
Entah sudah berapa lama Bayu memandangi wajah ayu di depannya. Hingga tak sadar, camilan yang ada di piringnya telah habis sehingga ia kembali memesannya lagi.
"Kamu lagi kelaparan?" tanya perempuan itu keheranan.
"Ti-tidak," jawab Bayu. Sialan! Pakai gugup segala lagi. Memalukan.
"Kalau lapar makan nasi, lah. Biar nendang. Makan kentang doang mana cukup. Lagi pula badanmu juga gede. Pasti makannya banyak!" tebak perempuan itu membuat Bayu lantas menyela.
"Sebanyak apa?"
"Satu truk!" sambarnya.
Bayu tergelak. "Tidak sampai sebanyak itu juga."
"Candaaaa..." balas dia dengan nada panjang. "Cepat lah makannya. Kapan ngobrolnya kita kalau begini? Aku juga banyak tugas dan urusan," omelnya yang di mata Bayu malah terlihat gemas. "Jangan-jangan kamu emang cuma mau modus doang, ya!"
Bayu diam saja. Ia membiarkan wanita itu mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Ya halo," dia mengangkat telepon dari seseorang. "Aku lagi ada di Cafe Beranda. Ya, lagi ketemu sama orang. Hem, iya."
Sembari menunggu wanita yang ia anggap putri itu mengangkat teleponnya, Bayu menggunakan kesempatan tersebut untuk menatap wajahnya lebih lama.
Benar-benar aneh, pikirnya. Seandainya mereka bukan sosok yang sama, tetapi kenapa keseluruhan tubuhnya hampir tak ada yang bisa membedakan? Wajahnya, kulitnya, hidungnya, matanya, rambutnya yang sedikit bergelombang, tingginya, besar tubuhnya dan semuanya mirip. Hanya saja, penampilan wanita ini lebih modern. Pakai pakaian yang keren masa kini, bermake up, dan tampak sedikit lebih muda.
"Kamu umur berapa?" tanya Bayu ketika mendapati gadis ini menutup panggilannya.
"Kenapa tanya-tanya umur?"
Mendapat respon kurang welcome membuat Bayu tersenyum dan menjawab, "Kalau kamu tidak bersedia menjawab, tidak apa-apa."
"Umur 21," akhirnya dia menjawab.
"Aku 27," Bayu menanggapi.
"Pantas!" katanya.
"Pantas apa?"
__ADS_1
"Pantas sudah kayak om-om."
"Tidak apa-apa yang penting tampan dan kaya."
Gadis itu tampak tak terlalu peduli. Dia ingin orang ini segera mengatakan kenapa dia bersikap gila seperti kemarin dan menganggapnya kekasihnya, sehingga ia pun mengatakan, "Apa yang menyebabkanmu menganggapku kekasihmu? Aku anak tunggal, tidak punya kembaran."
"Tapi wajah kalian sama persis," Bayu menyanggah. "Bedanya, dia dari masa lalu ratusan tahun silam. Sedangkan kamu wanita modern."
Tawa gadis itu pecah, "Kau ini baru bangun tidur, ya!" dia terpingkal-pingkal dengan lawakan dan cerita ngawur pria aneh ini.
"Aku berani bersumpah. Aku tidak bohong."
"Ya, mana ada kamu mencintai orang yang ada di masa lalu. Usiamu saja 27 tahun sekarang. Memangnya kamu punya kekuatan apa bisa menembus waktu?"
"Terserah apa katamu. Aku tidak peduli kau akan percaya atau tidak. Namun itu memang kenyataannya," Bayu menjawab. "Dia yang datang lebih dulu dan membuatku jatuh cinta sehingga aku menyusulnya ke dunianya."
Gadis itu ingin tertawa lagi. Namun melihat keseriusan di wajah itu membuat dia urung melakukannya.
"Terlalu nyata kalau aku hanya berhalu. Banyak mata yang menyaksikan sosok yang menyerupaimu ke dunia ini. Tepatnya lima tahun lalu, sebelum aku tidur selama berbulan-bulan lamanya."
"Tidur berbulan-bulan?" gadis itu mengulang.
"Tapi gimana dengan tugas kuliahku? Aku sedang KKN di desa ini," jawabnya.
Oh sedang KKN? Bayu menganggukkan kepalanya mengerti.
"Tenang... ada ini." Bayu menggerakkan jarinya membentuk kode uang.
"Sebenarnya aku tidak suka caramu yang suka menyogok. Tapi ... ya, sudahlah!" gadis itu tak ambil pusing. Dia kemudian beranjak mengikuti Bayu membayar tagihan kopi mereka. Lalu memasuki mobil.
"Aku belum tahu siapa namamu," ucap Bayu saat sudah berada diperjalanan pulang.
"Namaku Dewi," jawabnya.
"Coba lihat KTP nya," Bayu meminta.
"Dih, masih belum percaya juga kalau aku ini bukan kekasihmu, ya!" cebik Dewi kesal.
__ADS_1
"Ayolah, hanya tinggal tunjukkan saja kartumu." Bayu terdengar memaksa.
Sehingga dengan sangat terpaksa, Dewi pun menyerahkan kartunya. "Nih!"
Bayu menerimanya. Membacanya sambil mengemudi.
"Awas, ya! Jangan sampai disebarin!"
"Tidak... cuma mau lihat."
Nama: Dewi Larasati Ageng.
Tempat tanggal lahir, Jakarta ....
"Kamu dari Jakarta?" tanya Bayu.
Dewi mengangguk.
"Kenapa KKN nya jauh sekali?"
"Karena aku kuliahnya di daerah sini."
"Oh di ***** ya?"
***** adalah universitas yang tak jauh dari sini.
"Iya."
"Kenapa malah milih nyari pendidikan di sini?"
"Halah, sama saja. Justru di sini aku malah merasa jauh lebih irit."
Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengembalikan kartu identitas Dewi lagi.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka pun sampai di rumah Bayu. Keduanya turun bersamaan.
Namun, Dewi seperti tengah mengingat-ingat sesuatu saat menatap sekeliling rumah itu. "Aku kayak pernah ke sini deh, Yu."
__ADS_1
Bayu menoleh menatap wanita yang masih bergeming di tempatnya. Dewi merasa seperti tengah mengalami dejavu.
"Apa benar aku pernah datang ke sini?" batin Dewi. Tapi kapan? Untuk apa dia datang ke tempat ini? Bukankah mereka baru saling mengenal? Ini Benar-benar aneh!