Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Bertualang di Desa Masa Lalu (2)


__ADS_3

Hutan ini tak kunjung habis, jengkel, kesal, marah dan lelah bercampur menjadi satu. Meski jalanan memeta pada otaknya, namun diperkirakan istana itu memang masih jauh. Apa yang harus ia lakukan agar perjalanan bisa dipercepat? Bayu takut ia akan terlambat sampai di sana. Tidak, Putri tidak boleh menjadi jodoh orang lain.


Namun setelah hari agak terasa dingin dan mulai menggelap, telinga Bayu kembali mendengar suara-suara adanya kehidupan pedesaan yang riuh. Suara-suara perempuan sedang berbicara menggunakan bahasa Jawa kental; bahasa Jawa halus yang pernah diajarkannya di sekolah oleh sang guru. Derap-derap langkah kaki yang menginjak dedaunan yang kering, juga seseorang yang sedang meniup api serta mampu mencium aroma makanan yang dijarang di atas tungku. Mungkin suasana itu tak jauh dari sini, pikirnya. Maka ia memacu kudanya agar berlari lebih cepat.


“Kenapa jalanmu melambat?” tanya Bayu kepada kuda yang ditungganginya. “Atau kau lelah?” Kuda itu meringkik merespons pertanyaannya. “Baiklah, jika kau lelah. Kita akan menumpang tidur di Desa selanjutnya. Dan kau bisa makan sepuasnya di sana.”


Akhirnya hutan lebat, alas rimba telah terlewati. Setelah kiloan meter berjalan—maka ia kembali menemukan ladang-ladang penduduk dan pedesaan yang luas. Rupanya desa itu berada di dataran yang agak tinggi sehingga kudanya tampak kelelahan lantaran terus saja menanjak tanpa henti. Sepintas bayangan tentang film masa kecilnya muncul. Dia seperti sedang berada di dunia teletubbies, mungkin agak mirip seperti itu.


Hewan-hewan kecil seperti; kupu-kupu, capung, dan lebah masih banyak di sini, pertanda masih banyak air jernih dan bersih. Berbeda dengan kehidupan sebenarnya di mana ia tumbuh, tentang semakin langkanya hewan-hewan demikian yang diakibatkan oleh kerusakan alam. Memang benar perkataan sesepuh itu, bahwa dunia yang menjadi tempat kelahirannya sudah mendekati kehancuran. Kehancuran yang sesungguhnya. Namun walau begitu, Bayu tak pernah menyesal kapan pun Tuhan menciptakannya. Karena Dia maha tahu, dan Dia punya maksud tertentu kapan, untuk apa dan untuk siapa makhluk seperti dirinya diciptakan.


Bayu tersenyum pada saat mendapati sekumpulan perempuan sedang mencari kutu di kepala teman-temannya. Namun anehnya dari sekian banyak jiwa, semuanya perempuan, tidak terlihat satu pun laki-laki. Mungkin pada siang hari, lelaki akan bekerja mencari makanan, pikirnya. Ada yang muda dan ada juga yang tua. Cantiknya cantik khas orang jaman dahulu, memakai kebaya pada umumnya dan bagian bawahnya dililit kain batik.


“Punten, Bu, Mbak ...,” kata Bayu menyapa dan dibalas anggukkan oleh mereka secara serentak.

__ADS_1


“Mau ke mana, Kang Mas?” tanyanya sekadar basa basi. Namun tatapannya tak lepas dari tubuh Bayu yang mungkin berpenampilan aneh. Memakai jaket, celana jeans dan sepatu denim masa kini. Tetapi kemudian mereka segera dapat memaklumi lantaran mungkin dia datang dari arah jauh dan yang pasti adat mereka berbeda.


“Saya mau ke Kerajaan Siwalingga,” jawab Bayu. Kemudian mengikatkan tali kudanya ke sebuah tiang bambu yang tampaknya biasa di gunakan untuk menjemur pakaian.


“Oh, masih jauh Kang Mas. Kang Mas dari mana?”


Tidak mungkin Bayu mengatakan dari masa depan. Nanti disangkanya dia adalah orang yang kurang waras. Lantas, Bayu menjelaskan bahwa dia dari desa Bangkalang. Desa yang tidak mereka mengerti sebab mereka serentak menggelengkan kepala.


Salah satu perempuan menyahut, “Ini namanya desa Wadon, Kang Mas.”


Bayu sempat tersenyum karena nama desanya sangat aneh. Wadon adalah perempuan jika di terjemahkan dalam bahasa Indonesia.


“Iya, makanya semua orang di sini perempuan, tidak ada yang laki-laki,” sahut yang lain.

__ADS_1


Oh, pantas saja, batin Bayu memekik. Karena penasaran akhirnya Bayu pun bertanya kenapa desa ini di katakan desa perempuan dan tidak ada laki-laki. Konon, katanya setiap janda kembang yang ditinggal mati suaminya akan di asingkan ke sini. Karena menurut kepercayaan mereka, janda kembang merupakan wanita yang sudah sial dan tidak boleh menikah lagi lantaran bisa memakan korban selanjutnya. Terkadang, orang-orang jaman dahulu memang sulit dimengerti tentang kepercayaan yang dianutnya. Mereka menaati hal-hal yang sebenarnya mustahil terjadi dan tak masuk di akal nalar.


Bukankah kematian adalah takdir Ilahi? Takdir yang sudah ditetapkan sebagaimana mestinya semenjak dia ditakdirkan pula hidup di dunia? Entahlah. Bayu pusing dan enggan memikirkannya.


Bayu duduk bergabung dengan mereka. Berbincang banyak hal tentang desa ini. Tentang bagaimana cara mereka hidup tanpa seorang laki-laki yang kenyataannya memang tidak mudah. Namun karena terbiasa, pelan-pelan mereka akhirnya bisa menerima. 


Tetapi yang pasti banyak yang mereka rindukan dari seorang laki-laki, terutama cinta kasihnya. Banyak harapan terbesar mereka agar kepercayaan ini di rubah karena mereka ingin hidup sempurna, bisa menikah lagi untuk melahirkan penerus-penerus mereka ke dunia. Ingin bisa hidup normal layaknya wanita lain pada umumnya. Bisa menjadi ibu, bisa merawat anak-anaknya sampai mereka dewasa, dan mati dengan perasaan bahagia. Sungguh keinginan yang tak muluk-muluk. Hidup sederhana pun tak apa baginya.


“Lalu tujuan Kang Mas, datang ke sana untuk apa?” tanya salah satu dari mereka.


Lagi pertanyaan seperti ini menggema di telinganya?


Kalau Bayu menjawabnya dengan jujur, apa dia tak dianggap aneh?

__ADS_1


__ADS_2