
Musik gamelan terdengar mengalun indah. Perempuan-perempuan berselendang menari sebagai persembahan di pesta pernikahan Kanjeng Ratu muda mereka; Putri Roro Ageng dari pasangan Prabu Dharmawangsa dan Ratu Putri Saraswati dan Pangeran Hanungpraja dari Kerajaan Wetan.
Inilah kerajaan Siwalingga. Tempat Putri dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Istana yang dikelilingi tembok bata tebal berwarna merah. Negeri di atas kahyangan karena saking indahnya. Berjaya di atas tanah Jawa yang subur dan makmur. Istana yang dibangun dengan menggunakan alat-alat, bahan dan teknik yang tersedia di masa itu. Yang proses kontruksinya menggunakan material autentik, ubinnya seperti ubin terakota. Bebatuannya diperoleh dari tambang. Diangkut dengan kereta kuda dan diangkat ke dinding oleh pekerja menggunakan kayu.
Istana megah ini adalah lambang kemakmuran. Semua rakyat ikut berbahagia hidup di bawah pimpinan Prabu Dharmawangsa. Dia adalah raja yang mempunyai pengasih yang tinggi, mengayomi, berwibawa, tenang, dan mampu menata kehidupan bagi dirinya sendiri mau pun para rakyatnya. Hanya saja—dia tidak mampu menata kehidupan putri semata wayangnya.
Karena persahabatan erat yang dijalin, Prabu Dharmawangsa menyerahkan anaknya untuk dijodohkan kepada putra sahabatnya. Tanpa memberi putrinya kesempatan untuk memilih atau pun menolak.
Kini Putri sedang dirias khusus di kamar pengantin, ditemani oleh beberapa dayang-dayangnya yang merawatnya dengan sepenuh hati. Namun air mata yang terus membasahi pipinya. Sesungguhnya Putri tidak pernah bermimpi untuk menikah dengan Pangeran Hanung Praja. Pangeran yang katanya jahat dan suka main banyak perempuan; menurut dari berita-berita yang pernah ia dengar. Lagi pula, Putri tidak mempunyai perasaan terhadap Pangeran itu. Putri hanya ingin menyerahkan dirinya kepada orang yang dicintai. Mungkin dia akan lebih bahagia.
“Bagaimana ini, Prabu? Putri tidak mau berhenti menangis,” kata Ratu Saraswati berbisik di sebelah singgasana Prabu yang duduk melihat tarian-tarian persembahan.
Prabu sedikit menoleh, “Kau tidak usah khawatir, Ratu. Mungkin hanya di awal-awal Putri kita seperti itu. Pasti nanti Putri kita akan bahagia dengan Hanung Praja. Dia pemuda yang baik.”
“Apa kita sebagai orang tua tidak terlalu jahat, Prabu? Sepertinya kita terlalu memaksakan. Kasihan Putri, Prabu. Dia anak kita satu-satunya. Aku takut kita menyesal,” kata Ratu lagi.
“Kita tidak akan menyesal. Pernikahan ini tetap harus digelar,” tegas Prabu Dharmawangsa. “Kita jangan sampai mengecewakan keluarga mempelai. Mereka sudah mendekati gerbang Istana kita.” Telinga Prabu amatlah tajam sehingga mampu mendengar dari jarak jauh, walau dari jarak ratusan meter. Prabu lantas berdiri dan memberi pengumuman kepada rakyatnya. “Sambutlah tamuku dengan baik, mereka sudah ada di depan gerbang sana.”
“Baik, Prabu!” jawab semuanya serentak. Mereka menyuguhkan hidangan paling enak pada masanya.
Datangnya Pangeran Hanung Praja dan Prabu Airlangga selaku Ayahanda Pangeran Hanung, disambut dengan sangat baik. Kedua orang itu; Prabu Airlangga dan Prabu Dharmawangsa saling mendekatkan diri untuk meraih dekapan sahabat, sekaligus calon besannya.
“Selamat datang, sahabatku, calon besanku,” sapa Prabu Dharmawangsa.
“Terima kasih banyak, Prabu Dharma,” jawab Prabu Airlangga saling melemparkan senyum ketulusan. Pun dengan pangeran Hanung yang menyantuni calon Ayahanda mertuanya.
“Semoga kau bahagia, selamanya,” kata Prabu Dharma menepuk punggung sang menantu.
__ADS_1
“Terima kasih Ayahanda,” jawab Pangeran Hanung.
“Hari ini, kau tampak sangat gagah sekali, Putriku pasti akan kagum denganmu,” pujinya.
“Ah, Ayahanda berlebihan sekali,” jawab Pangeran Hanung agak tersipu.
Mungkin sudah beberapa puluh menit berlalu, namun Putri tak kunjung di keluarkan. Lantas, Prabu Dharmawangsa berbisik kepada istrinya. “Apakah masih lama Putri kita bersolek?”
“Aku tidak tahu, Prabu,” jawab Ratu.
“Ini sangat lama sekali, semua orang sudah sangat menunggu. Sepertinya kau perlu melihatnya.”
“Baiklah, Prabu.” Ratu bangun dari singgasana menuju ke kamar pengantin.
“Apa acaranya sudah bisa dimulai Prabu Dharma?” tanya Prabu Airlangga.
“Tentu, Prabu Airlangga. Sebentar lagi.”
“Aku akan sabar menunggu Ayahanda ....”
Namun naas. Lantaran beberapa menit berlalu, Sang Ratu juga tak kunjung kembali membuat Prabu Dharma ikut menyusul ke kamar pengantin. Dan justru menemukan istrinya sedang menangis sesenggukan bersama dayang-dayangnya. “Ada apa ini? Kenapa kau juga tak kembali. Mana putri kita Ratu?”
“Prabu, anak kita kabur ...,” lirihnya yang masih jelas terdengar. Prabu berubah sangat marah. Mau ditaruh di mana wajahnya? Apa kata yang tepat yang digunakannya untuk beralasan kepada mereka. Rasanya tidak mungkin dia membatalkan pernikahan ini yang sudah direncanakannya dari jauh-jauh hari. Pasti hal ini akan sangat melukai perasaan sahabatnya. Sungguh malu tak terkira. Mukanya seperti dilempari kotoran penuh.
“Dia masih di sekitar sini,” katanya yang berasal dari telinganya yang tajam. “Aku akan mencarinya. Perintahkan ajudan untuk menyiapkan kudaku, cepat!” titah Prabu kepada para dayang-dayang atau pelayan di istana.
“Ada apa ini, Prabu Dharma?” tanya Prabu Airlangga saat melihat Prabu Dharma keluar dengan wajah yang sangat merah. “Ke mana Putrimu, kenapa tak kunjung keluar?”
__ADS_1
“Maafkan kami, Prabu Airlangga, Pangeran Hanung. Tetapi kami harus mengatakan yang sejujurnya.”
Pangeran menggeleng tak mengerti.
“Roro Ageng telah kabur. Tolong maafkan kami ....”
Prabu Airlangga tampak sangat kecewa sekali. Mereka sangat murka sehingga mereka langsung beranjak berdiri dan mengajak serta para pengawalnya untuk pulang. Mereka merasa dipermainkan dan dipermalukan sekali dengan kejadian ini. Seenaknya saja membatalkan pernikahan secara sepihak. Mereka datang dari arah timur yang jaraknya sangatlah jauh. Beberapa bukit mereka lewati dengan medan yang tidak mudah untuk dilalui. Beberapa purnama pula, mereka menunggu pernikahan ini. Pernikahan yang akhirnya membuat malu setengah mati.
Susana berubah menjadi sepi. Ratu masih saja menangis. Sementara Prabu Dharma dan juga pasukannya sudah keluar dari gerbang besar istana untuk mencari keberadaan Roro Ageng.
Di tempat yang gelap karena rimbunnya pepohonan, Roro sedang berlari. Terhuyung-huyung ia berjalan. Melewati rawa-rawa dan juga persawahan. Menaiki bukit yang berbaris rapi. Menuju ke tempat paling tinggi agar tak ada seorang pun yang menemukan.
Ia tahu, Ayahandanya pasti sedang menyusulnya menggunakan kuda. Larinya sangat cepat. Bukan hal yang sulit beliau menemukannya. Untuk itu, Roro memanjat pohon kopi agar lebih aman. Namun rupanya ada yang dia lupa. Selendang merah dibiarkan terayun-ayun ke bawah. Sehingga mudah bagi siapa saja melihatnya, tak terkecuali para ajudan yang sedang mencarinya.
“Ternyata kau di sini.”
Suara itu seketika membuat Roro ketakutan. Roro terbangun dan melihat ke bawah. Beberapa banyak orang telah menunggunya, termasuk Ayahandanya. Ternyata dia tidak cukup pandai melarikan diri.
“Ampun, Ayahanda ... aku tidak mau menikah dengan pangeran Hanung. Roro tidak suka. Ampun Ayah ...,” katanya amat memelas.
“Tiada ampun bagimu!” tegas Prabu Dharma. “Kau melemparkan kotoran ke wajahku, anak durhaka!”
“Ampun, Ayah ... ampun. Sudah berkali-kali Roro bilang tidak mau. Roro hanya akan menikah dengan orang yang Roro cintai.”
Prabu tak mengindahkan rengekannya, malah justru membentak. “Turun!”
Roro menggeleng dan menangis pilu.
__ADS_1
“Turun!”
“Tidak Ayah ... biarkan aku di sini. Aku tidak mau pulang. Aku tidak mau menikah dengan Pangeran. Pangeran itu jahat.”