
Tak terasa, tugas negara sudah selesai. Kini sudah waktunya Dewi kembali ke kota asal terlebih dahulu, sebelum kembali lagi ke kota ini untuk menyelesaikan pendidikannya yang hanya kurang beberapa semester lagi.
"Pamitan dulu sama Mas Bayu nggak, ya?" gumam gadis itu. "Tapi kalau nggak pamitan nggak enak. Dia sama ibunya udah banyak bantuin aku."
Tanpa berpikir panjang, akhirnya Dewi pun menuju ke rumah Bayu. Di sana dia di sambut sangat istimewa. Julia benar-benar menganggapnya layaknya anak sendiri. Dewi jadi nelangsa. Dia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun karena ibu kandungnya sudah tiada.
"Jangan lama-lama pergi ke kotanya ya, Nak... cepat balik ke sini. Kabari Bayu terus," ucap Julia di tengah-tengah obrolan mereka. Tak hanya itu, wanita itu juga memberikan wejangan-wejangan untuk anak gadis ini yang sudah tidak ada lagi ibunya. Agar dia tidak kehilangan arah.
"Iya, Bu. Doain Dewi selamat sampai tujuan, ya?"
"Itu pasti, Nak." Julia mengusap rambut anak gadis ini dengan penuh kasih sayang.
Sementara Bayu sendiri baru saja keluar kamar. Entah terkena angin apa, pria tampan itu berpenampilan sangat keren. Seperti orang yang hendak pergi keluar rumah, sehingga menimbulkan pertanyaan dari ibunya.
"Mau ke mana kamu sore-sore begini, Yu?"
"Aku mau ngantar Dewi, Bu. Apakah boleh?" jawab Bayu.
Dewi seketika menganga.
"Kenapa nggak boleh? Toh kamu juga sudah siap-siap. Tapi apa Dewinya mau? Dia kan perginya sama teman-temannya."
__ADS_1
"Ajak jugalah temannya. Mobilku masih muat tiga orang lagi."
"Eh, serius?" sahut Dewi.
"Dua rius malah." Bayu sangat bersemangat. "Aku ingin menemui ayahmu di sana."
Julia yang mendengarnya lantas tersenyum. Berbeda dengan Dewi yang masih saja terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Mau ketemu Ayah?" Dewi mengulang.
"Ya, aku mau bicara serius sama beliau. Aku ingin melamarmu," kata Bayu lagi to the point.
"Yu, kamu nggak mau bicara dulu sama aku soal ini?" Dewi bertanya. "Kamu belum tahu asal-usulku. Lagi pula, aku juga butuh pertimbangan."
"Dewi, aku melamarmu bukan karena kamu mirip orang yang hadir di masa lalu. Meskipun pada awalnya aku mengira kamu adalah 'dia', tapi setelah kuamati, kalian adalah orang yang berbeda. Dia seperti ini dan kamu seperti itu. Dan lambat laun perasaan itu hadir untukmu. Percayalah, aku tidak sedang membual. Aku benar-benar tulus ingin menikahimu."
"Tapi... tapi aku masih kuliah."
"Lanjutkan saja kuliahmu sampai selesai. Aku yang akan membiayai semuanya. Menanggungjawabi kebutuhamu. Lanjutkan saja cita-citamu, Wi. Aku tidak akan menghalanginya."
Julia merangkul bahu Dewi. "Kalau sudah begini caranya sih, sepertinya Ibu harus ikut ke Jakarta."
__ADS_1
Dewi tersenyum. Dia terlalu bingung harus bagaimana. Tetapi yang jelas, perasaan cinta yang kemarin samar-samar kepada pria ini, kini menjadi semakin terang-benderang. Dewi menyukainya dan ingin menjadi istrinya. Tidak apa-apa duda, dia tampan, mapan dan kaya. Dewi tidak perlu lagi bersusah-payah mencari kerja. Bayu akan membahagiakannya dan mencukupi kebutuhannya. Ini adalah keinginan semua perempuan. Dewi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Baiklah. Aku terima lamaranmu, Mas Bayu. Semoga nanti kau berhasil meyakinkan ayah," jawab Dewi akhirnya yang membuat Bayu sontak bahagia dan bernapas lega.
Tinggal satu benteng lagi, pikirnya. Dia berharap bisa melewatinya dengan mudah.
"Apa ayahmu galak?" tanya Bayu.
"Ya, lumayan. Tapi beliau baik kok," jawab Dewi.
"Ayo, Bu... siap-siap!" titah Bayu.
"Akhirnya Ibu mau punya menantu lagi..." saking senang dan bersyukurnya, Julia sampai berurai air mata.
Dewi memeluk wanita yang berada di sampingnya. "Dewi janji jadi menantu yang baik. Dewi akan menganggap Ibu seperti Ibuku sendiri sebagai ganti beliau yang tidak sempat Dewi berbakti."
"Iya, Nak. Semoga kita selalu akur, ya?"
Dewi mengangguk dalam pelukannya.
Bayu terharu dengan pemandangan itu. Pemandangan yang sudah di bayangkannya ratusan kali di dalam benaknya, kini menjadi sebuah kenyataan. Dia harus berterima kasih kepada Tuhan yang sudah berbaik hati, mengiriminya kembali kekasihnya yang sempat hilang.
__ADS_1