
Seumur hidupnya, Bayu tidak pernah menunggangi kuda. Lalu bagaimana bisa dia menunggang kuda tanpa berlatih seperti sekarang? Apalagi keanehan-keanehan yang akan dialaminya setelah ini? Mungkinkah ia juga mempunyai kekuatan magis yang dirinya sendiri tidak tahu. Entahlah. Bayu hanya menikmati saja pengalaman baru yang menyenangkan ini.
Bayu memasuki kebun kopi yang tumbuh sangat subur di antara pohon-pohon hutan yang disisakan sebagai penaung. Kopi berbuah, ada yang warna hijau dan juga warna merah matang siap panen. Buah-buah bergerunjulan di ranting-ranting. Wangi kopi menyeruak masuk ke dalam hidungnya, suara-suara kumbang menggeremet terdengar di telinganya dengan begitu jelas.
Tetapi telinganya yang sensitif itu tak hanya mendengarkan suara kumbang. Sekelebatan bayangan tentang pertempuran di tempat ini, entah berada di tahun berapa terekam jelas di kepalanya. Yang pasti bukan waktu yang telah lalu, sebab tidak ada bekas tanda-tanda kehidupan. Tempat ini masih hutan belantara yang sangat sepi dan mencekam. Mungkin pada zaman yang akan datang, ketika penjajah mulai menyerang negara ini.
__ADS_1
Suara dentuman, ledakan peluru yang menghunjam tanah saling bersahutan. Letusan senjata meledak bak petasan gandeng yang bisa dinyalakan anak-anak pada bulan Ramadan, sayup-sayup terdengar. Bahkan korban-korban berjatuhan, jeritan kesakitan menggema, darah-darah mengalir serta daging-daging yang terkoyak, terpeta samar-samar di dalam bayangannya hingga menimbulkan bau anyir, sampai-sampai Bayu tak kuat hingga terpaksa dia turun untuk menutup hidungnya.
Karena haus, Bayu berhenti sejenak, matanya menatap sekeliling. Duduk di bawah pohon kopi dan menikmati minum yang dibawanya dari rumah. Oh iya, Bayu baru menyadari. Tidak ada sinar matahari di sini. Sedari pagi ia datang, dunia hanya terlihat terang, namun matahari tidak tampak di langit sana. Dunia yang aneh, pikirnya.
Namun baru saja beberapa menit ia duduk, Bayu mendengar suara auman keras dari sebelah kirinya. Seketika ia langsung terlonjak pada saat ia menyadari apa yang ada di dekatnya kini adalah makhluk bertaring yang paling buas, yakni seekor harimau tua dengan mulut yang menganga.
__ADS_1
Bayu segera menyingkir mundur sembari memikirkan apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Sedang matanya tak bisa beralih dari hewan buas itu. Takut-takut semisalnya harimau itu seketika menyerang mendadak. Lututnya gemetaran, jantungnya berpacu tiga kali lebih cepat. Kuda meringkik membuat Bayu tersentak. Mungkin hewan itu juga takut ada hewan buas semenakutkan ini. Tiba-tiba terlintas di dalam di pikirannya, ia pernah diajarkan oleh guru silatnya; tentang cara mengusir hewan yang berwujud demikian. Karena yang terlihat, yakni seperti bukan hewan sungguhan.
“Baiklah, aku persilakan kau menikamku. Tetapi dengan satu syarat, makanlah aku sampai habis, sampai tiada setetes darah pun tersisa,” kata Bayu mengeluarkan suara tegas. Meski harus mati-matian menahan rasa takut. Lantaran hewan itu belum juga mundur, Bayu menambahkan, “Jika kau bisa melakukannya, maka lakukanlah!”
Tetapi kemudian, hewan itu berhenti di tempat tanpa mau mendekatinya lagi. Bayu mendesahkan nafasnya ke udara, dia merasa agak lega. Dan beberapa saat setelahnya hewan itu masuk ke dalam semak-semak. Bukan masuk ke dalam sana, lebih tepatnya—menghilang. Begitulah yang terjadi hingga akhirnya Bayu mengucapkan kata hamdalah.
__ADS_1
“Alhamdulillah ...,” ucapnya lega. Terlepas ia dari maut. Ia tidak bisa membayangkan kalau mati sendirian di tempat ini. Tidak bisa dikubur layaknya manusia lain. Sungguh mati yang konyol.
Kendati sudah terasa sangat lelah, Bayu tetap melanjutkan perjalanan. Namun kali ini lebih waspada untuk menghindari kejadian seperti tadi. Yakni, tak menoleh ke belakang sampai ia teba di desa selanjutnya. Rupanya itu adalah pantangannya di hutan ini lantaran ada hewan buas yang mengerikan. Bayu pikir itu hanyalah sebuah mitos. Sebenarnya—ia sedikit bingung. Sebenarnya, mitos itu boleh dipercayai atau tidak? Ah memusingkan!