Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Jadi Sebenarnya Kamu Makhluk Apa?


__ADS_3

“Bayu ...,” ucap Putri pelan. Dia beranjak berdiri dan berjalan perlahan ke depan sambil terus menatap langit yang kemerah-merahan. “Kau tahu kau berada di abad berapa dan berada di mana sekarang?”


“Ya, aku ada di istanamu, dan sedang berada di abad ke delapan. Kurang lebih.”


“Kau menembus waktu itu, sama halnya aku yang menembus masa depan. Masa di mana kau hidup seharusnya.”


“Aku tidak bisa memilih kapan aku datang, bisa sampai di sini saja rasanya sangat bersyukur.”


Putri memejamkan matanya sejenak menghembuskan nafasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya ia mengucapkan hal yang paling pahit untuk laki-laki di belakangnya. “Waktu seakan berputar lagi. Besok aku akan menikah dengan pangeran Hanung, setelah aku pernah kabur sebelumnya.”


“Sebelum kau dikutuk?” tanya Bayu memastikan.


Putri mengangguk.

__ADS_1


“Aku semakin bingung dibuatnya. Aku bingung.” Bayu terus menggelengkan kepalanya semakin tidak mengerti jalan cerita ini. Bisa-bisanya dia terjebak ke dalam waktu yang menurutnya tidak tepat sama sekali. “Apa yang harus aku lakukan sekarang, Putri? Haruskah aku kembali dengan sia-sia?”


“Dimensi kita berbeda, itulah yang membuat kita tak bisa bersama. Sejatinya aku memang sudah tidak ada bila kau ukur dengan zaman yang sedang kau jalani sekarang ini. Zaman kapan kau dilahirkan.”


“Jadi kau sebenarnya makhluk yang sama sepertiku atau bukan?”


“Aku pun tidak tahu apa sebutan yang pantas untukku. Aku tidak mengalami kematian. Tapi juga tidak mengalami kehidupan. Kupikir, sejelek-jeleknya nasib makhluk di didunia ini, rasanya lebih baik dari nasibku. Karena kutukan itu, aku begitu menderita ...,” luap Putri disertai isak tangis. Dia merasa bukan dari golongan mana pun, jin bukan manusia apalagi. Mana ada manusia yang mampu hidup ribuan tahun? “Kelak aku ingin bisa mati, menghadap kepada Tuhan selayaknya manusia lainnya. Hanya itu saja.”


“Mungkin jika kau tak memanggil gurumu, mungkin kita sudah hidup bersama dan akan menua bersama,” kata Bayu.


“Kau akan tetap menikah besok?” tanya Bayu. “Walau aku datang ke sini untukmu?”


“Kalau itu bisa membuatku status diriku menjadi jelas? Akan aku lakukan.”

__ADS_1


“Tidak, Put. Aku jauh-jauh datang ke sini untuk menolongmu. Kembalilah ke dunia tempatku berada ..., aku janji akan membahagiakanmu. Aku janji. Aku—”


“Bayu!” potong Putri sehingga ia tak melanjutkan ucapannya. Lantas Bayu ikut berdiri lalu memeluk tubuh Putri dan menciumi puncak kepalanya.


“Aku rindu pelukan ini, aku tak sanggup bila harus berpisah denganmu. Apa yang harus aku lakukan jika aku kembali dengan sia-sia?” ujar Bayu tanpa melepaskan pelukannya. “Apa aku harus mati dulu, agar aku bisa hidup denganmu? Ha?”


“Kau sudah gila!” pekik Putri dalam pelukannya. “Mati itu takdir Tuhan, kau tidak bisa mendahuluinya. Kau bisa berdosa.”


Selama beberapa lama mereka saling memeluk dan meluapkan rindu, hingga malam pekat akhirnya telah tiba. Putri membawanya ke sebuah penginapan yang berbeda dengannya. Tak jauh dari tempatnya berada.


“Maaf, kau aku titipkan di sini. Malam nanti, Ayahandaku akan datang. Kau tetap di sini sampai aku datang lagi,” kata Putri.


“Tolong jangan tinggalkan aku terlalu lama, aku masih bingung dengan tempat ini,” kata Bayu yang khawatir dengan tempat barunya.

__ADS_1


“Para Dayang akan membantumu, kau bisa meminta tolong kepadanya. Jangan khawatir,” kata Putri sebelum akhirnya buru-buru meninggalkan tempat itu. Dia menyelinap masuk melesat bak angin dan sangat berhati-hati sekali, takut jika ayahandanya memergokinya.


__ADS_2