
Seketika wajah Pangeran Hanung langsung pias. “Itu tidak benar, Romo. Mana mungkin aku melakukan itu. Ini fitnah ...,” katanya mengadu kepada Prabu Airlangga dan memasang wajah semelas mungkin serupa orang yang sedang ter zalimi.
Kenapa jadi begini akhirnya? Prabu Dharmawangsa bertanya-tanya sendiri. Dia bingung harus percaya kepada siapa sekarang. Semua orang itu adalah orang-orang yang cukup dekat dengannya. Bahkan lebih dari itu, Prabu menyayangi keduanya dan dia cukup mengenalinya! “Aku bingung dan butuh waktu untuk dapat memahami kejadian ini,” kata Prabu Dharmawangsa kemudian.
Saraswati; sang istri hanya bisa mengusap-usap pundak Prabu berupaya menenangkan. Istri kerajaan memang sebenarnya tidak diperbolehkan ikut menyela pembicaraan, begitulah aturan kerajaan ini, seperti halnya prajurit yang dilarang melakukan sesuatu sebelum mereka diperintahkan.
Bayu terdiam dengan posisi masih di todong oleh pedang-pedang yang mengkilat tajam. Dia menyimak saja pembicaraan mereka. Ternyata masalah ini sangatlah panjang dan pelik. Mungkin jika Bayu tidak datang ke sini, maka pertikaian ini tak benar-benar terjadi, lantas pernikahan berjalan sebagaimana mestinya. Apalah gunanya Roro Putri kembali ke masa lalu jika pada akhirnya tak akan mengubah apa pun selain hanya ke sia-sian belaka. Bahkan mungkin lebih buruk dari itu—seperti apa yang sudah ia dengarkan semalam.
“Tapi Prabu Dharma, ini sudah kedua kalinya kami datang. Apakah kau akan berniat untuk membatalkan pernikahan ini lagi? Tidakkah kau mencoba masuk ke dalam posisiku? Mau ditaruh di mana muka kami?” sungut Prabu Airlangga. Wajahnya mati-matian berusaha menahan amarah yang berkobar di dada.
“Kau juga harus berada di posisiku, Prabu Airlangga! Bagaimana perasaanmu saat mendengar bahwa posisiku terancam. Aku akan dibunuh oleh calon menantuku sendiri dan putriku akan di lunta-luntakan. Apa ada kata-kata yang lebih menakutkan dan menyakitkan daripada itu!” kata Prabu Dharma dengan nada membentak.
__ADS_1
Maka pada saat itu kemarahan Pangeran Hanung langsung menggelegak memperlihatkan siapa dia sebenarnya yang ternyata amatlah kasar dan mengerikan serupa hewan buas yang hendak menikam mangsanya.
“Beraninya kau membentak Romoku, Prabu!” serunya dengan mata tajam menghunus. Seketika pemuda itu mendekat ke Prabu Dharma dan mengeratkan tangannya di leher Prabu membuat dia kesakitan tanpa bisa menghindarinya. Sontak Saraswati terhenyak, dan langsung ditarik mundur oleh para dayang untuk segera dilindungi keberadaannya. “Tidak ada kata maaf untuk seorang yang sudah berani membentak Raja Kagungan! Manusia tidak tahu toto kromo!”
Tak terima Ayahandanya diperlakukan demikian, Roro yang posisinya agak berjauhan, langsung melesat memukul punggung Pangeran Hanung dan membuat pria itu terjungkal. “Tidak menyangka, ini aslimu yang sebenarnya. Bukan Ayahandaku yang tidak tahu toto kromo, tapi kau!” serunya. “Tidak patut rasanya kau berbuat demikian. Beliau orang tua, apalagi kau calon mantunya, memang kau ini munafik!” ulangnya membuat Hanung tersenyum menyeringai.
Hanung bangkit dan berdiri tegak. “Kuat juga tenagamu. Di manakah perempuan dungu sepertimu berlatih?”
“Tolong hentikan semua ini, Hanung. Jangan buat keributan lagi. Kalau memang mereka ingin membatalkan pernikahan ini. Kita batalkan saja. Tidak masalah. Kau seorang Pangeran yang tampan. Masih banyak keturunan raja yang lebih cantik daripada Roro Putri. Kita kembali saja sekarang!” sahut Prabu Airlangga memilih jalan dingin.
Prabu Dharmawangsa berujar kepada Prabu Airlangga, “Sepertinya apa yang dikatakan oleh putriku benar, bahwa memang ada yang tidak beres dengan putramu. Aku merasakan demikian. Tetapi tampaknya kau tak menyadarinya.”
__ADS_1
“Jaga bicaramu, Prabu!” tukas Prabu Airlangga meninggi satu oktaf. “Putraku seorang calon raja yang baik.”
“Sahabatku—”
“Kau bukan sahabatku lagi!” potong Prabu Airlangga.
“Baiklah, terserah kalian saja Prabu. Jika kau memutuskan demikian aku tidak masalah, tidak bersahabat denganmu pun tidak akan membuat aku berhenti. Aku masih memiliki banyak teman yang lain,” kata Prabu Dharmawangsa.
“Baik, ayo kita pulang, Hanung! Jangan pernah injakkan kakimu di istana ini lagi. Lupakan gadis itu,” ajak Prabu Airlangga untuk segera pergi dari sini. “Prajurit-prajuritku, kita kembali ke istana!”
Seketika semua prajurit kerajaan Kagungan yang tadinya berkumpul kini berhamburan keluar gerbang kerajaan. Namun ketika mereka mulai meninggalkan beberapa jejak langkah kaki jejak kaki, Pangeran Hanung menoleh dan teriakannya menggema, “Seraaaaang!”
__ADS_1