
Oh, jadi ini niatmu yang sebenarnya? Dasar begundal, manusia keji, tidak punya hati! Tuhan akan mematikanmu terlebih dahulu sebelum itu terjadi! Batin Bayu mengumpat. Pada saat itu juga ia langsung menemui Dayang yang tadi melayaninya untuk menyampaikan sesuatu.
“Iya, ada apa Raden?” jawab, Dayang setelah orang itu kini berada di hadapannya.
“Aku butuh bertemu dengan Roro, sekarang. Ini sangat penting.”
“Tapi Raden, Den Ayu sedang bersemedi sekarang, tidak bisa diganggu gugat, ini perintah khusus dari Prabu untuk Den ayu.”
“Tapi Dayang ...,” kata Bayu sangat memaksa. Sehingga terpaksa Dayang itu membawanya ke dalam Kaputren tempat Den Ayunya bersemedi. Namun malang—perempuan itu tidak meresponsnya berapa kali pun Bayu memanggil. Perempuan itu duduk dengan kaki ditekuk, mata terpejam dan tangan menyilang menutup telinga satu sama lain.
“Tidak ada yang bisa mengganggu semedinya. Kalau ada yang mengganggu, Maka Den ayu akan murka. Tolong Raden ... bersabarlah menunggu hingga besok pagi.”
Akhirnya—Bayu mengangguk dengan terpaksa. Malam itu Bayu tidak tidur karena terus memikirkan bagaimana caranya mengatakan hal ini kepada Putri dan membuat perempuan itu percaya. Oh, ya Tuhanku, ini rumit sekali. Kenapa ia bisa terjebak dalam dunia seperti ini? Ia seolah dituntut untuk masuk ke dalam cerita ini sehingga Putri bisa menyelesaikan masa lalunya.
__ADS_1
Pagi harinya sebelum matahari terbit, Bayu merasa ranjang bergerak. Dia sempat tersentak, lalu membuka matanya. Matanya langsung menangkap sosok cantik dengan rambut panjang terurai, tubuhnya sangat harum dibalut dengan pakaian tipis menerawang. Dan wanita cantik itu adalah Putri. Dia datang secara tiba-tiba dan langsung mengungkung Bayu di atasnya. Memeluknya dengan erat memilin.
“Aku merindukanmu,” kata Putri.
“Apa arti pernikahan bagimu, Put?” tanya Bayu. “Apa artinya pernikahan bagimu jika pada malam pengantinnya malah memeluk pria lain?” ulangnya.
Putri menatapnya tak terbaca.
“Tolong katakan kau mencintaiku, Put. Ayo kita pergi dari sini. Kita hidup bersama, lanjutkan cerita hidupmu denganku.”
“Lalu untuk apa kau mempertahankanku di sini? Seharusnya kau biarkan aku pulang semenjak aku datang.”
“Karena aku ingin lebih lama melihatmu, Bayu.”
__ADS_1
“Tidak bisakah kau memikirkan perasaanku?”
“Iya, aku memikirkan perasaanmu. Sangat memikirkan perasaanmu.”
“Ada hal yang harus kau tahu.”
“Apa, apa yang ingin kau sampaikan?”
“Hanung mempunyai niat tidak baik, aku mendengarnya semalam. Kau memang disanjung pada awalnya. Tapi nanti mereka akan merebut kekuasaan dan menghancurkanmu. Aku bersungguh-sungguh mengucapkannya!” agar lebih meyakinkan lagi, bayu menambahkan, “Kalau perlu aku bersumpah.”
“Bayu!” tukas Roro Putri meninggi satu oktaf. “Aku tahu Pangeran Hanung memang mempunyai perilaku yang kurang baik. Tetapi dia tidak mungkin mempunyai niat sejahat itu. Aku tahu kau kecewa karena pengorbananmu sia-sia. Tapi tolong jangan fitnah orang lain!”
Baru sekali ini Bayu melihat Roro meninggikan suara di hadapannya. Benar dugaannya bahwa Roro memang tidak mempercayainya.
__ADS_1
Bayu tersenyum kecut, “Ah, siapa aku, Put. Aku hanya rakyat jelata, tak mempunyai apa-apa bila dibandingkan denganmu. Tampangku tampak miskin dan memang kurang meyakinkan. Jadi sah-sah saja bila kau memang tidak mempercayaiku.” Ada jeda sebelum Bayu melanjutkan lagi kata-katanya. Sementara Putri masih terbaring membelakangi. Dia menyimak setiap kata-kata yang Bayu ucapkan. “Aku tidak perlu mengatakannya sampai dua kali agar kau percaya. Karena itu bukan urusanku. Kelak buktilah yang akan membuka matamu. Dan jika kau menginginkan aku untuk menghadiri pernikahanmu, akan aku turuti. Besok aku akan menyaksikannya. Tapi ingat, aku juga tidak akan pernah kembali setelah itu.”
“Bayu ...,” ucap Putri lantas memeluknya dengan penuh perasaan. Bayu membiarkan perempuan itu terisak di dadanya. Tidak ada kesempatan lagi selain ini. Hanya menunggu hitungan jam, hingga akhirnya sentuhan ini akan diharamkan atas segala-galanya.