Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Jangan Hukum Kami


__ADS_3

Bayu bertolak dari halaman depan menuju ke belakang tempatnya beristirahat. Setelah mengalami malam-malam yang panjang—akhirnya ia bisa tertidur malam ini dengan tenang tanpa gangguan. Kamar mewah, kasur yang empuk serta dingin walau tanpa AC itu membuatnya terasa semakin nyaman. Mungkin beginilah gambaran menjadi orang kaya. Hanya saja, ini kaya versi jaman dulu.


Pagi harinya, Bayu bangun dengan perasaan yang lebih baik. Kedamaian begitu terasa di negeri ini ia rasakan. Setelah membersihkan diri di tempat yang disediakan, Bayu mengganti pakaian. Khusus selama di sini, pakaian yang ia kenakan adalah pakaian kerajaan. Dia merasa sedikit gagah memakai pakaian itu, meskipun masih lebih kalah gagah daripada Hanung. Lantas keluar menuju ke sekitar kerajaan, bertujuan untuk mencari makanan. Lapar, begitulah kira-kira.


Sesampainya di dekat semacam gudang makanan dan buah-buahan, Bayu mendengar desas-desis semua orang yang ada di sana. Mereka terdengar memuji dan menyanjungkan Raja mereka yang secara ajaib bisa mengembalikan keadaan istana ini seperti semula. Begitu juga dengan dirinya yang ikut serta dibicarakan, lantaran telah berhasil mengalahkan Hanung dan membuatnya mati di tempat.


“Kupikir tadinya dia hanya rakyat biasa yang lemah dan tidak punya kemampuan apa-apa seperti kita. Sampai-sampai aku berpikir, masa sih ‘ini’ kekasih Tuan Putri?”


Bayu agak tersinggung saat mendengar beberapa orang yang ternyata pernah meremehkan dan merendahkannya. Namun ia segera dapat memaklumi, sepertinya dia yang seharusnya sadar diri.


“Tapi kenyataannya, dia hebat. Aku yakin pilihan Tuan Putri pasti tidak akan pernah salah. Mana mungkin seorang Tuan Putri mencari calon suami asal-asalan!” ucap salah seorang lagi dan saling menyahut dengan yang lainnya.


“Tapi yang bikin janggal itu katanya dia datang dari masa depan, aneh tidak sih?”


“Kalau menurutku juga aneh.”


“Kau percaya?”


“Percaya saja, lagi pula untuk apa dia berbohong.”


Setelah lama membiarkan mereka saling bicara, Bayu melihat Dayang Retno menoleh dan seketika terperanjat, “Eh, Ra-Raden, kau sudah bangun rupanya. Ada yang bisa kami bantu Raden?”

__ADS_1


Dayang perempuan agak tua yang melayaninya kemarin itu terlihat agak gugup dan salah tingkah, karena ketahuan telah berani membicarakannya di belakangnya.


“Di mana?” tanya Bayu yang terdengar ambigu.


“Di mana apanya Raden?” tanyanya dengan bingung.


“Di mana kalian meletakkan otak kalian yang dangkal itu?”


“Ampun Raden, jangan hukum kami ... kami janji tidak akan mengulanginya lagi,” katanya hampir bersamaan.


Tiba-tiba semua Dayang yang berada di sana mendekat dan berlutut di hadapannya. Bayu terkesiap ketika mereka melakukan ini. Ini salah, batinnya menyeru. Hanya kepada Tuhanlah seharusnya mereka melakukan ini, dan hanya Dia satu-satunya yang patut untuk disembah.


“Jangan hukum kami, Raden. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi,” katanya lagi.


“Hei, apa yang kalian lakukan? Siapa yang akan menghukummu?” tanya Bayu membuat mereka seketika mendongak. “Aku ke sini hanya mau minta tolong.”


“Raden tidak menghukum kami?” tanya Dayang Retno.


“Aku bukan Tuhan yang boleh mengadili kalian. Tetapi lain kali jangan ulangi lagi. Itu perbuatan yang tidak baik. Pergunakanlah waktu kalian untuk hal yang lebih berguna,” kata Bayu. Kemudian melanjutkan, “Berikan aku makan saja!”


“Baik, Raden. Akan kami layani sebaik-baiknya,” jawab Dayang Retno.

__ADS_1


“Aku lapar, aku ingin makan,” kata Bayu dengan wajah memelas.


“Baik Raden, segera kami siapkan,” ucapnya kemudian.


Huh, lagi-lagi mereka salah sangka. Mereka pikir Bayu adalah sosok pemuda yang terlihat urak-urakan, kejam, ketus dan semena-mena. Ternyata dibalik itu dia adalah pemuda yang sangat baik dan mudah memaafkan seseorang.


Beberapa saat kemudian—datanglah sejumlah makanan yang baunya sangat enak. Bayu menyantap makanan itu dengan sangat bergairah. Dia bagaikan seorang musafir yang telah kelaparan selama berbulan-bulan selama di perjalanan.


Bayu tidak ingin berlama-lama menikmati hidangan. Wajah Roro Putri terus membayang di kepalanya sehingga setelah itu, ia bisa segera bertandang ke Kaputren untuk menemuinya.


“Kapan dia dipindahkan ke Kaputren?” tanya bayu kepada Dayang Retno yang selalu setia menemani.


“Tadi pagi, Raden ....”


“Bagaimana keadaannya? Hah, aku ingin segera menemuinya.”


“Kata Den Ayu, racun di tubuhnya sudah mulai menghilang. Mungkin yang masih berat terasa di bagian luka tusuknya.”


“Antarkan aku ke sana, Dayang. Tidak ada siapa-siapa ‘kan di sana?”


“Tapi sebelum ke sana, Raden diperintahkan untuk ke pendopo terlebih dahulu untuk menemui Prabu. Beliau sudah menunggu sejak pagi tadi.”

__ADS_1


“Ah iya, aku lupa. Baiklah aku akan segera ke sana!”


__ADS_2