
Seminggu berlalu semenjak Dewi main ke rumah. Seminggu juga Bayu tak mendapat pesan atau panggilan dari nomor baru. Padahal, Bayu sudah meninggalkan kartu nama waktu itu. Tapi sampai sekarang, kenapa Dewi tak juga menghubunginya?
Kalau boleh bertindak, pasti Bayu akan datang langsung ke tempat tinggal Dewi sekarang ini. Tapi... untuk ke berapa kalinya dia harus bertindak bodoh demi gadis itu?
Beberapa hari lalu dia naik ke panggung dan ngaku-ngaku jadi suaminya. Dan sekarang... dia nyamperin ke rumah, Bayu sudah tidak punya muka lagi untuk menampakkan diri di hadapan semua teman-temannya. Masih mending kalau Dewi masih single. Kalau dia sudah punya pacar gimana? Apa nanti tidak jadi sebuah keributan? Lagi pula Dewi ke sini juga bukan buat santai-santai. Dia sedang melakukan tugas. Tak elok jika terus mengganggunya.
"Di hubungi saja, Yu. Biar kau bisa tidur," kata Julia kepada sang anak.
"Aku belum menyimpan nomornya," balas Bayu.
"Lah, gimana? Berarti pertemuan kemarin belum ada hasil?"
"Ya belum lah. Kan baru pertama kali jalan."
"Kurang bumbu tidak?"
"Kurang bumbu gimana?" tanya Bayu tak habis pikir. "Masa baru dua kali ketemu langsung jebret ngajak nikah? Kan tidak mungkin, Bu."
"Tapi cewek itu biasanya suka yang pasti-pasti."
"Tidak semua cewek seperti itu," balas Bayu. "Kalau tidak suka, yang ada ceweknya nanti malah risih."
Pria itu malah sedang meragukan kelanjutan hubungan mereka karena statusnya sendiri. "Apa karena tahu aku duda? Jadi dia menjauh?"
Ah, entahlah! Pusing!
Namun saat hari berikutnya, keberuntungan datang menghampiri. Dewi datang mengatakan ingin meminta tolong padanya untuk mengantar temannya yang sakit itu ke rumah sakit.
"Maaf Mas Bayu, sekalinya aku datang ke sini malah karena lagi butuh ... Jadi terkesan gimana gitu," ucap Dewi sangat tidak enak hati. "Kami tidak ada kendaraan lagi di sana. Ada motor memang, tapi keadaannya sudah parah dah tidak mungkin bisa duduk boncengan."
"Ya, tidak apa-apa. Saya bantu antar ke rumah sakit terdekat," kata Bayu akhirnya menyetujui.
__ADS_1
Ternyata yang sakit itu teman perempuannya. Dari cerita yang dia dengarkan saat di perjalanan, rumah mereka di Jakarta katanya berdekatan.
"Ya, cuma berjarak tiga rumahlah kira-kira," ujar Dewi setelah panjang lebar dia bercerita. Cara bicaranya sudah tidak sejutek dulu saat pertama kali mereka bertemu. "Ntar kapan-kapan Mas Bayu aku ajak ke rumahku, deh. Biar tahu gimana kehidupan di perkotaan."
Bayu hanya mengangguk. Dia berharap ini adalah kode untuknya supaya bisa mengetahui kehidupan Dewi lebih jauh. Syukur-syukur, bisa bergerak lebih cepat.
"Kita ke rumah sakit besar atau ke Puskesmas aja?" tanya Bayu setelah beberapa saat.
"Kalau melihat dari kondisinya sekarang ini, kita langsung ke rumah sakit besar aja," jawab Dewi. Temannya itu sudah tak lagi bisa bersuara karena suaranya hampir habis.
"Ok. Siap."
***
Satu jam kemudian, akhirnya mereka sampai di salah satu rumah sakit besar yang ada di kota itu. Dewi dan Bayu duduk menunggu di IGD, menunggu teman Dewi yang bernama Dian itu ditangani oleh dokter yang sedang berjaga di sana.
"Sudah tahu parah begitu kenapa baru di bawa ke sini?" Bayu bertanya.
"Dia pikir cukup minum parasetamol aja bisa membaik, ternyata demamnya malah tambah parah," jawab Dewi bergerak gelisah. Matanya sayu menatap pintu yang menghubungkannya ke dalam ruangan pemeriksaan tersebut. Tak sabar menungu kabar baik dari dalam sana.
Dewi terlihat memaksakan senyum di tengah-tengah rasa gundahnya. Sampai kemudian, dia pun mengatakan sesuatu, "Kalau sampai dia kenapa-kenapa gimana ...? Orang tuanya sudah...." untuk sekadarnya pun, Dewi tidak dapat melanjutkan kalimatnya lagi.
"Jangan berpikir macam-macam. Dia pasti baik-baik saja." Bayu mengusap rambutnya dengan tulus. Tanpa di duga, gadis itu justru mencari kehangatan dalam dirinya dengan mendekap kan kepalanya sendiri ke dalam dadanya.
Dia menyerahkan diri, Bayu membatin. Dengan begini, Bayu jadi merasa memiliki harapan. Awas, ya. Jangan PHP! Seru batinnya mewanti-wanti.
Beberapa puluh menit kemudian, akhirnya Dewi dan Bayu sudah diperbolehkan untuk masuk. Dokter mengatakan bahwa suhu tubuh Dian sudah mulai menurun.
"Kaka Dian kurang cairan. Kaka Diam kurang minum, ya?" dokter bertanya kepada gadis itu.
"Iya ... Saya orangnya malas minum, Dok..." balas Dian dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Suaranya juga hampir habis." Dokter perempuan muda itu tersenyum. "Tidak apa-apa, nanti dibantu suster supaya lebih sering minum hangat. Tapi malam ini harus menginap dulu, ya? Nanti dokter izinkan pulang kalau sudah membaik. Ok?"
"Terima kasih, Dok," ujar Dewi kepada perempuan itu sebelum akhirnya ia berlalu pergi untuk kembali melakukan tugasnya yang lain.
"Makasih Mas Bayu sudah mengantarkan saya ke sini," ujar Dian. Suaranya hampir tak terdengar.
"Sama-sama, Di," jawab Bayu tersenyum. Asalkan mereka tahu, Bayu justru senang mengantar mereka kemari. Karena siapa lagi kalau bukan... Hahahahhh, ini adalah salah satu pengalaman menolong orang paling menyenangkan dalam sejarah hidupnya.
"Maaf sudah mengganggu waktumu," ujar Dewi saat mengantar pria itu keluar dari rumah sakit.
"Tenanglah. Semua pekerjaanku sudah ada yang menghandel," jawab Bayu. "Benar tidak apa-apa aku tinggal?"
"Aku kelihatan kurang ajar kalau harus menyuruhmu menginap di sini bersamaku juga." Dewi tersipu. Semburat merah terlihat begitu kentara di wajahnya.
"Sebenarnya tidak masalah. Aku sama sekali tidak keberatan selagi ada kamu." Bayu menaik-naikkan alisnya dan tersenyum menggoda.
"Apaan, sih!" seperti biasa, Dewi akan berkata demikian kalau dia sedang kikuk atau salah tingkah.
"Wi... apa kamu masih sendiri?" Bayu memberanikan diri untuk bertanya demikian. Ya, lebih baik begitu, bukan? Daripada dia terlanjur jatuh. Sakit.
"Kalau pun ada udah aku putusin. Dia tidak pernah ada di saat aku butuh. Jadi lebih baik menerima yang pasti-pasti aja."
"Baiklah kalau begitu. Aku yang akan datang untuk membawa kepastian."
"Ah, sudahlah! Sana pergi! Nanti Ibumu mencarimu!" Dewi mendorong tubuh Besar Bayu untuk menjauh darinya.
"Ya sudah, aku pulang. Tapi jngan kangen, ya."
"Kalau jalan itu fokus lihat ke depan, ntar nabrak!" Dewi mengingatkan.
"Mata ke depan, hati ke belakang." Sebelum benar-benar pergi. Bayu memperlihatkan dua jarinya yang membentuk emot love.
__ADS_1
"Dasar duda ganjen!" makinya berpura-pura kesal.
Ini adalah malam yang menyenangkan bagi Bayu. Lihatlah, selalu ada hikmah di setiap musibah. Aku akan segera memilikimu dan membawamu pulang! Itu pasti! Tunggu aku sayang!