
"Kapan?" Bayu bertanya.
Sambil mengedikkan bahunya, Dewi berkata, "Nggak tahu. Aku juga bingung. Atau mungkin hanya perasaanku saja."
"Coba di ingat-ingat lagi, barang kali memang betul pernah datang ke sini dulunya," ujar Bayu beranggapan demikian.
"Benar, Mas Bayu. Aku seperti pernah ke sini. Tapi dalam kondisi yang beda."
"Maksudnya?"
"Rumahnya belum seperti ini, tapi masih bangunan lama yang ... maaf, kurang bagus. Hanya halaman dan jalannya saja yang lumayan persis," jawab Dewi. Gadis itu bersandar di mobil Bayu demi bisa mengamati sekitar lebih menyeluruh. "Aku pernah baca di internet, salah seorang peneliti mengatakan kalau deja vu itu semacam kondisi di mana, seseorang itu seperti mengalami keadaan atau situasi yang sama dengan pengalaman di masa lalunya. Tapi yang bikin bingung, aku sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di sini selain hari ini. Selama dua puluh satu tahun hidupku, lebih banyak aku habiskan di kota."
"Tapi kamu harus tahu, deja vu bisa juga terjadi karena pernah dilakukan oleh orang dengan garis keturunan yang sama."
Dewi mengernyit, "Kau menghubungkannya dengan gadis masa lalumu itu?" tebaknya kemudian.
Bayu memandangi Dewi lebih intens, "Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini, Wi."
Mata mereka beradu.
"Ya, mata ini... aku seperti melihatnya," Dewi menunjuk iris mata Bayu yang membuatnya tenggelam lebih dalam.
"Lupakan!" Bayu mengalihkan pandangannya. "Kita masuk," ajak Bayu kemudian.
Dan di saat itulah, Julia menyambut. Wanita tua dengan memakai kerudung besar instan itu seketika rubuh. Syok melihat kedatangan seorang gadis cantik yang pernah pergi dari mereka.
"Bu!" pekikan Bayu membuat mereka panik, bahkan tetangga yang ada di sebelahnya.
Namun bukannya ikut menolong, mereka malah justru terpana melihat seorang gadis yang Bayu bawa. Kekasihnya telah kembali, kata mereka!
Apa ini yang dinamakan jodoh pasti bertemu?
***
Julia sudah siuman beberapa saat yang lalu setelah dibantu oleh Dewi. Dia seorang mahasiswa yang pintar dan yang pasti sangat cekatan apabila mendapati kondisi semacam ini.
__ADS_1
"Sekarang gimana keadaannya, Bu? Sudah jauh lebih baik?" tanya Dewi pada wanita tua itu yang masih menatapnya dengan rasa takjub. "Sudah enakan?" lanjutnya lagi sambil memijat pelan kakinya.
"Sudah, Nak..." Julia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terima kasih."
"Ibu masih terkejut ya, lihat aku?"
"Iya, kamu mirip sekali sama Putri. Tapi kalau kamu lebih modern. Ibu sebenarnya masih bingung. Kok, ada manusia yang sama persis? Padahal kalian tidak kembar."
"Katanya di dunia ini kita memang punya tujuh kembaran, loh."
Julia mengangguk.
"Namaku Dewi Larasati Ageng." Dewi memperkenalkan diri.
"Nama belakang kalian sama." Julia tersenyum.
Sementara itu Bayu memasuki kamar ibunya dengan membawa minum untuk Dewi karena tamu itu belum mendapatkan pelayanan dari tuan rumahnya.
"Kenapa di bawa ke sini? Kamu repot deh. Aku kan, bisa minum di luar."
"Iya percaya."
"Dewi dari Jakarta?" Julia bertanya.
"Iya, Bu. Aku di desa sebelah lagi KKN. Lagi banyak tugas sebetulnya. Tapi terpaksa kutinggal demi Mas Bayu. Dia maksa banget orangnya."
Ah, enaknya panggilan itu terdengar di telinganya, Bayu membatin. Membuatnya ingin menikahinya segera dan membawanya ke tempat peraduan. Melakukan hal terindahnya seperti dulu lagi. Hih, kenapa pikirannya malah ke situ, sih?
Bayu mengituk dirinya yang sedang berkali-kali menaik turunkan jakunnya melihat keseluruhan tubuh Dewi. Kulit putih mulus, lekukan tubuh yang pas, dada yang besar, dan tinggi yang semampai. Jangan lupakan harum tubuhnya yang begitu menggoda iman dan menggelitik naluri kelelakiannya.
"Oh... masih lama kan, di sininya?" tanya Julia lagi.
"Mungkin masih lama, Bu. Masih banyak yang harus kami kerjakan. Kami baru datang ke sini sekitar satu minggu."
"Syukurlah. Ibu jadi bisa lihat kamu lagi besok-besok."
__ADS_1
"Bisa, Bu... nanti kalau ada waktu senggang Dewi ke sini lagi."
"Terima kasih, Nak...." Julia memeluk gadis itu.
Dewi pun tersenyum mendapatkan perlakuan setulus ini. Demikian membuat dia mengenang ibunya yang telah tiada.
"Ceritakan kenapa kalian bisa bertemu!" pinta Julia setelah merenggangkan pelukan.
"Itu tuh, anak Ibu yang narik aku saat aku lagi pentas seni di panggung sama teman-teman. Ngaku-ngaku suamiku lagi," aku Dewi cemberut. Sumpah mati dia tidak akan melupakan kejadian paling memalukan itu.
Kedua mata Julia langsung membeliak, "Betul begitu, Yu?"
Sedang yang ditanya hanya terkekeh geli.
"Sembarangan kamu. Tidak tahu malu!" sembur Julia.
"Urat malunya aku putusin. Kalau tidak seperti itu Bayu tidak bisa membawanya pulang."
"Tapi kau bisa menunggunya sampai selesai."
"Kampleng yang ngojokin supaya aku naik. Aku lelaki sejati tentu saja jadi tertantang. Dia pikir aku tidak gentle?"
"Ealah, mana tuh anak? Belum ke sini dia? Kalau ke sini Ibu tabok pakai pedang."
"Mati dong!"
"Kau juga! Kalau ada yang ngajarin tidak benar tidak perlu nurut atau ikut-ikutan!"
"Kan aku anak baik. Saking baiknya kadang tidak enak menolak orang, Bu." Bayu beralasan.
"Alasan saja kamu! Kalau di suruh nyemplung sumur juga nurut?" cebik Julia hampir mendaratkan bantalnya kalau saja anak itu tak menghindar. "Malu-maluin! Bos bengkel kok naik-naik panggung nurunin anak gadis."
Ketegangan masih berlanjut. Tidak ada yang bisa menghentikannya termasuk suara petir sekalipun. Seperti biasa, Bayu tidak akan benar-benar mendengar suaranya. Masuk ke telinga kiri, keluar lewat telinga kanan.
Dewi berulang kali tergelak. Hahah lucu sekali mereka. Dia menyukai hubungan anak dan ibu ini yang jatuhnya malah seperti hubungan pertemanan.
__ADS_1
Dewi yakin, betapa keduanya saling menyayangi.