
“Kau mau ke mana, Yu? Kenapa tampak buru-buru sekali?” tanya Krempeng. “Makan sama-samalah kita dulu.”
“Iya. Ayo ke warteg ‘Ben Warg’ dulu,” sahut Kampleng.
“Tanpa ke Warteg juga aku bisa wareg, di rumah,” jawab Bayu yang lantas menyalakan motornya. Seperti janjinya, Bayu akan pulang pada saat siang hari untuk mengantarkan Putri ke Klinik.
“Eh, jangan lama-lama kau, ya. Janji nanti sebelum jam dua sudah balik lagi ke sini,” kata Pakde ikut menyahut.
“Asiap, Pakde!” seru Bayu langsung menggeberkan motor bututnya sehingga membuat semua teman-temannya mengumpat tak terkecuali Pakde; si pemilik bengkel.
“Asuu-asuu!”
Dalam perjalanan, Bayu tergelak. Ia yakin sudah berapa banyak orang yang marah karena berisiknya motor bobokan ini. Bukan sekali dua kali Bayu di umpat oleh orang-orang sekitar. Rupanya membuat orang kesal itu lumayan menyenangkan juga.
“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Julia pada saat Bayu sampai di depan rumah. Sedangkan Julia sendiri sedang menjemur rengginang mentah buatannya.
“Kalau begitu, ayo kita senyum sama-sama!”
“Gila!” kata Julia agak bersungut-sungut. “Lihat itu, Nak. Astaga pakaianmu kok kenapa jadi hitam semua?” Julia melihat pakaian putranya dari atas ke bawah. “Punya baju kok tidak ada yang betul satu pun kau, Yu. Kiranya mau dipakai kotor-kotoran jangan pakai yang bagus, sayang bajunya!”
“Iya ... iya ...,” jawab Bayu agak malas. “Namanya juga tukang bengkel ya kena oli. Kalau tukang gorengan ya kena minyak. Mukanya juga.”
“Secara tidak langsung kau mengatakan wajah ibumu ini berminyak?”
“Bayu tidak bilang seperti itu, ya, Bu. Ibu yang bilang sendiri.”
“Ngeles saja ngeles!” namun sejenak kemudian Julia menyadari dirinya. “Tapi emang iya, sih.”
“Aku mau madang, Bu,” pinta Bayu ketika duduk di teras. Madang adalah makan dalam bahasa Indonesia.
“Makan ya di dalam, memangnya Ibu lagi pegang makanan?” jawab Julia. Setelah Julia selesai menjemur rengginang, Julia duduk bergabung di teras. “Kamu ada uangnya untuk memeriksakan Putri ke Klinik?”
“Ada ... tenang!” jawab Bayu. “Masih tiduran dia?”
“Iya, kayaknya dia kangen sekali sama keluarganya. Sudah dua hari ini agak murung. Kasihan juga. Kau ajaklah dia main-main keluar.”
“Bayu mau nikahin dia, Bu. Boleh tidak?” kata Bayu tanpa ragu sedikit pun.
Julia langsung kaget. Namun beberapa detik kemudian, dia segera dapat memaklumi. Kelihatannya mereka memang sudah sangat dekat sekali. Entah kenapa, Julia juga khawatir sesuatu terjadi, terutama fitnah yang sudah menyebar ke mana-mana. Akan sangat tidak baik kalau hal ini terus-menerus dibiarkan. Mereka memang harus segera dinikahkan. Lagi pula, Julia juga sudah ingin sekali punya cucu untuk menambah hangat rumah ini. Ya, mungkin itu ide yang cemerlang.
__ADS_1
“Tidak, Bu, tidak. Jangan dianggap serius!” kata Bayu lantaran Ibunya diam saja. Bayu menduga-duga sendiri. Mungkin Ibunya tak menyetujui. Pasti karena umur, pikir Bayu. Memangnya apalagi?
“Kenapa tidak?” tanya Julia membuat Bayu mengerutkan kening. “Kalau kau mau menikah ya menikahlah! Ibu tidak melarang.”
“Hah, serius, Bu?” tanya Bayu dengan mata berbinar.
“Dua rius.”
“Yes!” kata Bayu sangat girang. Mungkin jika perlu, ia juga ingin melompat. Tetapi ia masih sedikit mempunyai rasa malu.
“Tapi masalahnya, Putrinya mau atau tidak?”
“Harus mau, harus!”
Julia masuk ke dalam, dia melihat Putri yang sedang duduk menyisir rambutnya. Dia juga membantu Putri untuk menutup kepalanya dengan hijab. Pun dengan Bayu yang terlebih dahulu membersihkan diri, makan dan mengganti pakaian sebelum akhirnya mereka pergi ke Klinik.
“Jadi ini yang namanya Klinik?” tanya Putri ketika mereka sedang mengantre.
“Iya, di sini tempatnya.”
“Kenapa orang-orang pada masuk kita belum?”
“Ini nomor berapa?”
“Ini nomor lima belas, dua orang lagi kita masuk.” Bayu kembali memberinya arahan agar Putri tidak terlalu kebingungan. “Nanti kalau Putri sudah ada di dalam, sedang di periksa maksudnya, Putri diam saja, ya. Nurut saja sama dokter. Oke?”
Putri mengangguk sambil tersenyum antusias. “Kamu tidak ikut masuk?”
“Tidak, aku di luar saja.”
***
Tidak ada yang mengkhawatirkan dari sakit Putri yang hanya terserang flu dan demam biasa. Dokter hanya menyarankan dia untuk cukup beristirahat dan banyak makan-makanan yang bergizi. Dan setelah pemeriksaan dan pengambilan obat, mereka akhirnya keluar dari Klinik.
“Mau langsung pulang atau mau jalan-jalan dulu?” tanya Bayu.
“Bukannya kau bawa motor?” Bayu menggaruk tengkuknya. Berbicara dengan Putri memang harus tepat sesuai dengan logika. Oh, iya, Bayu baru ingat. Mungkin orang jaman dulu tidak ada istilah demikian.
“Iya, maksudku jalan-jalan pakai motor ini.”
__ADS_1
“Tapi bukannya kau harus kembali bekerja.”
“Kita bisa makan es krim sebentar.”
“Es? Apa itu es krim?”
Astaga ... Bayu gemas sendiri. Bayu menunjuk pedagang yang sedang lewat itu kepada Putri. “Kau lihat itu?”
Putri mengangguk.
“Dia adalah pedagang es krim. Es krim itu makanan dingin dan enak. Kau tunggu di sini, aku akan membelikannya untukmu. Ingat, jangan ke mana-mana.” Bayu menunjukkan kursi di mana mereka harus duduk. Yakni tak jauh dari klinik yang mereka datangi.
“Iya.”
Beberapa menit kemudian, Bayu kembali membawa dua cup es krim. Dan Bayu menyerahkan salah satunya kepada Putri sambil mencontohkan cara makannya.
“Em, ini sangat enak,” kata Putri yang sangat cepat melahap es krim itu. Namun Bayu tersenyum karena pipi dan bibir Putri belepotan. Lantaran gemas, Bayu mengusap pipi dan bibir Putri dengan jempol tangannya. Sontak hal itu membuat Putri menghentikan aktivitasnya, lantas menatapnya dengan penuh cinta.
“Terima kasih, Bayu,” kata Putri setelah terdiam beberapa saat. “Aku tidak tahu apa yang terjadi bila aku tidak bertemu denganmu. Aku mungkin tidak seberuntung ini. Kau sangat baik sekali. Aku senang bisa hidup di masa sekarang ini. Tapi aku juga sedih karena tidak bisa bertemu dengan Ibunda dan Ayahandaku ....”
“Ssstt ... kenapa kamu jadi sedih. Jangan sedih, Put. Nikmatilah hari ini. Jangan khawatirkan apa pun. Aku yakin orang tuamu baik-baik saja.”
Putri menempelkan tangan Bayu di dadanya, “Aku sangat berdebar kalau aku ada di dekatmu. Ini pertanda apa?”
“Tanda kamu harus menikah denganku, Put.”
“Hah? Betulkah begitu?”
Bayu langsung tergelak. Kenapa ada makhluk sepolos ini, sih?
“Kamu mau, ‘kan menikah denganku?” tanya Bayu yang bermaksud untuk melamarnya.
“Me-menikah? Tapi ... tapi siapa yang akan menikahkanku. Ayahku sedang tidak berada di sini.”
“Tapi kau mau ‘kan?”
Putri mengangguk, walaupun sebenarnya dirinya ragu. Apa benar, ini takdir yang harus dijalaninya? Menikah dengan seseorang yang berbeda dengannya. Apakah Ayahandanya akan menyetujui jika kelak mereka akan dipertemukan.
“Apa ini tidak terlalu cepat, Yu?” tanya Putri beberapa saat kemudian.
__ADS_1
“Aku rasa semakin cepat semakin baik,” kata Bayu tanpa meragukan apa pun. Ia berjanji akan bekerja lebih keras setelah ini. Ia harus menjadi orang sukses untuk memuat Putrinya bahagia. Tekad Bayu sangat kuat. “Aku janji akan menjagamu, Put. Selalu membuatmu bahagia." Bayu mendekatkan bibirnya ke telinga Putri. "Entah dari kapan perasaan itu ada, tapi ... aku mencintai kamu.”