunggu di kemudian hari. Namun entah kenapa air mata sialan itu tak henti-hentinya mengalir menunjukkan kelemahannya.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, sedari awal Bayu memang sudah tahu bahwa sesungguhnya mereka berbeda. Tapi siapa sangka, hatinya yang kosong memudahkan perasaan cinta itu masuk ke dalamnya, mendahului akal dan pikiran. Apalagi namanya kalau bukan bodoh?
__ADS_1
Karena sudah terasa lelah, Bayu menepi di bawah pohon yang rindang. Matanya menatap nanar sekitar.
Di mana kini ia berada? Tempat apa ini sebenarnya? Apakah benar ia berada di dunia masa lalu? Atau hanya sebuah ilusi? Kenapa ia harus datang ke sini dengan tujuannya yang sia-sia. Bayu bertanya-tanya sendiri.
Setelah berhenti cukup lama, Bayu kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa mempedulikan hari yang sudah mulai gelap. Karena sinar bulan yang sudah tidak bulat sepenuhnya itu masih bisa menembus pekatnya hutan ini.
Namun siapa sangka pada saat ia mulai berjalan selama beberapa meter, langkah kuda tersebut tiba-tiba terhenti karena munculnya dua orang aneh yang berada di depannya. Mereka berjubah putih bersih memakai peci dan wajahnya ke arab-an. Seperti seorang pandai agama, begitulah Bayu mendefinisikan.
“Assalamualaikum ...,” sapa kedua orang itu dengan wajah yang sangat ramah. Ramah sekali. Wajahnya menampilkan senyuman yang tulus.
“Waalaikumsalam,” jawab Bayu.
__ADS_1
“Perkenalkan namaku Ilham dan ini Ilyas,” mereka memperkenalkan diri. “Kami ditugaskan untuk mengantarkan mu pulang. Keluargamu sudah menunggumu,” katanya dengan ramah.
“Tanpa di suruh, pun. Tentu saja aku akan pulang. Ini buktinya. Tapi sebelum itu tentu aku akan menemui seseorang lebih dahulu dan mengantarkan kuda ini kepada pemiliknya,” jelas Bayu kepada mereka.
“Tidak, Bayu,” ucap salah satunya, yakni Ilyas. “Maaf aku sebut namamu. Tapi sebaiknya kita langsung pulang saja biar kuda ini kembali sendiri kepada pemiliknya.”
“Tapi, aku ingin menemui seseorang,” ulang Bayu berusaha membuat mereka mengerti. Dia ingin sekali menemui Nawang dan ingin tahu tentang anak itu.
Tetapi jawaban mereka sungguh mengecewakan. Keduanya menggeleng. Lantas Ilham berujar, “Jangan membuat waktumu lebih lama lagi berada di sini. Kau sedang ditunggu. Kau pergi sudah sangat lama. Pulanglah bersama kami, akan aku tunjukkan caranya agar kau senantiasa selamat sampai di tujuan yang seharusnya.”
Bayu menghela nafasnya, sepertinya dia memang tidak berkesempatan untuk bertemu dengan Nawang lagi. Ya, mungkin selamanya.
__ADS_1