
Malam Jumat keliwon telah tiba. Bayu telah bersiap-siap dengan ranselnya. Memasukkan pakaian-pakaian yang bisa ia pakai selama di perjalanan. Tak lupa juga ia menyimpan keris peninggalan Ayahnya dan memasukkannya ke dalam anak tas yang paling luar. Bentuknya sangat kecil sehingga mudah untuk disimpan. Entah untuk apa alat itu, hanya saja dia ingin sekali membawanya. Setidaknya untuk perlindungan diri, seperti yang pernah ia dengar dari Ibunya.
Sementara Julia juga tengah sedang sibuk, menyiapkan perbekalan nanti untuk anaknya yang katanya akan pergi hari ini. Dia memasak rendang. Rendang yang paling kering agar bisa bertahan selama berhari-hari.
Tunggu. Berhari-hari? Tanya Julia dalam hati. Memangnya berapa hari putranya akan pergi. Sekalipun perasaan tak rela tetap hinggap dan menimbulkan kucuran air mata, tetap saja dia tidak dapat menahan kepergiannya. Cintanya kepada gadis itu amatlah besar. Julia melihat ketulusan dari sorot matanya.
“Jangan sampai ada yang ketinggalan. Bawa powerbank. Bateraimu tidak bertahan lama. Senternya juga jangan sampai lupa,” kata Julia yang diangguki pelan oleh Bayu.
Ada banyak drama saat Bayu akan pergi, Julia menangis meraung-raung bak melepas kepergian Bayu untuk selama-lamanya. Sudah sewajarnya Julia sedih. Hal yang serupa pernah dirasakannya pada saat dia melepas suaminya pergi berlayar dan tak pernah kembali. Ketakutan-ketakutan menyeruak dalam hati. Takut jika sewaktu-waktu hal itu kembali terjadi menimpa anaknya. Bedanya—Bayu bukan pergi ke laut, melainkan hutan belantara. Bukit kidul alias selatan.
__ADS_1
“Bayu akan membawa Putri kembali sama kita. Ibu jangan khawatir. Kalau tetangga tahu, bilang saja Bayu pergi ke Padang,” pesan Bayu sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah. Ia tidak ingin orang lain berpikir macam-macam tentangnya.
“Hati-hati, Nak! Jangan lupa berdoa!” seru Julia terdengar pada saat ia menaiki ojek yang khusus ia pesan semalam.
Pagi sekali, masih petang, Bayu sampai di rumah Ki Adiwerna. Sesampainya di sana, Ki Adiwerna menyuguhkan makanan-makanan di meja yang menurutnya aneh. Bukan nasi, bukan pula pacitan. Tetapi cengkeh, kemenyan, tembakau, dan papir. Pantaskah beliau dikatakan manusia normal? Tanyanya kepada diri sendiri.
“Ini bukan untuk dimakan,” kata Ki Adiwerna seolah mengerti apa isi hatinya. “Ini untukku ngelinting, alias merokok.”
“Kau sudah siap?” tanya Ki Adiwerna. “Sudah izin dengan Ibumu?”
__ADS_1
“Sudah, Ki,” jawab Bayu tanpa ragu.
Ki Adiwerna tersenyum. Begitulah seharusnya menjadi pemuda yang baik. Yakni selalu taat kepada orang tuanya.
“Apa yang bisa kau lakukan untuk mempertahankan dirimu di sana. Dunia yang mungkin tidak kau pahami sebelumnya. Mereka berbeda denganmu.”
“Aku bisa berdoa dan pernah berlatih bela diri, Ki,” jawab Bayu sangat jujur dan polos. Dia memang bisa bela diri lantaran pernah beberapa kali berlatih di sekolahnya. Tapi bukan itu yang Ki Adiwerna maksudkan.
“Hanya bela diri saja tidak akan terlalu membantu. Lalu apa yang bisa melindungimu dari hewan buas, dari kekuatan magis? Bukan hanya itu saja, kau juga akan mengalami beberapa kali peperangan? Kau akan hidup di masa ratusan tahun lalu. Jaman di mana orang-orang tidak bisa kita remehkan kekuatannya.”
__ADS_1
Tatapan Ki Adiwerna menyorot tajam, menatapnya menunggu jawaban. Ah, kenapa beliau tampak segagah semuda ini. Padahal waktu itu, Bayu melihat beliau sudah agak tua. Tetapi kenapa sekarang terlihat lebih muda? Apa mata Bayu sedang belekan waktu itu?
Sejenak Bayu merasa khawatir, ia sudah mengerti ke mana arah bicara Ki Adiwerna. Sungguh ia tak pernah membayangkan jauh sampai ke sana. Bayu terlalu polos. Bayu pikir, perjalanan ini murni hanya akan melihat dunia lain, bertemu dengan gadis yang bernama Putri itu dan membujuknya untuk pulang dengan cara yang Ki Adiwerna tunjukkan. Ternyata tidak. Tidak semudah itu.