
“Bagaimana ini, Bu? Putri tidak mungkin tidur sepulas ini.”
“Iya juga, ya, Yu,” kata Julia membenarkan. Karena penasaran, akhirnya Julia tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Memangnya kau mimpi apa?”
“Mimpi Putri pergi,” jawab Bayu.
“Ibu pikir itu hanya mimpi,” kata Julia kemudian. “Masa iya hilang sungguhan.”
Lantaran tak juga mendapat jawaban, Bayu memutuskan mengambil linggis untuk mencongkel pintu itu. Setelah berusaha kurang lebih dua menit kemudian, akhirnya pun pintu terbuka dengan akhir keadaan rusak. Menyalakan lampu, kedua pasang mata itu mengedar ke seluruh ruangan. Mereka membuka selimut dan mencari-cari sampai ke kolong tempat tidur. Tetapi mereka kelimpungan.Sebab, Putri memang tidak ada di kamarnya.
“Putri ke mana, Bu?” tanya Bayu setengah frustrasi.
“Ibu juga tidak tahu,” jawab Julia yang juga tengah sama-sama panik.
Mungkinkah Putri memang sudah kembali seperti apa yang ada di dalam mimpinya? Bagaimana itu bisa benar-benar terjadi? Pikir Bayu. Bukankah itu hanyalah mimpi. Ini sulit dipercaya. Namun pertanyaan yang sedang bercokol dalam benaknya terjawab sudah pada saat Bayu mengibaskan selimut bulu yang ada di atas ranjang. Selimut yang biasa Putri kenakan. Sebuah patung batu kecil cantik menggelinding dari sana hingga menyentuh lantai dan menimbulkan bunyi nyaring. Lantas—Bayu mengambilnya dengan mata yang berkaca-kaca. Putri kembali berwujud seperti semula. Seperti awal dia menemukannya.
“Putri ... Bu,” kata Bayu terdengar lirih. Julia ikut sedih melihat putranya seperti itu. Mereka sudah terlalu jauh menaruh mimpi dan harapan kepada gadis itu. Gadis yang dinanti-nantikan untuk menambah kehangatan di rumah ini.
Meskipun bulu kuduk terasa merinding, tapi Julia memberanikan diri untuk menyentuh benda itu. Dan dia semakin berlinang melihat perwujudan Putri sebenarnya. Apa maksud dari semua ini. Seolah-olah Putri di datangkan hanya untuk mempermainkan perasaannya saja.
***
Bayu tidak tidur semalaman. Matanya selalu saja perih. Lagi-lagi, air mata menetes membasahi pipinya. Teringat betapa manisnya kenangan mereka kemarin-kemarin; mulai dari pergi ke kebun cabai dan merasakan manisnya bibir Putri untuk yang pertama kali, mengantarkannya ke museum, melakukan dosa terindah di kamar mereka, makan es krim yang belepotan, semua rekaman itu berputar berulang-ulang di kepalanya bak seperti kaset yang rusak. Bayu benar-benar menyayangkan hari-hari indah bersamanya dan sangat kehilangan kepolosan Putri dalam menjalani kehidupan di masa kini. Ah, itu indah tiada tara.
Masih dengan menatap patung itu, Bayu bingung. Apa yang harus dilakukannya. “Apa kau mendengarku, Put. Kenapa kau kembali secara tiba-tiba? Aku sangat kehilanganmu. Ini belum satu kali dua puluh empat jam. Bayangkan bila aku tanpa dirimu satu hari, dua hari, seminggu, sebulan atau lebih dari itu. Aku tidak akan kuat,” katanya diiringi isak tangis. “Katanya kau ingin menikah denganku?”
“Bayu ...,” panggil Julia dari dalam. Bayu langsung mengusap kasar pipinya. Sedikitnya—Bayu masih mempunyai rasa malu apabila Ibunya melihat dirinya sedang menangisi seorang gadis.
Julia mendekat dan menyuguhkan minuman hangat untuknya, “Sarapan dulu, yuk. Ibu sudah masak makanan kesukaanmu.”
Bayu menggeleng. “Nanti saja, Bu.”
“Yu ...,” lirih Julia. “Sini-sini, kau kelihatan sedih sekali ....” Julia memeluk putranya yang justru malah membuat Bayu semakin tergugu.
__ADS_1
“Selamanya Bayu tidak akan bertemu dia lagi ..., selamanya, Bu. Coba Ibu bayangkan. Ini berat sekali bagi Bayu, Bu. Berat ....”
“Iya, Ibu juga tahu, tapi mau bagaimana lagi, Nak. Ibu juga sama-sama sangat kehilangan. Ibu sudah menganggap gadis itu seperti anak sendiri ....”
Keduanya menatap patung Putri keraton yang sedari tadi Bayu genggam erat. Bayu tidak bisa kalau hanya berdiam diri, dia harus mencari cara agar bisa mengembalikan gadis pujaan itu ke rumah ini, batinnya bertekad sangat kuat.
Pagi itu, bayu memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana. Dia juga tidak masuk kerja lantaran pikirannya yang sedang tidak beres, ia takut apa yang dikerjakannya tidak maksimal dan malah menjadi kerepotan orang lain. Bayu memilih untuk tidur seharian berharap mimpi itu datang lagi memberinya petunjuk. Ia memeluk erat guling yang sering Putri peluk, yang aromanya masih melekat di sana. Wangi lembut yang mampu membangkitkan kembali gairah yang sudah pernah terpancar ke rahim sang Putri. Ah, dia ingin melakukannya lagi, tetapi hanya dengan gadis itu.
Keesokan harinya—Bayu memutuskan untuk bangun dan masuk kerja seperti biasa. Sontak hal itu membuat Julia sedikit lega, setelah seharian kemarin Bayu tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mau bangun. Tadinya—Julia sempat berpikir untuk membawa putranya itu ke seorang Teungku yang dapat menyembuhkannya. Ia takut kalau putranya itu sampai (kemungkinan terburuknya) menjadi--gila. Namun itu tidak perlu lagi, karena kelihatannya secara perlahan Bayu sudah mulai menerima.
Hari-hari Bayu lalui dengan wajah yang muram, ada luka menganga yang tidak bisa ditambal dengan apa pun, seberapa keras pun teman-temannya menghiburnya. Dan yang pasti mereka seperti kehilangan teman yang biasa ceria bersamanya.
Bagaimana mungkin seorang laki-laki sejati tak menangis setelah kehilangan cinta pertamanya?
Ini hari minggu. Bayu dan teman-temannya kompak minta libur kepada Pakde. Alhasil bengkel tutup full hari ini.
Musim panen telah tiba. Pemandangan di sekitar terlihat sangat indah. Para petani hilir di pematang sawah dan menuju ke gubuk meletakkan bawaannya sebelum melakukan aktivitas mereka menggebuk padi ke alat manualnya.
Tudung-tudung menutup kepala mereka untuk melindungi diri dari terik matahari. Kicau suara burung bersahut-sahutan memanggil teman-temannya untuk menikmati biji padi. Sedangkan musik gamelan mengalun indah. Kata warga; pagi ini sedang mengadakan latihan di lapangan bola tak jauh dari sini. Pemuda-pemudi di desanya memang masih melestarikan budaya.
“Kita lihat ronggeng, yuk. Di sana pasti banyak cewek cantik.”
“Aku tidak mau, pacarku pun lebih cantik.”
“Iyalah, percaya aku percaya. Sekadar menemaniku kalau begitu.”
“Kau sendiri saja atau undang temanmu. Aku sedang tidak mood,” jawab Bayu tanpa menoleh. Sedang tangannya melempari sawah dengan kerikil. Seakan sedang membuang kekesalan.
Kalau begini aku harus menyalahkan siapa?
“Aku ini datang untuk mengajakmu bersenang-senang lho. Soalnya kuperhatikan beberapa hari ini kau murung, Yu. Kenapa? Cerita sajalah,” kata Kampleng.
“Iya, aku kehilangan seseorang,” jawab Bayu tanpa menoleh.
__ADS_1
“Maksudmu?” tanya Kampleng untuk memperjelas.
“Putri sudah pulang ke asalnya.”
“Wah wah wah ... pantas saja kau galau. Datangilah rumahnya kalau kau rindu, bodoh!” Kampleng menepuk pundaknya keras.
“Masalahnya rumahnya jauh.”
“Di mana? Nanti aku temani.”
“Di dunia lain.”
“Hah?” Kampleng terkejut. “Bercanda saja kau ini.”
“Serius. Putri bukan manusia biasa seperti yang kau kira. Aku menemukannya di bukit.”
“Ngomong opo toh, Yu. Aku gak ngerti.” Kampleng menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mungkin memang sulit untuk dipercaya, tetapi itulah kenyataannya.”
“Masa iya orang yang tinggal bersamamu itu hantu?” kata Kampleng agak kurang percaya.
“Aku tidak tahu persis,” kata Bayu.
“Aku juga tidak tahu maksudmu, aku juga tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi aku yakin kau dan ibumu tidak mungkin bohong dan tidak mungkin mengada-ada. Kalau kau ingin cerita, Aku siap mendengarkannya.”
Lantas, Bayu menceritakan secara detail pertemuannya pertama kali dengan Putri. Dia juga menunjukkan patung batu perwujudan Putri selama ini, yang pada dasarnya memang sangat mirip bentuknya. Awalnya—logika Kampleng menolak semua itu. Tetapi rasanya memang tiak ada yang tidak mungkin.
“Setelah ini, apa keputusanmu?”
“Tidak tahu,” jawab Bayu. “Tapi aku ingin sekali menemuinya. Menyusulnya.”
“Mana mungkin? Dunianya dengan duniamu berbeda,” jawab Kampleng tak percaya.
__ADS_1
“Kalau Putri saja bisa masuk ke kehidupan kita, kenapa aku tidak, Pleng?”
“Kalaupun memang bisa, bagaimana caranya?” Kampleng ikut-ikutan memikirkannya. Namun beberapa saat kemudian terlintas di benaknya untuk membawa Bayu ke suatu tempat yang pernah dia dengar bisa melihat alam lain. “Kau ikut aku, Yu. Bawa patung itu juga!” titah Kampleng dan Bayu pun mengikutinya ke mana pergi.