
Bayu sampai di rumah dalam keadaan hati yang berbunga-bunga. Dan demikian begitu kentara di mata Julia. Tak salah lagi, batinnya mengira. Pasti anaknya sedang jatuh cinta.
Ah, siapapun perempuan yang sudah berhasil membuat Bayu seperti sekarang, Julia sangat berterima kasih. Semoga dia bukan tempat persinggahan sementara seperti sebelum-sebelumnya, tapi selamanya. Sampai dirinya menua, semua keturunannya; cucu-cicitnya lahir ke dunia. Begitulah doa sang ibu.
Bayu sendiri bisa tidur nyenyak hari ini. Akhirnya dia bisa kembali merajut mimpinya bersama terkasih, meskipun harapan itu masih berada di awang-awang.
"Aku ingin hari cepat berganti. Supaya bisa lebih cepat menemuimu lagi," batinnya.
Hari pertama semenjak pertemuan mereka di desa sebelah masih terasa senyap. Hari kedua pun sama. Hari ketiga adalah sekarang. Bayu sudah harap-harap cemas. Dia takut wanita itu tak benar-benar menemuinya.
"Memangnya apa yang kau katakan padanya waktu itu?" tanya Kampleng saat mereka berada di Bengkel.
"Aku minta dia menemuiku," jawab Bayu.
"Salah!" balas Kampleng.
"Salahnya di mana?"
"Cewek itu sukanya di jemput. Bukan sebaliknya!"
"Tapi aku tinggalkan kartu namaku. Di situ sudah tertera nomor teleponku. Dia bisa menghubungiku kapan saja."
"Kalau gadis itu mau. Kalau tidak?"
Bayu menggaruk kepalanya. Dia merasa telah berbuat sedikit ceroboh. Harusnya dia jelaskan secara lengkap waktu itu.
__ADS_1
Ya, tapi gimana? Putri yang maunya cepat-cepat kabur membuatnya tak bisa berbicara banyak.
"Sekarang aku harus gimana?"
"Jalan satu-satunya ya tunggu aja."
Yah... apa tidak ada cara lainnya untuk bertemu lagi?
"Kamu bisa mengantarku ke sana lagi, Pleng?"
"Maaf ya, saya sibuk!" jawab Kampleng.
Yah... Bayu meredup kecewa. Wajahnya berubah jadi murung lagi. Seperti yang sudah-sudah, pasti Bayu akan melamun seharian setelah ini. Kampleng terbahak melihat wajah temannya itu. Bayu sangat mirip dengan anak ayam yang kecemplung air got.
"Tidak perlu, Pleng. Aku menunggu di sini saja," Bayu menolak.
"Dih, ngambek." Kampleng mencebik. Tawaran baiknya Bayu tolak mentah-mentah. "Hmmm begini, nih. Umur sama badan aja gedean. Otak mah masih bocah. Begini saja kamu marah, huuihhh!"
Bayu tak menanggapi. Dia sibuk dengan patah hati yang dia buat sendiri. Bayu menyesal sudah terlalu banyak berharap. Padahal dia sudah dikecewakan urusan cinta berkali-kali, tapi tidak kapok.
"Harusnya aku tidak usah jatuh cinta lagi," katanya setelah beberapa saat. "Karena aku pasti akan kecewa pada akhirnya."
"Sudahlah... jangan terlalu dipikirkan, Man!" Kampleng merangkul bahunya. "Ayo jangan menyerah! Perjuangkan kalau kamu benar-benar ingin memilikinya!" Kampleng menyiapkan motornya kemudian. Bersiap untuk mengantarkannya ke desa sebelah untuk mencari informasi sesungguhnya tentang gadis yang kemarin.
Agak aneh memang, Kampleng berpikir. Mungkinkah di dunia ini ada manusia yang kembar sama persis walaupun mereka tidak sekandung? Dan satu lagi, bukannya Putru itu jelmaan ....
__ADS_1
Ah, entahlah. Hanya Kampleng yang mengetahui semua perjalanan hidup temannya itu. Yang lain hanya tahu, bahwa Bayu memang pernah memiliki kekasih seperti dia. Tapi entah ke mana perginya karena hilang secara mendadak. Orang-orang mengira kalau Putri memang kabur karena Bayu tak bisa mencukupinya.
"Yuk, cabut!" ajak Kampleng saat motornya sudah cukup panas.
Namun baru saja naik, kedua pria itu melihat sepasang punggung kaki putih seorang gadis yang berdiri di hadapan mereka.
Kedua manusia itu mendongak. Dilihatnya dari bawah sampai atas. Yang tampak di hadapannya saat ini adalah orang yang hendak mereka cari ke sana.
"Kamu?" Lidah Bayu tiba-tiba kelu.
"Tadinya mau di cari ke desa sebelah, Mba," sahut Kampleng mematikan mesin motornya. "Kami udah mau berangkat tadi. Tapi berhubung kau sudah datang ya, kami batalkan." Kampleng menoleh kepada temannya yang masih menempel di motornya. "Hei, tunggu apalagi? Ayo turun!"
Bayu meringis menatapi perempuan itu. Dia belum tahu namanya. "Ehm, kita... kita ke mobil aja ya," ajaknya. "Maksudku, kita nggak mungkin bicara di sini kan?"
"Ke mana?" gadis itu menanggapi.
"Tempat yang lebih enak buat kencan," Bayu menjawab.
Gadis itu memutar bola matanya. Dasar laki-laki tukang modus! Bisa-bisanya dia bilang begitu di depan wanita yang belum di kenalnya! Dasar cowok sinting!
Kendati sebal, gadis ini tetap mengikuti Bayu masuk ke mobilnya. Duduk di samping kemudi.
"Semoga sukses ya, Bro!" seru Kampleng melambaikan tangannya.
"Ya!" Bayu tersenyum semringah. Dia pun mulai menyalakan mesin mobil. Menuju ke tempat tujuan yang dia inginkan.
__ADS_1