
“Baiklah, aku akan mengikuti kalian,” jawab Bayu akhirnya. Tetapi terlebih dahulu menoleh kepada kudanya yang akan ia tinggalkan. “Terima kasih kau telah mengantarkan ku selama ini, ke mana pun aku pergi. Maafkan aku yang tidak bisa memberikanmu apa-apa.” Bayu mengelus kepala sang kuda. “Kembalilah kepada pemilik mu dan sampaikan terima kasihku kepada mereka.” Kuda itu meringkik seakan mengerti apa yang sedang diucapkannya. Sesaat kemudian—kuda itu melesat melanjutkan perjalanannya sendiri. Mungkin kembali ke pada pemiliknya.
Bayu menoleh menatap mereka berdua. “Kita sudah bisa pulang sekarang,” ujarnya.
“Kemarilah!” titah Ilham untuk memosisikannya berada di tengah-tengah mereka. “Pejamkan matamu sebelum kita benar-benar berhenti,” katanya yang lantas dituruti oleh Bayu.
Sesaat setelah Bayu memejamkan matanya, angin terasa berhembus sangat kencang menerpa pori-pori kulitnya. Ia serupa seekor burung malam yang terbang di atas awan. Lalu mendarat sempurna di sebuah hamparan rerumputan. Kepalanya pusing dan terasa berputar-putar.
“Sudah sampai di gerbang,” ucap suara Ilham membuatnya membuka mata.
Ternyata gerbang ini yang dimaksud, yakni gerbang yang pertama kali ia masuki. Hanya saja ia masih berada di dalam. Cahaya itu belum terlihat. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan langsung mengeluarkan sebuah benda dari tasnya.
“Ehm, Kak Ilham, Ki Adiwerna menyarankan ku agar memakai belati ini untuk menembus pintu dimensi ini,” ucap Bayu seraya menunjukkan benda itu.
“Sebaiknya kau jangan menggunakan benda itu lagi. Setelah kau pulang nanti, kau harus segera mengembalikannya. Ingat, kita hanya boleh meminta kepada Tuhan bukan yang lain,” jawab Ilyas yang kemudian diangguki oleh Bayu.
“Berdoalah agar pintu segera terbuka!” ucap Ilyas lagi.
__ADS_1
Mereka menengadahkan tangannya ke atas, lalu berdoa dengan khidmat. Tak lama kemudian pintu dimensi terbuka. Cahaya putih mengkilat-kilat menyilaukan mata. Siap untuk membawa tubuh mereka keluar dari tempat ini.
“Sebaiknya kita segera menembusnya, sebelum cahaya ini hilang,” kata Ilham.
“Iya, ayo segera,” sahut Ilyas. Sementara Bayu hanya mengikuti. Namun sebelum ia benar-benar melangkah ....
“Bayu ...!”
Tetapi tunggu! Suara itu?
Bayu terkejut, jantungnya terasa berdenyut pada saat ia menoleh. Ia melihat Roro Putri bersama Prabu Dharma dan juga Ratu Saraswati. Mereka datang menggunakan kereta kuda. Senyumnya seketika merekah dan hampir saja ia melompat untuk kembali kalau saja Ilham dan Ilyas tak menahan tubuhnya.
“Jangan kau hampiri dia, Yu!” tegas Ilyas menatapnya dengan tajam. Bayu bimbang, wajahnya menoleh ke sana dan kemari. Antara ingin menghampiri atau tetap pergi.
Menaruh curiga dan khawatir, Ilyas dan juga Ilham langsung mencekal pergelangan tangan Bayu. Takut kalau-kalau anak ini berubah pikiran lalu meloncat kepada mereka.
“Kembalilah!” ucap Putri dengan wajah yang sangat sendu. “Kita akan bahagia, hidup bersama. Kembalilah!” tangan wanita itu terulur meminta untuk diraih. Wajahnya sangat cantik bersinar bak bulan purnama. Sanggupkah? Sanggupkah ia berpisah dengan Sang Putri masa lalu itu?
__ADS_1
“Lepaskan!” Bayu memberontak kuat membuat tubuh kedua lelaki itu sedikit kewalahan. “Aku ingin kembali bersamanya! Aku ingin hidup bahagia dengan mereka!”
“Kau pegang tubuhnya kuat-kuat, Yas!” kata Ilham kepada saudaranya.
Entah apa yang dipikirkan Bayu saat ini, tiba-tiba pikirannya berubah menjadi kacau tanpa bisa berpikir jernih. Sementara cahaya dimensi sudah semakin mengecil sebelum mereka benar-benar memasukinya.
“Istighfar Bayu, dunia kalian telah berbeda. Dia bukan jodohmu. Jodohmu ada di dunia nyata, bukan di dunia ilusi!” hentak Ilham agar Bayu berhenti memberontak.
“Tidak, lepaskan aku!” seru Bayu menatap sang Putri dengan wajah yang begitu berharap, “Putri ...!”
“Ibumu menunggumu di rumah, kau mempunyai keluarga yang begitu menyayangimu,” ucap Ilyas dengan suara tegas.
“Ayo cepat tarik dia, Yas, sebelum pintu dimensi tertutup, setelah ini kita langsung hancurkan saja pintunya agar tak ada korban lain,” kata Ilham kepada saudaranya. Dengan terus merapalkan doa-doa, akhirnya Ilham dan juga Ilyas berhasil menarik Bayu keluar dari dunia kelam itu.
Hingga beberapa saat kemudian, Bayu merasa terhisap begitu kuat, melesat seperti di terjunkan ke dalam jurang yang teramat dalam, lalu ia melambung dan merasakan kekosongan luar biasa saat secara tiba-tiba ia kembali bernapas dan merasai dadanya yang teramat sesak setengah mati hingga terbatuk-batuk.
Sampai akhirnya, Bayu tersadar dan membuka mata.
__ADS_1
Namun betapa terkejutnya dia saat matanya terbuka. Dia sedang berada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh berapa orang yang menatapnya dengan sama-sama terkejut, bahkan ada yang menjerit sampai berlarian keluar rumah.