
Kesan aneh yang menempel pada tubuh Putri telah hilang seluruhnya. Putri adalah sosok manusia masa kini yang sama dengan lainnya. Mulai cara berpakaian, cara berpenampilan semuanya telah berubah. Sedikit tidak nyaman sebetulnya berpenampilan jauh berbeda dari biasanya. Tetapi ini sudah menjadi suatu keharusan agar Putri mampu beradaptasi dengan mereka. Meskipun ia tidak tahu, akan selamanya hidup seperti ini atau tidak nantinya. Untuk saat ini, Putri belum memikirkan bagaimana caranya bisa kembali ke masa lalu dan bisa menemui orang tuanya lagi. Orang tua yang teramat di rindukannya selama ribuan tahun. Ya, bukankah ribuan tahun?
Setelah Julia memungut seluruh rambut panjang hitam mengerikan yang baru saja dipotongnya, dia menuju ke kamarnya sendiri. Mendadak tubuhnya gemetaran saat membayangkan hal-hal yang berada di luar batas nalarnya. Segera Julia melepas cincin pemberian Putri dari tangannya. Apakah yang dibawa putranya ke rumah itu adalah sejenis manusia; sama seperti dirinya? Ataukah dia—hiii… hanya membayangkannya saja sudah membuat keseluruhan tubuhnya menggigil.
“Bayu, kau bawa pulang siapa sih? Astaghfirullahaladzim, Yu ….”
Selepas shalat dzuhur, Bayu terbangun. Saat membuka pintu kamar, orang yang pertamanya adalah Putri yang tengah tidur meringkuk di sofa. Kasihan sekali dia harus tertidur di tempat itu. Pasti rasanya tidak enak. Hidup Bayu terlalu seadanya sehingga tidak mempunyai kamar lain yang lebih layak ditempati. Alangkah baiknya jika pagi tadi ia mengalah saja. Lebih baik dirinya yang tidur di sana daripada perempuan itu yang harus berkorban.
Tapi aneh memang, untuk apa juga aku yang harus berkorban? Aku bukan kambing masa lebaran.
Namun Bayu mengulum senyum setelah melihat penampilan terbaru Putri. Rambutnya di gerai sepanjang bahu dan berponi. Dia juga terlihat semakin manis memakai baju rumahan milik Ibu yang berwarna merah jambu. Ternyata lebih bagus jika Putri yang mengenakan baju itu. Tak mungkin juga ia menyebut ibunya jelek hihihi ....
Kalau diperhatikan lamat-lamat, Putri adalah sosok perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Apabila dia adalah perumpamaan buah, dia adalah buah yang sedang matang-matangnya. Enak sekali untuk di makan. Ya, seperti itu kira-kira kata gantinya. Tak bisa dipungkiri bahwa wanita itu memang mempunyai daya tarik yang begitu tinggi. Hanya dalam sekali lihat saja, orang bisa langsung terpikat.
__ADS_1
“Put, Put ...,” ucapnya pelan. Makhluk aneh itu ternyata tertidur sangat pulas. Dan Bayu urung membangunkannya.
“Ssst! Ssst!” Ibu memanggilnya dari pintu tengah.
“Apa seperti itu cara memanggilku?” protes Bayu lalu mencibir.
“Protes sajalah kamu, ayo sini. Ibu mau bicara!” Julia membawa Bayu ke kamarnya. Lalu menutupnya rapat-rapat.
“Mau tanya dia?”
Bayu duduk di kasur yang tergeletak tanpa dipan itu. Lalu menggaruk kepalanya. “Mulai dari mana ya? Panjang ceritanya. Lagian Ibu juga sepertinya tidak akan percaya dengan ceritaku, Bu.”
“Cerita saja, kau dari mana semalam. Terus kenapa bisa ketemu sama dia. Aneh sekali pakaiannya. Cara ngomongnya juga aneh. Aneh semua.”
__ADS_1
Terlebih dahulu Bayu menghirup nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya, ia mulai menjelaskannya secara perlahan tentang kepergiannya kemarin malam. Tidak ada yang di tutup-tutupi olehnya yang malah dapat membuat Ibunya semakin bingung. Mulai dari keluar saat magrib, pergi ke bukit, lalu terperosok ke jurang dan akhirnya bertemu dengan gadis aneh itu.
“Terserah Ibu percaya atau tidak, dia memang jelmaan dari patung itu. Bayu sedikit percaya karena bentuknya sama.”
“Hanya saja yang membuat Bayu bingung, dia mengaku bernama Putri Roro Ageng, berasal dari suatu kerajaan. Putri menjadi patung karena dihukum. Dia berterima kasih, lantaran Bayu membuka kotak itu dan membuatnya akhirnya bisa terbebas dari hukuman. Tapi dia datang dari masa lalu, maka dari itu keseluruhan tubuhnya terlihat aneh. Putri pun merasakan sama seperti kita, Bu. Dunia yang sekarang begitu asing baginya.”
“Bayu sempat berpikir sama juga dengan Ibu. Bayu pikir, dia jelmaan iblis. Tapi ..., dia nyata.”
“Apa Bayu yakin akan membiarkannya tinggal di sini?” tanya Julia sedikit lebih tenang.
“Sekarang Bayu tanya, apa Ibu tega membiarkan Putri keluar dari rumah ini? Dunia ini kejam. Orang jahat banyak, tidak pandang bulu. Bayu takut ada orang yang menyakitinya.”
Julia menggeleng. “Ibu ingin punya anak perempuan sebetulnya. Apalagi cantik seperti itu. Mau lah, Yu. Mau sekali Ibu, Nak ….”
__ADS_1
“Yang penting kita bisa tutup identitasnya,” kata Bayu kemudian.