Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Lepaskanlah Bayu, Nyai


__ADS_3

Keesokan harinya, saat hari mulai menyapa dengan sangat cerah, sepasang kekasih itu keluar dari istana menggunakan kuda yang Bayu bawa dari Desa yang pertama kali ia singgahi saat di perjalanan.


“Baru sekali ini aku berkuda denganmu, ternyata sangat menyenangkan sekali,” kata Roro saat kuda sudah mulai menjauh dari istana. “Ternyata menyenangkan juga,” tambahnya lagi.


Sebelumnya—mereka telah terlebih dahulu meminta izin dengan Ayahanda Prabu.


Karena kekuatan dan rasa cinta yang Bayu milikilah yang akhirnya membuat Prabu Dharma percaya, lantas mengizinkan mereka pergi tanpa pengawalan. Prabu yakin, Bayu bisa serta merta melindungi anaknya dari segala macam bahaya. Entah karena apa, Prabu Dharma merasa kerajaan ini masih aman setelah peperangan kemarin. Ia berharap semoga hanya perasaannya saja.


“Kau suka berkuda denganku?” tanya Bayu.


“Iya, suka sekali.”


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita keliling dulu. Aku juga ingin mengenal sekitar tempat ini.”


“Itu kedengarannya lebih menyenangkan, aku juga ingin pergi ke pasar. Aku akan membeli buah dan makanan-makanan yang lebih enak.”

__ADS_1


“Kau yakin akan membeli makanan di pasar? Tapi makanan di pasar bukankah tidak bisa terjamin kesehatan dan keamanannya? Kau akan lebih aman makan-makanan istana.” Bayu mencoba mengingatkan.


“Sesekali tidak apa, aku yakin mereka tidak akan berbuat jahat kepadaku. Mereka hanya rakyat yang bodoh ....” Putri tetap bersikeras.


“Ya sudah, apa mau mu Tuan Putri, aku akan mewujudkannya!” jawab bayu menyeru.


Keduanya melewati pasar dan disambut sangat baik oleh banyak orang di sana. Merupakan suatu kehormatan karena Tuan Putri mereka mau mengunjungi pasar mereka yang sedikit jorok dan kotor itu. Mereka berseru begitu senang dan menyambut putri Sang Raja dengan sangat baik.


Setelah puas berjalan-jalan di pasar, keduanya segera bertolak dari sana lalu menuju ke tempat tujuan.


“Salam, Guru. Roro datang bersama Bayu,” kata Putri menyapa lelaki tua berjanggut putih yang sedang bersila menghadap arah kiblat. Sedang mulutnya terlihat sedang berkomat-kamit membacakan doa.


“Akhirnya kalian kemari, ada hal penting yang harus aku katakan,” kata beliau terdengar sangat sungguh-sungguh.


Bayu dan Roro Putri saling menoleh. Kedua insan yang semula berwajah begitu bahagia kini perlahan-lahan berubah menjadi sedikit ketakutan. Pikirannya yang awalnya luas kini menjadi sempit oleh karena wajah serius beliau; Si lelaki tua yang sedang duduk bersila. Ada apa gerangan? Apa yang akan beliau sampaikan?

__ADS_1


“Duduklah!” titahnya sembari menggerakkan tangan.


“Ada apa ini Guru, kenapa kelihatannya sangat serius sekali. Mungkinkah ada sesuatu yang penting yang ingin kau katakan?” cecar Roro Putri.


“Ya, ini tentang hubungan kalian.”


Deg!


“Aku memang ingin menanyakan hal ini sebelumnya,” sahut Roro setelahnya.


Sementara Bayu hanya membisu. Selain menyimak, sesungguhnya ia pun merasa sangat ketakutan mengenai hal ini. Dia merasa ada pertanda yang kurang baik dari gelagat Sang Pria tua di hadapannya.


“Apa semesta tak merestui kami, Guru?” tanya Putri lagi yang teramat penasaran.


“Ya, lepaskanlah Nak Bayu, Nyai. Sesungguhnya dunia kalian telah berbeda. Masa depan dan masa lalu adalah jarak membentang yang cukup jauh....”

__ADS_1


Deg!


__ADS_2