Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Naluri Perempuan Selalu Mendahului Masa


__ADS_3

“Sebelumnya—aku dari desa sebelah tempat yang sudah kau lewati,” jawab Nawang. Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sedih ... setiap hari aku sangat merindukan suamiku. Aku pernah bermimpi aku bisa hidup bersama dan punya anak darinya. Tetapi kenyataannya itu hanya mimpi—” Air mata Nawang kian berjatuhan.


Sebagai lelaki sejati juga sebagai bentuk rasa terima kasih, Bayu mendekatinya untuk memberi penenangan. Tanpa berkata apa pun, Bayu menarik kepala Nawang ke bahunya untuk memberikannya sandaran.


“Terima kasih, Kang Mas,” katanya lagi. Dan Bayu mengangguk.


“Sebenarnya, aku masih penasaran dengan tujuanmu untuk datang ke sana. Terlebih dengan pakaianmu yang aneh ini.”


“Sama denganku, aku juga merasa aneh dengan pakaianmu,” balas Bayu membercandai sehingga cubitan sempat mendarat beberapa kali di perutnya. “Sebenarnya ada urusan yang belum aku selesaikan bersama Nyai Roro Ageng.”


“Kalian pernah bertemu?” katanya melepaskan diri dari bahu tempat Nawang bersandar. Matanya melihat penuh rasa ingin tahu.


“Ya, dari masa depan, aku harap kau tidak bingung dengan maksudku.”


“Ya, aku tahu. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, aku yakin dan percaya padamu bahwa hal itu memang bisa saja terjadi. Apa kalian terlibat urusan percintaan?”


“Mungkin bisa dibilang begitu.”


Nawang terperangah melihatnya tanpa berkedip. Banyak pertanyaan di kepalanya, namun rasanya kurang santun bila bertanya terlalu jauh. Jelas soal ini bukanlah urusannya sama sekali. Setelah beberapa lama kemudian, Nawang lantas berbicara lain lagi. “Kudengar, bulan purnama nanti, Nyai Roro akan menikah dengan Pangeran.”


“Dan itu tujuanku.”

__ADS_1


“Kau tidak boleh terlambat datang, Kang Mas. Kalau tidak kedatangan mu yang jauh ini hanya sia-sia saja.”


Mendengar hal itu Bayu keluar lalu melihat ke atas. Langit terlihat terang, namun purnama masih belum terlihat bulat sempurna. “Tenang, aku masih punya waktu. Sudah kuperkirakan perjalanan ini membutuhkan waktu sehari lagi. Mungkin cukup.”


“Ya, kau benar.” Bayu kembali ke dalam. “Memangnya kau tahu dari siapa?” tanya Bayu penasaran.


“Setiap sepekan sekali, pasti ada orang yang berdagang kemari. Dan kami bisa mendengar apa pun dari penuturannya, termasuk keadaan kerajaan, begitu Kang Mas,” jelasnya yang mudah di mengerti.


Malam semakin dingin dan dinginnya—semakin merasuk tulang. Begitu juga yang tengah Bayu dan Nawang rasakan karena mereka tidur di satu ranjang. Hanya tempat ini yang tersedia.


“Aku tidak pernah merasakan hawa sedingin ini,” kata Bayu memecah kesunyian malam. Selimut tebal ini seolah tidak ada guna baginya.


“Kau boleh memelukku, Kang Mas,” jawab Nawang.


Lantaran tak juga merespons, Nawang kembali memecah keheningan, “Bayu ...,” lirihnya mulai berani memanggilnya tanpa sebutan seperti tadi.


Bayu menoleh melihat manik mata bening yang sedang menatapnya.


“Kau lihat Kami tadi berunding?”


“Ya, aku melihatnya, apakah ada yang salah denganku?”

__ADS_1


“Tidak ada yang salah darimu. Kami hanya berunding untuk menentukan di mana kau akan tidur malam ini. Akhirnya mereka menyetujui kau tidur di tempatku.”


“Sejujurnya—seperti yang ku katakan tadi. Aku tidak masalah jika harus tidur di mana pun. Yang penting aku bisa terlindung dari hujan dan dinginnya angin malam, seperti saat ini.”


“Kau tidur di tempatku karena--tentunya aku mempunyai alasan.”


“Apa Nawang?”


“Minggu ini adalah masa suburku.”


“Maksudmu?” tanya Bayu bertambah penasaran.


“Aku ingin meminta sesuatu darimu, itu pun jika kau mau.”


Dan akhirnya Bayu mulai menyadarinya.


“Aku ingin mempunyai anak darimu,” katanya lagi. “Aku menyerahkan diriku padamu.”


Ba-bagaimana mungkin mempunyai anak tanpa menikah? Pekik Bayu dalam hati. Bagaimana kelanjutan cerita ini jika Bayu melakukannya dan benih itu berhasil tumbuh. Sama sekali Bayu tidak pernah bermimpi untuk bisa mempunyai anak dari wanita lain apalagi di dunia ghaib seperti ini. Dunia yang menurutnya aneh dan sulit di mengerti.


Bayu menggeleng, “Aku tidak bisa, Nawang.”

__ADS_1


“Kau tidak perlu cemas, aku tidak akan meminta pertanggung jawaban. Aku hanya butuh keturunan untuk meneruskan keturunanku, yang akan kami rawat sama-sama di sini. Tapi seperti yang kubilang tadi, jika kau tak keberatan. Satu hal yang harus kau tahu, Bayu. Kelak anak ini bisa menolong mu jika memang dia berhasil tumbuh.”


Ah, perempuan memang selalu mendahului masa, pikirnya. Bayu mendesah kan nafasnya ke udara. Merasa kasihan dengan perempuan yang kehausan ini, membuat Bayu menyetujuinya. Juga sebagai balas budi lantaran sudah diizinkan menginap di rumahnya.


__ADS_2