Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Romantisnya....


__ADS_3

Dewi yang awalnya berniat ingin mengajak teman-teman untuk pulang bersama, akhirnya dia urungkan saat Julia juga ikut ke Jakarta. Dia tidak enak jika teman-temannya yang bersuara keras itu mengganggu kenyaman orang tua ini. Lagi pula, barang-barang mereka juga banyak. Dewi tidak mau temannya merepotkan dan membuat mobil Bayu jadi bertambah sesak.


"Memangnya teman Dewi yang ikut kuliah di kota ini berapa orang, Nak?" tanya Julia saat mereka baru beberapa menit berjalan.


"Ada empat sebenarnya, Bu. Tapi yang laki-laki sudah pulang duluan kemarin," jawab Dewi.


"Oh... terus teman-temanmu yang lain bagaimana kalau kau pulang bersama kami?"


"Jangan khawatir, Bu. Bus kan banyak. Lagi pula mereka rame-rame, jadi nggak usah terlalu di khawatirkan."


Julia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Bayu sendiri fokus menyetir. Ini bukan pertama kalinya dia pergi ke Jakarta. Bayu sudah sering pergi ke sana untuk memborong sejumlah onderdil yang asli dan lebih murah dari pabriknya langsung. Tetapi sesungguhnya yang paling menegangkan adalah hari ini. Karena tujuannya bukan untuk memborong, tetapi melamar seorang gadis.


Dewi memgirim pesan pada ayahnya, bahwa dia akan sampai besok pagi dengan membawa dua orang. Sehingga ayahnya pun bertanya:


Ayah: kamu bawa siapa?


Dewi: bawa Mas Bayu sama Ibunya, Yah... orang yang kemarin Dewi ceritain. Mereka mau melamar aku.

__ADS_1


Ayah: kamu masih kuliah, Nak. Selesaikan dulu kuliahmu.


Dewi: tenang... Mas Bayu nggak akan melarangku menggapai cita-cita, Yah. Dia mendukung pendidikanku seratus persen. Ayah jangan khawatir. Masa depanku terjamin sama dia. Bayu orang kaya, Yah. Ibunya juga baik. Dewi yakin bisa bahagia sama mereka. Tolong restui kami ya, Yah.


Ayah: kamu masih kecil, Nak... lagi pula laki-laki yang kamu ceritakan itu duda ditinggal mati. Apa kamu sudah pikir panjang? Kamu nggak takut kalau suatu saat di bandingkan dengan mantan istrinya?


Dewi: aku akan melakukan yang terbaik dan lebih baik dari siapapun yang orang lain pikir bisa menggantikan posisiku, Yah.


Tekad Dewi begitu kuat. Sehingga Sang Ayah tak kuasa untuk menghalanginya.


Ayah: baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Ayah yakin kamu sudah memilih yang terbaik. Ayah tidak akan melarang. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Nak.


Ayah: Ayah akan menyuruh Mba Juri untuk menyiapkan semuanya.


Hati Dewi berbunga setelah mendapatkan penerimaan dari ayahnya. Dia kemudian menoleh ke samping di mana Bayu sedang fokus menyetir sambil mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun, tidak berani berkata apa-apa lantaran malu dengan orang tua yang ada di belakang mereka. Alhasil, mereka pun hanya diam. Kecuali berbicara lewat matanya yang penuh cinta dan ketertarikan.


Ah, andai ini tempat yang sepi. Pasti Bayu akan menarik wanitanya ke dalam pelukan. Menikmati masa-masa indah bersama. Meleburkan rasa rindu yang menggebu.

__ADS_1


Bayu: i love you.


Sebuah pesan terkirim di ponsel Dewi dan langsung dibacanya.


Dewi: lov u to.


Dewi membalas.


Mereka saling menatap lagi, tersenyum, lalu menatap lagi, tersenyum lagi, sampai akhirnya keduanya tergelak tawa. Beruntung Ibu sudah tidur. Jadi orang tua itu tak menanyakan apa yang sesungguhnya mereka tertawakan.


"Laper nggak? Kalau laper kita berhenti dulu di rest area?" Bayu menawarkan.


"Belum. Gas aja dulu, supaya cepet sampai."


"Ciye... ada yang nggak sabar mau dilamar," sindir pria itu.


"Ya harus dong! Gimana nggak seneng? Selain dapat pengalaman di lokasi KKN, aku juga dapat calon suami. Hebat kan?"

__ADS_1


Bayu tersenyum dan mengusap rambut Dewi. "Pintarnya calon istriku...."


Dewi meraih tangan Bayu untuk menautkan jari-jari mereka. Keduanya saling menggenggam mesra. Uhh, romantisnya!


__ADS_2