
“Saya ingin bertemu dengan Roro Ageng.”
Mereka mengernyit bersamaan. Kemudian disusul pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat mereka semakin penasaran.
“Oh, kau tamu istana rupanya.”
Bayu mengangguk. Tetapi untuk kali ini, dia tak menjelaskan bagaimana ia bisa bertemu dengan Roro Ageng. Dia hanya mengatakan mempunyai kepentingan yang tidak bisa ia katakan lebih jelasnya yang malah membuat mereka semakin bertanya lebih lanjut, lalu timbul rasa ketakutan setelah mengetahui dari mana sebenarnya dia berasal.
Tampaknya mereka adalah perempuan-perempuan jadul yang tidak terlalu bisa menerima dengan wajar cerita yang ia maksud. Terlihat dari wajahnya yang lebih banyak kebingungan manakala Bayu berbicara panjang lebar menjelaskan bagaimana ia bisa sampai di sini. Maklum, mereka tidak pernah bersekolah.
__ADS_1
“Pasti Kang Mas, orang penting, ya?”
“Tidak terlalu penting juga,” kata Bayu sekadar menanggapi. Nyatanya dia bukan siapa-siapa untuk siapa pun. Ia hanya seorang pemuda yang akan mengejar cintanya. Lantas Bayu mengutarakan keinginannya untuk menumpang bermalam di sini karena ia dan kudanya sudah terasa sangat lelah. Sedangkan hari sudah mulai menggelap. Bayu butuh air untuk mandi dan tempat untuk singgah. Ia tidak seberani itu jika harus berjalan tengah malam seorang diri.
“Kang Mas, boleh tidur di mana saja. Pilih salah satu di antara kami,” katanya lagi. Mereka memiliki hunian sendiri-sendiri. Satu rumah satu orang, tidak ada campur yang satu dengan yang lainnya.
Bayu yang kebingungan itu menatap satu persatu perempuan memandanginya. Bayu merasa dirinya laksana seorang raja yang dibebaskan untuk memilih selir mana yang akan di kunjunginya malam ini.
Sebenarnya—Bayu agak heran dengan mereka yang tiba-tiba berkumpul untuk berunding. Ada apa? Apakah mereka tak mempercayai bahwa dirinya berasal dari keturunan baik-baik? Tetapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja dan tersenyum pada mereka seperti tak pernah terjadi apa-apa.
__ADS_1
“Kau tidur bersamaku,” kata salah seorang perempuan dengan senyumnya yang manis. Dia lebih manis di antara para perempuan yang lain. Kulitnya kuning langsat, rambutnya panjang sepunggung berwarna hitam legam. Karena merasa ucapannya terlalu ambigu, perempuan itu meralat, “Maksudku, tidur di rumahku.”
Bayu mengangguk, “Terima kasih, Mbak.”
Perempuan itu mengulurkan tangannya yang terasa halus, “Nama saya Nawang, panggil nama saja biar lebih akrab,” katanya dengan suara yang sangat merdu. Selama berada di alam ini, Bayu hampir-hampir tak bisa membedakan mana jenis makhluk Jin atau semacamnya. Termasuk para perempuan ini.
“Saya Bayu,” balas Bayu. Matanya menyorot sayu menyiratkan bahasa terima kasih.
Semakin malam keadaan semakin sunyi berganti dengan suara hewan-hewan kecil yang tidak asing di telinganya, yakni jangkrik, burung hantu dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Sentong, teplok alias lilin jaman dulu menempel di dinding. Pada abad ini, listrik memang belum tercipta. Rasanya, terlalu jauh membicarakan soal listrik. Sekadar alat minum yang kini Bayu gunakan saja terbuat dari bambu, tekonya juga terbuat dari tanah atau biasa disebut kendi. Tidak ada barang-barang modern di sini, semua terbuat dari manual tangan.
Oh, jadi begini gambaran hidup di masa lalu? Bayu yang memang jarang berbuat hal remeh temeh selain lebih sering keluyuran tidak jelas ini, pasti akan sedikit kesulitan jika di hadapkan dengan kehidupan seperti demikian. Beruntung saja dia dilahirkan dari masa depan.