
Bayu terbangun dari tidurnya. Hari masih gelap saat ia mengedarkan pandangannya ke luar jendela. Suasana masih sangat sunyi selain suara-suara binatang kecil malam yang biasa mengerik-ngerik.
Bayu pun mengubah posisinya menjadi duduk. Dilihatnya sejenak Liana yang masih setia terlelap. Wanita yang sudah dinikahinya selama sebulan ini. Sedangkan tangannya terulur mengusap pekan kepalanya.
Bohong kalau Bayu tak sayang. Bayu menyayangi wanita ini yang sepenuhnya mencintainya. Dia adalah istri yang baik dan penurut. Selalu melayaninya dengan setulus hati. Baik di kesehariannya maupun di ranjang ini.
"Kalau lagi sunyi begini jadi ingat masa lalu," batinnya.
Tepatnya pada saat pertama kali dia melakukan perjalanannya ke alam lain yang dia rasa begitu nyata. Sayang, hawanya tak sesejuk dunia masa lalu. Sebab desa ini bukan lagi sebuah desa yang asri, hampir semua tanah kosong sudah mulai dipadati oleh rumah penduduk. Mungkin beberapa tahun lagi desa ini juga akan penuh. Gang akan semakin sempit. Udara menjadi panas dan desa bukan lagi desa seperti namanya, tapi akan menjadi kota yang sumuk. Dan di saat itulah dunia sudah tidak lagi baik-baik saja.
Mengingat tentang masa lalu, kali ini saat Bayu terbangun dari tidur panjangnya. Bayu pernah mendatangi Ki Adiwerna untuk mengembalikan keris. Namun hal yang mengejutkan, lelaki tua itu ternyata sudah tidak ada semenjak lama. Bahkan sebelum mereka datang. Hal itu diketahui oleh tetangga setempat. Orang bilang, tempat itu sekarang lumayan angker. Dan lagi, patung dan kotak besi yang ada di kamarnya pun hilang entah ke mana. Benar-benar hilang tanpa bekas.
Tapi tidak dengan kenangan yang tersimpan rapi di hatinya.
"Mas Bayu udah bangun?" suara serak Liana membuyarkan lamunannya. Sejak Liana sudah menjadi istri, dia mengubah panggilannya supaya terkesan lebih menghormati suaminya. "Harusnya kamu bangunin aku... kita kan harus mandi junub dulu," katanya lagi.
"Santai saja, Li. Toh kamar mandi ada di dalam," jawab Bayu tetap tenang.
"Kita mandi sama-sama, ya," Liana menawarkan, lalu mengecup bibir suaminya dengan penuh kehatian, seolah benda itu mudah sekali tergores. Dia memang pintar merayu suami.
Tidak baik menolak rezeki, begitu yang orang-orang bilang. Ah, semua lelaki memang seperti Bayu. Mereka tidak perlu memakai cinta untuk terus melakukannya.
Lagi pula tidak mungkin Bayu tak menyentuh istrinya sendiri. Apa kata Liana nanti?
__ADS_1
Bayu tak ingin disebut pria yang kurang waras karena tidak mau berhubungan badan dengan istrinya. Terlebih dengan kabar hom o dirinya yang sudah merebak ke mana-mana.
Tidak ada yang pergi dari rumah Bayu yang lama. Mereka tinggal satu atap bersama Julia. Hubungan menantu dan mertua itu sangat baik. Mereka selalu kompak mendukung Bayu di setiap langkahnya.
Pun dengan rumah tangga Bayu. Hubungan mereka sangat harmonis. Tidak sedikit pun pria itu menunjukkan keanehannya. Ah, Bayu memang pandai menjaga sebuah rahasia. Tak terlihat sedikit pun Bayu terlihat cela. Karena bagi Liana, Bayu adalah seorang suami yang sempurna yang sangat mencintai dirinya.
Bayu adalah perwujudan suami yang di idam-idamkan semua wanita. Tampan, mapan, baik, setia dan pintar memanjakan wanita. Bagaimana Liana tak semakin tergila-gila padanya?
Namun, tidak ada sebuah rumah tangga yang mulus tanpa coba. Dua tahun berlalu, sesuatu yang sangat mereka tunggu-tunggu tak juga hadir di antara mereka. Padahal, semua orang telah mengharapkan keturunannya. Terlebih Julia.
Meski tak sekalipun wanita tua itu mengatakan atau menunjukkan kekecewaannya secara terang-terangan, namun gelagatnya yang suka membawa bayi tetangga ke rumah jelas menjadi kode untuk mereka. Dan itu menyakitkan sekali bagi Liana. Terlebih dengan omongan tetangga kanan-kiri yang terus berdengung di setiap waktu. Membuat Liana tersiksa.
"Sepertinya kita harus ke dokter," kata Liana pada suatu hari kepada suaminya.
"Kamu yakin? Nggak stres nanti sama hasilnya?" Bayu menanggapi.
"Kalau yang mandul ternyata itu aku bagaimana?"
"Aku tetap setia mendampingimu sampai kapanpun," jawabnya tanpa ragu. "Tapi kalau ternyata yang mandul itu aku. Tolong lepaskan aku. Aku membebaskanmu menikah lagi."
"Kenapa begitu?" tanya Bayu.
"Karena keluarga perempuan akan menerima apapun keadaan suaminya, tapi keluarga laki-laki tidak, Mas. Apalagi kamu butuh keturunan yang bisa meneruskan usahamu."
__ADS_1
"Kamu terlalu jauh berpikir, Liana. Berdoalah! Semoga kekhawatiran kita selama ini salah."
"Aku juga berharap seperti itu."
Mereka pun menuju ke rumah sakit besar yang kini sudah semakin canggih. Tahun sekarang adalah tahun 2020. Di mana pada saat itu penyakit baru mulai merebak. Virus telah membunuh banyak sekali manusia di muka bumi.
Dan celakanya, bukan kesembuhan atau hasil baik yang mereka dapat. Sepulang mereka dari sana, Liana justru jatuh sakit. Dokter yang memeriksana menyatakan bahwa Liana terpapar virus mematikan itu. Yang kemungkinan memang ditularkan dari kawasan rumah sakit tersebut.
Bayu dan keluarga sangat shock. Mereka pikir penyakit itu hanya akan menimpa orang lain di luar sana. Tapi tak di sangka... malah menimpa keluarga mereka sendiri.
Bayu sendiri diharuskan isolasi mandiri karena telah banyak melakukan kontak fisik dengan pasien sebelumnya. Semua buntu saat melihat Liana terbaring di rumah sakit tanpa boleh ditemui oleh siapapun sampai dia benar-benar dinyatakan sembuh.
Anehnya, Liana tak kunjung sembuh. Penyakit asma bawaan yang di deritanya membuat keadaaan wanita itu semakin memburuk. Hingga tak lama dia dinyatakan meninggal dunia. Dia di makamkan sesuai protokol virus itu agar tak menularkan orang lain.
Dengan rasa sesal, Bayu baru bisa menghampirinya setelah dia di kuburkan. Tanpa dia bisa melihatnya terlebih dahulu.
Untuk ke sekian kalinya... Bayu merasakan patah hati yang teramat dalam. Bagai terlempar ke dalam jurang yang sangat curam. Dia kembali kehilangan orang yang teramat dia sayangi. Liana, istrinya sudah pergi sekarang. Dia sudah resmi seorang diri.
Meskipun belum ada cinta di hatinya, Bayu sama sekali tak pernah berpikir untuk berpisah dengan Liana. Liana adalah istri yang sangat baik. Tidak ada kekurangan dalam dirinya selama dua tahun mendampingi.
Bayu sangat kehilangan wanita itu. Berbagai kenangan terus menggerus akal sehatnya hingga dia merasa hampir gila.
Pada malam-malam yang panjang, dia selalu melihat langit yang terang. Bayu sangat menyayangkan hal ini. Mereka tidak pernah bisa lagi menatap langit yang sama.
__ADS_1
Dunianya sudah semakin sepi sendiri. Semakin terpuruk dan luka.
Kehilangan istri adalah sebuah kehancuran bagi seorang pria.