Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Lamaran Kedua


__ADS_3

Karena berangkat sore, ketiganya sampai pada tengah malam. Namun karena dirasa tak elok bertamu di waktu-waktu seperti ini, akhirnya Bayu memutuskan untuk mencari tempat penginapan terdekat.


"Loh? Nggak tidur di rumahku aja, Mas, Bu?" tawar Dewi.


"Jangan, Nak. Bukan begitu cara kami melamar..." Julia yang menjawab. "Lagi pula kami juga belum ada persiapan khusus."


"Tidak perlu membawa apa-apa, Bu. Nggak ada pula yang mau makan," kata Dewi dengan polosnya. Dia tidak tahu konsep melamar itu seperti apa.


"Jangan begitu, Wi. Kami datang dari jauh. Biar kami mencari sesuatu dulu besok untuk tambahan oleh-oleh," sahut Bayu. "Ini pertama kalinya aku dan Ibu bertemu dengan ayahmu. Kami pun ingin mendapatkan kesan baik dari kalian."


"Oh... ya sudah kalau begitu," kata Dewi akhirnya melepaskan.


"Aku antar kamu sampai di sini saja, ya."


"Iya Mas Bayu. Makasih sudah di antar jauh-jauh."


"Sama-sama."


Dewi turun membawa barangnya serta. Tangannya melambai saat mobil akan menjauh. "Sampai ketemu besok."


Bayu menunjukkan kedua jarinya membentuk tanda cinta. Julia hanya senyum-senyum dan geleng kepala melihat kedua anak muda itu. Dasar!

__ADS_1


***


Sesuai rencana keesokan harinya Bayu dan Julia terlebih dahulu berbelanja di salah satu Mall terdekat. Pergi secara dadakan membuat mereka tak mempunyai persiapan apapun. Beruntung di zaman sekarang, apa-apa mudah dicari. Tempatnya pun dekat dan lengkap. Jadi tidak ada yang susah bagi mereka mendapatkan apa yang dibutuhkan.


"Kerudung, sajadah, gamis, semuanya sudah?" tanya Julia ketika wanita paruh baya itu menuju ke kasir.


"Sudah," jawab Bayu menunjukkan semua barang-barang di tangannya. "Kita cuma kurang skincare."


"Coba tanya Dewi suka pakai produk apa. Nanti bisa bantu Mbak-Mbak ini untuk carikan."


Bayu mengangguk. Dia pun menghubungi Dewi yang tak lama mengangkat sambungan teleponnya.


"Emang harus ya? Punya aku di rumah juga masih banyak," jawab Dewi yang Bayu maksud sedang menolak.


"Hmm ya udah deh." Dewi menyebut merknya.


"Udah itu aja? Ada lagi yang mau kamu beli biar sekalian?"


"Nggak, udah Mas Bayu. Jangan repot-repot. Kalian mau datang ke sini saja aku udah senang."


"Hussh, sudah. Ini udah kewajibanku. Sampai ketemu di rumah." Bayu menutup teleponnya.

__ADS_1


Mereka pun membayar ke kasir, lalu pergi ke tempat pengemasan parsel. Semua barang yang dibelinya itu di tata sedemikian rupa di atas kotak. Di bentuk menjadi seserahan yang indah.


Setelah selesai, barulah dia menuju ke rumah Dewi dengan membawa RT setempat untuk ikut mendampinginya dan meramaikan acara.


Mobil Bayu tiba di depan rumah dua lantai yang berdiri cukup megah. Apabila semalam dia lihat dalam keadaan gelap, kini dapat dia lihat secara terang. Rumah Dewi ternyata bukan cuma cantik dan asri, tapi juga mempunyai halaman yang sangat luas dan bisa dibuat main bola.


"Bagusnya rumahnya lagi, Yu. Ibu mau jugalah dibangunkan yang seperti ini," kata Julia.


"Gampang itu mah, tinggal hubungi arsitektur aja nanti," Bayu menanggapi.


Keduanya turun berdampingan. Orang-orang Pak RT membantu menurunkan seserahannya. Suasana dalam rumah Dewi terdengar ramai. Tak disangka, mereka juga telah membuat persiapan untuk melalukan penyambutan kedatangannya. Beruntung Bayu nggak malu-maluin dengan membawa oleh-oleh yang cukup banyak dan mewah. Kalau tidak, dia tak yakin keluarga Dewi dan orang-orang di sini memandang rendah dirinya yang hanya datang berdua saja.


"Assalamualaikum..." Bayu dan orang-orang di belakangnya mengucapkan salam secara bersamaan.


Hingga tak berapa lama, Tuan rumah pun keluar menjawab salam dan menyambutnya.


Namun lagi-lagi, ada hal yang membuat Bayu sangat terkejut. Sangat-sangat terkejut.


Sebab yang dilihatnya kali ini bukan hanya Dewi yang sangat mirip dengan Putri, tetapi ayah Dewi yang juga sangat mirip dengan Prabu Dharmawangsa. Raja yang dia temui di dalam mimpi.


Bukankah demikian adalah hal yang sangat aneh?

__ADS_1


Kalau hanya kebetulan, kenapa semua terjadi secara berturut-turut? Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan masa lalunya itu?


Ya Tuhan... Bayu hampir tak bisa membedakan mana dunia gaib dan nyata. Dia pun menduga, apa ia sudah gila?


__ADS_2